Sudah sejak kamis malam tidurku gelisah. Tanggal tua memang, tapi bukan itu. Jumat pagi besok aku berencana ikut teman-teman komunitas bike to work mengantar juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng ke kantornya di Bina Graha. Tentu saja dengan menggenjot sepeda.
Setelah semua persiapan sejak malam dipersiapkan, pagi itu akhirnya datang juga. Istriku masih terkantuk-kantuk, tapi dia dengan setia menyiapkan aku segelas teh panas dan lontong buat sarapan. Kulahap lontong itu. Hmm rasanya sungguh lezat.
Waktu menunjuk pukul 05.45, aku bergegas. Maklum, aku harus sampai di Pancoran sekitar pukul 06.30. Setelah mengecek semua kelengkapan sepeda, akhirnya kukayuh Apache-ku.
Bayanganku saat itu, hari masih pagi berarti jalan masih relatif sepi. Jalur ke arah Pancoran belum pernah aku lalui sebelumnya. Selama ini aku lewat jalur Kemang yang relatif sangat sepi meski hari sudah siang.
Ternyata bayanganku salah. Di jalan raya, motor berlarian amat kencang. Metromini dan Kopaja sudah mengepul-ngepulkan asap hitamnya. Belum lagi mobil-mobil pribadi yang berseliweran mengantar anak-anak ke sekolah. Ah….
Kaget, sungguh, aku tak menyangka pagi di Jakarta sungguh berat. Tak ada keindahan puisi dengan langit biru yang terang dan udara yang sejuk. Semua sumpek. Ya, pagi di Jakarta memang tak seindah puisi. Dia kejam!
Sepeda kukayuh dengan kecepatan standar. Sampai di Kalibata aku bertemu dengan dua anggota bike to work lainnya. Kami bertiga akhirnya berkonvoi menuju Pancoran. Sayang, teman kami yang satu orang, harus langsung ke kantornya di kawasan Menara Mulia.
Tinggallah aku berdua dengan Om Yudi, teman baruku. Ternyata rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku. Setelah berbincang ke sana kemari satu per satu teman yang lain datang.
Tinggal menunggu rombongan Andi Mallareng dari arah Cawang. Setelah kelihatan dari jauh, aku langsung ikut konvoi yang cukup besar itu. Waah, inilah konvoi kedua setelah aksi simpatik agustus lalu yang kuikuti.
Jalan di Jakarta terutama jalur protokol yang tak ramah akhirnya kami lewati. Kecepatan Andi Mallarangeng ternyata boleh juga. Hingga akhirnya kami sampai di kantor sekretariat negara. Cukup banyak juga yang kumpul. Ah senangnya hati ini, punya banyak teman yang bervisi sama, menyelamatkan lingkungan ini demi masa depan kelak.
Pagi di jakarta sungguh tak seindah puisi tapi bersama teman-teman kekecewaan itu terobati.
velbak–november 2006

Komentar Terakhir