Duh, lega juga akhirnya tanggal 27 tiba. Itu artinya pundi-pundi atm sudah terisi kembali. Tapi tetap saja hati masih nyesek ketika mendengar berita Menteri Perhubungan Hatta Radjasa mencopot dua bawahannya, Dirjen Perhubungan Udara dan Perhubungan Laut karena banyaknya kecelekaan transportasi belakangan.
“Kenapa mesti nyalahin anak buah?” pesan pendek dari seorang teman terlihat berang. “Seharusnya Hatta dong yang mundur…” lo..lo abis sarapan apa teman satu ini kok misuh-misuh begitu. Tapi saya pun sebetulnya yo marah juga. Lha wong Jenderal kok nyalahin anak buah. Kalo banyak terjadi kecelakaan bukannya harusnya sang pemimpin yang bertanggungjawab?
Nyawa di republik ini memang amat murah. Belum lagi ketahuan dimana rimbanya seratusan penumpang Adam Air yang hilang di Sulawesi dan ratusan penumpang KM Senopati Nusantara yang tenggelam di perairan Mandalika, kita harus mendengar kabar sedih lagi, KM Levina I terbakar.
Puluhan korban harus meregang nyawa. Nyawa dua wartawan dan dua anggota polisi juga ikut melayang saat melakukan peliputan dan penyelidikan di bangkai kapal itu.
Seandainya saja bung Hatta mendengar jerit ratusan manusia saat harus menyelamatkan diri dari terbakarnya KM Levina, seandainya bung melihat bagaimana satu per satu korban yang lompat ke laut meregang nyawa, mungkin bung akan terpana. Ya, kelalaian yang anak buah bung Hatta lakukan di lapangan sungguh telah memakan banyak korban.
Kalau saudara Hatta Radjasa sadar bahwa begitu banyak pungutan liar yang dilakukan anak buah Anda di berbagai terminal darat, laut dan bahkan udara, seharusnya bung segera menindaknya bukan? Tapi Anda membiarkannya hingga nyawa terus melayang.
Sudahlah, apapun alasannya, kenapa juga tak segera mundur. Kami akan angkat topi salut pada Anda. Ingin berapa nyawa lagi melayang bung?

Komentar Terakhir