Arsip untuk Maret, 2007

bekasi – curug cigentis

Sabtu malam tidur gelisah. Azan Subuh sudah memanggil-manggil membuat saya cepat terbangun. Hari ini agendanya adalah bersepeda menuju Curug Cigentis di Karawang.

Saya sama sekali buta berapa kilometer perjalanan akan ditempuh. Yang pasti, Kang Adek, teman saya bersepeda, bilang cuma 40 km. Ah segitu mah mudah, pikir saya dalam hati. Perjalanan dimulai dari rumah Kang Adek di kawasan Bekasi Timur.

Lewat pohon asem, yang ternyata adalah tempat berkumpul para penggenjot sepeda di Bekasi kami bablas terus. Perjalanan mulai mencurigakan ketika kami tersasar di sekitar kawasan Nawit. Ini adalah kawasan favorit pesepeda di Bekasi.

Perjalanan sungguh berat karena medan yang kami tempuh sama sekali belum pernah kami jejaki. Peta yang kami bawa tak ada gunanya. Di lapangan, jarang sekali orang mengerti nama formal jalan yang ada di peta. Mereka hanya tahu nama-nama desa saja.

Meski nyasar saya menikmati betul pemandangan yang indah. Anehnya, ada seekor Elang terbang rendah menari-nari di atas kami. Saya terkesima dan bingung. Maklum daerah ini sama sekali jauh dari pegunungan. Sepengetahuan saya, Elang Jawa kini hanya ada di kawasan Taman Nasional Gede Pangrango dan Gunung Halimun.

Sambil menggenjot kami menikmati betul tarian sang Elang yang memutar-mutar mencari mangsa. Elang itu akhirnya cepat melesat di balik pepohonan rimbun dan hilang dari pandangan mata.

Sesampai di sebuah pasar bernama rawa taman keadaan sangat sepi. Kami hanya bertemu dengan beberapa pesepeda dari Cibinong. Perut yang lapar akhirnya kami isi. Perjalanan ternyata harus memutar balik.

Kami akhirnya menuju jalan raya Cikarang Cibarusah. Dari sini kami menuju ke pedalaman pelosok Bekasi. Tak dinyana, Bekasi ternyata punya dataran tinggi. Kami harus melewati tanjakan ngehe beberapa kali. Tenang dimana ada tanjakan pasti ada turunan. Begitu prinsip kami biar tak kelelahan.

Ternyata eh ternyata, turunannya tak kunjung kami temui. Entahlah saat itu kami berada di mana. Tujuannya saat itu adalah menuju Kali Cibeet untuk menyeberang menuju Karawang. Setelah tanya sana-sini akhirnya kami menemukan penyeberangan dengan perahu tambang. Tapi sebelumnya kami istirahat di sebuah warung. Saat itu cyclo sudah menunjukkan perjalanan mencapai 45 km.

Menyeberang sungai Cibeet kami dipandu dua anak-anak yang menjadi petugas penyeberangan. Salah seorangnya mengenakan kerudung, matanya terlihat coklat menerawang. Wajahnya terus menunduk. Saya kemudian bertanya, “Kamu masih sekolah?” “Udah berhenti,” jawabnya.

Pertanyaan tak saya lanjutkan. Saya sudah paham, uang pasti menjadi alasan mengapa ia tak sekolah lagi. Dia hanya lulusan SD. “Udah dua tahun gak sekolah, gak mungkin nerusin lagi,” kata dia dengan logat Sunda kental.

Pikiran saya langsung kacau bertumpuk-tumpuk. Bagaimana mungkin, tempat yang jaraknya hanya beberapa depa saja dari Jakarta saya masih mendengar ada anak tak meneruskan sekolah hanya karena uang! Ah….

Anak tadi sungguh tak bisa menyembunyikan kegembiraan saat saya beri coklat. Makanan yang mungkin selama ini belum pernah didapatnya. Malu-malu mereka terima tapi kami tahu tatapan matanya tak berbohong.

Perjalanan seharusnya berhenti di sini. Saatnya untuk kembali pulang. Tapi apa yang terjadi. Godaan untuk terus melanjutkan perjalanan ke Curug CIgentis di kawasan Gunung Sanggabuwana terus menerpa. “Tinggal sebentar lagi,” kata Kang Adek. Kami memang belum mendapat klimaks.

Demi mencapai klimaks itulah kami putuskan memreteli sepeda dan mengangkutnya dengan angkutan untuk sampai ke desa terakhir di Loji untuk naik ke Gunung Sanggabuwana. Gunung ini pula yang pernah membuat saya dan teman-teman tersasar saat treking beberapa tahun lalu.

Turun di loji, kami jadi tontonan orang satu pasar. Mereka tampak aneh melihat sepeda kami yang bisa dengan cepat dipasang. “Apa gak takut lepas pak?” tanya salah seorang diantara mereka.

Perjalanan terus kami lanjutkan naik. Satu demi satu tanjakan kami lewati. Hingga akhirnya napas ini harus putus karena menghadapi tanjakan super ngehe. Selain bebatuan yang besar-besar, tanjakannya cukup sulit untuk digenjot. Akhirnya sepeda kami tuntun…….

Kami tak sanggup lagi untuk membawa sepeda hingga ke pos penjagaan tiket air terjun. Sepeda kami titipkan di sebuah warung. Perjalanan kami lanjutkan tanpa sepeda. Bebas rasanya.

Akhirnya kami sampai juga di Curug Cigentis. Masih tersisa beberapa orang saja, maklum saat itu jam menunjuk pukul 16.00. Untungnya, mereka yang tersisa cantik-cantik hehehehe……ssst…..sst…..

Puas mengguyur tubuh di curug setinggi lebih dari 30 meter itu kami memutuskan turun. Sampai di warung, kami sempat mengudap makanan. Untuk terus lanjut ke bawah. Turunan……euy…..asyik…ajrut-ajrutan……

Kami mengejar waktu, untuk bisa menggapai angkutan di Loji. Apadaya, sampai di pangkalan semua mobil sudah tak mau lagi ke Karawang. Penyiksaan pun dimulai……..

Saya sadar kami harus terus menggenjot dan menggenjot untuk bisa sampai ke Karawang. Perjalanan ini sungguh terasa sangat jauh. Jalanan yang gelap gulita tanpa lampu penerangan jalan, hanya sinar dari lampu sepeda saya saja yang menyinari jalanan.

Putus asa seperti terus menghampiri. Rasanya tak sanggup lagi karena penduduk lokal saja mengatakan untuk mencapai karawang, jalan yang harus ditempuh masih sangat jauh. Duh Gusti…….

Muak……sungguh inilah bersepeda paling jauh dan memuakkan….perasaan itu terus menerus menggempur hati saya. Saat inilah emosi sudah tak terkontrol. Tapi saya sadar bahwa emosi seperti inilah yang biasanya membuat petualangan malah bisa berantakan. Akhirnya sekuat tenaga emosi itu saya redam.

Perjalanan sungguh masih panjang, karena tiba di jalan tol karawang lagi-lagi sudah tak ada bus yang lewat. Itu berarti kami harus menuju pusat kota Karawang. Alamak……..

Akhirnya setelah lelah tak terasa lagi bercampur emosi yang beraduk-aduk, kami tiba di lampu merah. Di sinilah tempat angkutan ke Bekasi ada. Alhamdulillah sepeda kami akhirnya bisa juga naik bus setelah didera kelelahan yang amat sangat.

Tiba di Bekasi, saya sudah tak merasakan capek lagi. Yang ada di otak saat itu adalah sampai di rumah, menyeruput air panas dan memakan semangkok makanan panas.

Benar saja, istri di rumah sudah menunggu dengan khawatir. Malam itu dia kelihatan tampak cantik. Apalagi dia ternyata menyiapkan semangkuk soto, persis dugaan saya. Setelah melahap makanan, air hangat menggerojogi tubuh. Rasanya semua lelah terbayar……

menanti hujan berhenti

lelah

dingin

kangen

duka tak henti

Hidup di negeri ini memang harus bisa menyimpan bergalon air mata. Hampir tiap hari kita disajikan berita duka: gempa yang melantak, gunung yang marah, kapal terbakar, pesawat hilang, pesawat terbakar, keluarga yang dibantai, dan masih banyak lagi.

Seorang teman bertanya, “besok ada berita duka apa lagi?” Hidup dan mati akhirnya menjadi teka-teki bahkan bisa jadi dibawa ke meja judi. Seperti ketika hendak naik ke atas pesawat, kapal atau bis kota, kita juga berjudi dengan nyawa.

Bahkan di sebuah milis ditulis, di sini setiap hendak naik pesawat, maka kita akan paham agama masing-masing penumpang. Karena saat hendak take off atau landing, biasanya rangkaian doa begitu keras mereka daraskan, bahkan hingga orang satu pesawat bisa terdengar.

Semoga saja deraan panjang ini berhenti. Lalu kita bisa tertawa lagi……

ini ngetes foto

tes…tes ini foto tes…..

foto ini tes

kopaja

naik kopaja pagi ini bikin mual hati. Bayangkan sepanjang perjalanan sopir tak pernah berhenti memaki. Sepertinya dia takut sekali rejekinya hilang karena bus kopaja lain ikut membuntuti.

Naik bus kota seperti kopaja memang makan hati. Hentakan yang membuat jantung seperti ingin berhenti belum lagi ocehan sang sopir yang membuat telinga sakit tak terperi.

Lalu sampai kapan transportasi dibenahi?

Halaman Berikutnya »


Wajah

Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

Today’s Quote

"Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

Corong

logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

 

Maret 2007
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031