“Aku ingin menangis, tertawa dan marah sekarang.” Selarik pesan pendek itu Denok kirimkan pada Suryo sahabat dekatnya. Hari itu, perasaan Denok bagai diaduk-aduk. “Menangis ya menangis, tertawa jangan sendiri, kalau marah jangan ke aku.” Suryo membalas pesan itu.
Denok paham sahabatnya itu mencoba menghiburnya. Tapi kegundahan yang menggumpal di hatinya bagai tak bisa mencerna hiburan tadi. Sudah tujuh kali 24 jam hatinya merintih. Tiap malam matanya sulit terpejam. “Aku tak sedang jatuh cinta!” Denok meronta-ronta.
Lalu pikiran itu tertumbuk pada wajah seorang pria. Dialah yang mengganggu hati Denok berhari-hari. Kamera yang biasanya tajam dibidikkan, menjadi buram tak keruan. Tangan yang cekatan menulis jadi kelu. Seperti batu yang membeku.
“Aku tak sedang jatuh cinta!” Denok menutup-nutupi perasaannya. Tapi wajah pria itu terus muncul. Di hidangan mie rebus, di kaca rias, hingga layar komputer. “Apakah kau akan menutupi perasaan itu terus,” suara itu mengiang-ngiang. Suara dari pikiran yang mengganggunya saban pagi.
Denok tak bisa menampik hatinya. Tapi dia juga tak bisa mengelak fakta. “Bagaimana dengan suamiku?” Rindra, pria berkacamata itu sudah menemaninya selama hampir tujuh tahun. Denok sungguh cinta dengan suaminya itu. Dia pria yang tak pernah mengeluh, meski hingga kini rahim Denok tak bisa memberikan keturunan untuknya.
Dalam keadaan seperti ini Suryo memang orang yang tepat untuk diajak curhat. Selain tak banyak omong, Suryo paham betul masalah yang dihadapi Denok. Sayang, Denok tak seratus persen jujur jika ditanya mengenai pria yang membuatnya gundah itu. “Lu nggak kenal ama dia,” katanya menyergah setiap ditanya siapa lelaki misterius itu.
Kalau sudah begini, Denok harus menghadapi masalahnya sendirian. Tiada yang paham jalan pikirannya yang terkadang ruwet. “Ini semua gara-gara pria sialan itu,” umpatnya tak berhenti.
Pria misterius itu dikenal Denok sudah lama. “Aku tak bisa menutupi perasaan ini. Aku mencintaimu.” Pesan pendek yang dikirimkan tengah malam oleh pria tadi membuatnya terjaga hingga fajar mengintai.
“Gue pingin nonjok dia, berani-beraninya dia bilang begitu,” kata Denok menggebu pada Suryo. “Butuh bantuan?” Suryo menimpali. Wajah Denok tak lagi menyemburatkan kegembiraan. Seperti beratus petaka yang memukul-mukul wajahnya.
Bantuan tak cuma dimintakan pada Suryo. Ardi temannya yang lain juga dikirimkan sinyal s.o.s oleh Denok. Tapi sinyal itu tak ditanggapi. “Jangan kayak anak kecil,” suara berat Ardi membuatnya tak berkutik. “Uh…..”
Kalau tidak karena Rana, nama pria misterius itu, Denok tentu tak kelimpungan seperti ini. Puisi-puisi yang sering dikirimkan Rana adalah obat ketika hati Denok terluka. Perhatiannya membuat bungah hari-harinya.
embun yang datang pagi itu
adalah engkau yang tertawa
yang kumintakan tiap pagi
agar terus datang menghampiri
Siapa bisa tahan dengan puisi-puisi itu. Puisi memabukkan yang hadir tak kenal waktu. “Untung mas Rindra selalu percaya ama gue,” katanya pada Suryo.
Malam terus bergelayut. Denok belum juga paham, apakah ia terpaut atau mengelak karena takut? Apakah puisi-puisi yang menyerbunya saban malam adalah sebuah serangan terencana seperti Amerika saat menggempur Irak. “Aku tak mau lantak!”
“Kita melihat bintang-bintang aja yuk? Aku ingin bercerita pada bintang, tentang kisah yang tak kupahami ini.” Dia meminta Suryo mengiyakan ajakannya. Suryo mengikuti kemauan Denok. Langkah diarahkan, pada sebuah lapang yang gelap.
Dua orang sahabat itu duduk menengadah. Lelah didera perasaan, suara Denok melengking. “Aku tak sedang jatuh cinta!”
velbak
januari 2007

0 Tanggapan ke “Aku Tak Sedang Jatuh Cinta”