Sabtu lalu bersama kang Adek, saya menjelajah wilayah Bekasi Utara. Setelah sarapan BKI (Bubur kacang ijo), kami berdua akhirnya berangkat. “Kita ke Babelan aja,” kata kang Adek. Saya pikir ini adalah pengalaman pertama menggenjot ke arah Bekasi Utara. “Ok,” saya mengiyakan.
Sepeda mulai kami kayuh. Memasuki kawasan perumahan, jalan berlubang sudah menghadang. Sebuah papan pengumuman ajakan kali bersih terpampang di depan. Tapi lihatlah sungai yang sempit itu. Sampah berserakan dimana-mana. Ajakan tingal ajakan.
Mengayuh lebih jauh, jalan yang berlubang setia menemani kami. Seperti hujan yang turun sepanjang hari, setia menenami kayuhan kami. Spanduk-spanduk papan nama calon bupati bertebaran dimana-mana. Sebuah spanduk berbunyi: “Menjadikan Bekasi Cerdas” membuat saya tertawa geli. “Jadi selama ini belum toh…” kelakar saya pada kang Adek.
Calon bupati yang jumlahnya tujuh kalau tak salah, membuat saya bingung. Apa tak terlalu banyak? Apa kursi bupati begitu empuk sehingga partai politik tak rela untuk saling berkoalisi dan berbagi suara? Ah, entahlah.
Jalan yang kami pilih menuju Babelan ternyata sungguh berlumpur. Sepeda saya terpaksa berhenti dan saya membopongnya menyeberang sungai. “Duh lumpur sialan,” umpat saya. Setelah membersihkan lumpur, akhirnya perjalanan dilanjutkan.
Kayuhan sepeda yang diiringi hujan rintik-rintik makin membuat suasana bertambah dingin. Tepat di jembatan kali Bekasi yang terlihat mengalir deras dan di sisi kiri kanan terlihat bekas amukan banjirnya, saya akhirnya mengalah pada hujan dan mengenakan jas hujan.
Perjalanan akhirnya memasuki jalan raya Babelan. Hmm saya teringat kisah teman saya, sejarawan Bekasi Ali Anwar begitu menggebu bercerita tentang tempat ini. Kawasan Babelan memang istimewa. Pasalnya ada ladang gas dan minyak bumi yang cukup luas di sini.
Tapi jangan tanya, sumber daya alam melimpah di sini tak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat. Rumah-rumah kumuh menghiasi jalanan, belum lagi anak-anak yang masih nyeker untuk pergi ke sekolah. Ironis. Bisa dibilang begitu.
Kami memilih jalan yang melewati api abadi alias kilang minyak dan gas milik pemerintah. Nah, jalan di sini meski kecil barulah mulus dan dicor. Selain jalanan yang sepi, pemandangan di tepi jalan sungguh asyik, sawah hijau membentang luas. Tapi saya berpikir, bagaimana penduduk yang ada di sekitar tempat ini melakukan aktifitas? karena tak ada angkutan yang lewat.
Akhirnya perjalanan tiba di PLTGU Muara Tawar. Dari sini kami menuju tempat pelelangan ikan. Sayang, hari itu sama sekali tak ada ikan yang dijual. “Cuacanya gak menentu, nelayan takut melaut,” kata seorang nelayan. Untuk mencapai jalan menuju pelelangan kita pun harus menggenjot dengan hati-hati, karena jalannya yang rusak.
Jorok. Itu mungkin kata yang paling tepat untuk pelabuhan nelayan ini. Pelabuhan nelayan seharusnya bisa menjadi tempat wisata juga, tapi tempat ini sungguh tak dikelola dengan baik.
Tepi pantai Bekasi memang sudah rusak. Kami sama sekali tak mendapatkan suasana pantai yang indah di sini. Hutan bakaunya rusak berat. Di sela-sela hutan bakau kami melihat sampah yang menumpuk, belum lagi di tepian pantai. Tapi anehnya banyak juga orang yang memancing. Hiihhh….aku jadi tambah tak ingin makan seafood.
Pulangnya kami menemukan pemandangan menarik. Beberapa orang mengerumuni orang berkaus dengan gambar salah satu calon bupati. Salah seorang diantara mereka tampak mencatat nama-nama. Kami berhenti di sebuah warung kopi. Seperti biasa, warung kopi adalah tempat yang tepat untuk membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan pemilihan kepala daerah.
“Bagi-bagi uang 50 ribu perak per orang,” kata seorang yang baru masuk ke warung kopi tadi. Rupanya beberapa kader dari calon bupati tampak asyik membagi-bagikan uang. Ah, sesuatu yang biasa. “Lurah saja abis 2 miliar kok pak,” kata bapak-bapak tadi. Dua M? hmmmm….kepalaku jadi pusing…..
Kami pulang menyusuri jalan yang lain dari jalan kami datang tadi. Dan….kami seperti berpetualang di pelosok. Jalan seperti ombak dan digenangi banyak air. Rusak berat. Bersepeda pun harus sangat ahli di sini.
Setelah sempat nyasar, kami pun menemukan jalan pulang. Hampir semua tubuh kami kotor, termasuk di Patrol Biru tunggangan saya. Menemukan tukang cuci steam yang lagi tidurpun saya bangunkan. “Bang tolong dong,” kataku. Sambil merem melek dia bingung, “Sepeda mas?”
Sepeda bersih. Aku mengayuh pulang ke rumah mertua di Kranji. Tubuh rasanya remuk. Seusai mandi, mata tak kuasa terpejam……..

Komentar Terakhir