Arsip untuk Februari, 2007

kembang tahu

Suatu pagi saat kaki ini mengayuh sepeda menuju ke kantor, ada suara khas yang mengingatkanku pada seseorang. Bunyi nampan yang dipukul kayu kecil itu nyaring. Suaranya menggema. Pikulannya pun khas, dua panci yang ditaut sebilah bambu.

Tulisan kembang tahu warna oranye hampir tak terlihat. Ya, nama makanan ini kembang tahu. Makanan yang diolah dari kedelai ini sudah jarang dilihat. Mencarinya juga sedikit susah. Warna putih mirip-mirip tahu itu diiris tipis-tipis memenuhi mangkuk kecil. Setelah itu, diguyurlah air jahe dicampur gula jawa. Rasanya mak nyuss…….rasanya leher dan tubuh disiram kehangatan.

Harganya kini sekitar Rp 4.000 semangkuk. Tapi untuk pelepas dahaga dan penambah semangat nggenjot, kembang tahu boleh lah. Tapi tetap saja, ada perasaan yang tak pernah bisa hilang saat menyantap kembang tahu.  Ingatan tentang seorang teman yang kini jauh.

Kembang tahu adalah makanan favoritnya. Ah, seandainya saja kita masih bisa menyantap kembang tahu itu bersama……..

apa kabarmu?

Pak Hatta, mbok ya sampeyan yang mundur!!

Duh, lega juga akhirnya tanggal 27 tiba. Itu artinya pundi-pundi atm sudah terisi kembali. Tapi tetap saja hati masih nyesek ketika mendengar berita Menteri Perhubungan Hatta Radjasa mencopot dua bawahannya, Dirjen Perhubungan Udara dan Perhubungan Laut karena banyaknya kecelekaan transportasi belakangan.

“Kenapa mesti nyalahin anak buah?” pesan pendek dari seorang teman terlihat berang. “Seharusnya Hatta dong yang mundur…” lo..lo abis sarapan apa teman satu ini kok misuh-misuh begitu. Tapi saya pun sebetulnya yo marah juga. Lha wong Jenderal kok nyalahin anak buah. Kalo banyak terjadi kecelakaan bukannya harusnya sang pemimpin yang bertanggungjawab?

Nyawa di republik ini memang amat murah. Belum lagi ketahuan dimana rimbanya seratusan penumpang Adam Air yang hilang di Sulawesi dan ratusan penumpang KM Senopati Nusantara yang tenggelam di perairan Mandalika, kita harus mendengar kabar sedih lagi, KM Levina I terbakar.

Puluhan korban harus meregang nyawa. Nyawa dua wartawan dan dua anggota polisi juga ikut melayang saat melakukan peliputan dan penyelidikan di bangkai kapal itu.

Seandainya saja bung Hatta mendengar jerit ratusan manusia saat harus menyelamatkan diri dari terbakarnya KM Levina, seandainya bung melihat bagaimana satu per satu korban yang lompat ke laut meregang nyawa, mungkin bung akan terpana. Ya, kelalaian yang anak buah bung Hatta lakukan di lapangan sungguh telah memakan banyak korban.

Kalau saudara Hatta Radjasa sadar bahwa begitu banyak pungutan liar yang dilakukan anak buah Anda di berbagai terminal darat, laut dan bahkan udara, seharusnya bung segera menindaknya bukan? Tapi Anda membiarkannya hingga nyawa terus melayang.

Sudahlah, apapun alasannya, kenapa juga tak segera mundur. Kami akan angkat topi salut pada Anda. Ingin berapa nyawa lagi melayang bung?

ini dia jawara oscar

“Coba tolong dicek ulang amplopnya?,” kata Martin Scorses saat filmnya diumumkan sebagai film terbaik dalam ajang Academy Award ke 76 Ahad malam waktu Amerika.

Martin disebut-sebut sebagai pembuat film terbaik Amerika tapi selama ini belum satupun Oscar diraihnya. Karena itu dia kaget bukan main saat menerima anugrah tertinggi insan film Amerika itu. “Banyak orang bertahun-tahun mendoakan saya mendapat ini,” katanya sumringah.

Gelar aktris terbaik tahun ini diperoleh Helen Mirren, yang berperan sebagai Ratu Elizabeth II di film The Queen.

Aktor terbaik diraih Forest Whitaker yang berperan sebagai diktator Uganda Idi Amin dalam film The Last King of Scotland.

Jennifer Hudson yang tak terpilih dalam American Idol, malah diganjar pemeran pembantu terbaik lewat perannya di film Dreamgirls. “Ya Tuhan, saya tak percaya ini. Lihat apa yang Tuhan bisa lakukan. Saya tak berpikir akan menang,” ujarnya histeris.

Untuk film berbahasa asing terbaik dimenangkan oleh film Jerman berjudul: “The Lives of Others” yang bercerita tentang seorang dramawan dan pacarnya yang aktris panggung dalam pengawan polisi di Berlin Timur pada 1980-an. Sutradara film ini Florian Henckel berterima kasih pada para aktornya dan pada rekannya Arnold Schwarzenegger, “karena telah mengajarkan saya kata-kata ‘aku tak bisa’ harus ditendang dari vokabulari saya,” katanya.

Babel yang banyak dijagokan orang, menang lewat komposer asal Argentinanya Gustavo Santaolala lewat komposisi musik terbaik. Little Miss Sunshine memenangkan original screenplay.

sumber: AP via thestar.com

Potret muram Bekasi

Sabtu lalu bersama kang Adek, saya menjelajah wilayah Bekasi Utara. Setelah sarapan BKI (Bubur kacang ijo), kami berdua akhirnya berangkat. “Kita ke Babelan aja,” kata kang Adek. Saya pikir ini adalah pengalaman pertama menggenjot ke arah Bekasi Utara. “Ok,” saya mengiyakan.

Sepeda mulai kami kayuh. Memasuki kawasan perumahan, jalan berlubang sudah menghadang. Sebuah papan pengumuman ajakan kali bersih terpampang di depan. Tapi lihatlah sungai yang sempit itu. Sampah berserakan dimana-mana. Ajakan tingal ajakan.

Mengayuh lebih jauh, jalan yang berlubang setia menemani kami. Seperti hujan yang turun sepanjang hari, setia menenami kayuhan kami. Spanduk-spanduk papan nama calon bupati bertebaran dimana-mana. Sebuah spanduk berbunyi: “Menjadikan Bekasi Cerdas” membuat saya tertawa geli. “Jadi selama ini belum toh…” kelakar saya pada kang Adek.

Calon bupati yang jumlahnya tujuh kalau tak salah, membuat saya bingung.  Apa tak terlalu banyak? Apa kursi bupati begitu empuk sehingga partai politik tak rela untuk saling berkoalisi dan berbagi suara? Ah, entahlah.

Jalan yang kami pilih menuju Babelan ternyata sungguh berlumpur. Sepeda saya terpaksa berhenti dan saya membopongnya menyeberang sungai. “Duh lumpur sialan,” umpat saya. Setelah membersihkan lumpur, akhirnya perjalanan dilanjutkan.

Kayuhan sepeda yang diiringi hujan rintik-rintik makin membuat suasana bertambah dingin. Tepat di jembatan kali Bekasi yang terlihat mengalir deras dan di sisi kiri kanan terlihat bekas amukan banjirnya, saya akhirnya mengalah pada hujan dan mengenakan jas hujan.

Perjalanan akhirnya memasuki jalan raya Babelan. Hmm saya teringat kisah teman saya, sejarawan Bekasi Ali Anwar begitu menggebu bercerita tentang tempat ini. Kawasan Babelan memang istimewa. Pasalnya ada ladang gas dan minyak bumi yang cukup luas di sini.

Tapi jangan tanya, sumber daya alam melimpah di sini tak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat. Rumah-rumah kumuh menghiasi jalanan, belum lagi anak-anak yang masih nyeker untuk pergi ke sekolah. Ironis. Bisa dibilang begitu.

Kami memilih jalan yang melewati api abadi alias kilang minyak dan gas milik pemerintah. Nah, jalan di sini meski kecil barulah mulus dan dicor. Selain jalanan yang sepi, pemandangan di tepi jalan sungguh asyik, sawah hijau membentang luas. Tapi saya berpikir, bagaimana penduduk yang ada di sekitar tempat ini melakukan aktifitas? karena tak ada angkutan yang lewat.

Akhirnya perjalanan tiba di PLTGU Muara Tawar. Dari sini kami menuju tempat pelelangan ikan. Sayang, hari itu sama sekali tak ada ikan yang dijual. “Cuacanya gak menentu, nelayan takut melaut,” kata seorang nelayan. Untuk mencapai jalan menuju pelelangan kita pun harus menggenjot dengan hati-hati, karena jalannya yang rusak.

Jorok. Itu mungkin kata yang paling tepat untuk pelabuhan nelayan ini. Pelabuhan nelayan seharusnya bisa menjadi tempat wisata juga, tapi tempat ini sungguh tak dikelola dengan baik.

Tepi pantai Bekasi memang sudah rusak. Kami sama sekali tak mendapatkan suasana pantai yang indah di sini. Hutan bakaunya rusak berat. Di sela-sela hutan bakau kami melihat sampah yang menumpuk, belum lagi di tepian pantai. Tapi anehnya banyak juga orang yang memancing. Hiihhh….aku jadi tambah tak ingin makan seafood.

Pulangnya kami menemukan pemandangan menarik. Beberapa orang mengerumuni orang berkaus dengan gambar salah satu calon bupati. Salah seorang diantara mereka tampak mencatat nama-nama. Kami berhenti di sebuah warung kopi. Seperti biasa, warung kopi adalah tempat yang tepat untuk membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan pemilihan kepala daerah.

“Bagi-bagi uang 50 ribu perak per orang,” kata seorang yang baru masuk ke warung kopi tadi. Rupanya beberapa kader dari calon bupati tampak asyik membagi-bagikan uang. Ah, sesuatu yang biasa. “Lurah saja abis 2 miliar kok pak,” kata bapak-bapak tadi. Dua M? hmmmm….kepalaku jadi pusing…..

Kami pulang menyusuri jalan yang lain dari jalan kami datang tadi. Dan….kami seperti berpetualang di pelosok. Jalan seperti ombak dan digenangi banyak air. Rusak berat. Bersepeda pun harus sangat ahli di sini.

Setelah sempat nyasar, kami pun menemukan jalan pulang. Hampir semua tubuh kami kotor, termasuk di Patrol Biru tunggangan saya. Menemukan tukang cuci steam yang lagi tidurpun saya bangunkan. “Bang tolong dong,” kataku. Sambil merem melek dia bingung, “Sepeda mas?”

Sepeda bersih. Aku mengayuh pulang ke rumah mertua di Kranji. Tubuh rasanya remuk. Seusai mandi, mata tak kuasa terpejam……..

ERP=Emang peRlu diPikirin

Pagi ini kesiangan mengayuh sepeda. Seperti biasa tukang isi angin buat banku, tanya, “Kesiangan mas?” Ya iyalah…la wong jalanan udah gak berbentuk, penuh ama mobil dan motor.

Kalau dipikir-pikir, sebetulnya mobil pribadi sangat mengambil peran dalam kemacetan dan polusi di Jakarta. Tadi saya coba menghitung, dalam kira-kira 1 kilometer jalan, isinya hampir semua mobil pribadi, bus umumnya bisa terhitung jari.

Lanjutkan membaca ‘ERP=Emang peRlu diPikirin’

Halaman Berikutnya »


Wajah

Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

Today’s Quote

"Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

Corong

logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

 

Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728