Pagi-pagi saya sudah dikejutkan dengan kutipan Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil. Begini katanya: “Kalau Presiden aja diolok-olok mau dibawa kemana negeri ini?”
Sofyan rupanya gemas dengan tayangan acara Republik Mimpi yang tayang di Metro TV saban Minggu malam. Acara ini menampilkan presiden dan wakil presiden republik mimpi yang diperankan Butet Kertaredjasa dan Jarwo Kuat. Beberapa orang yang mirip dengan bekas presiden negeri ini juga ditampilkan. Mereka antara lain, Habudi, Megakarti, Gus Pur, dan Suharta.
Saya paling senang dengan Gus Pur. Menurut pandangan saya, dia sangat sempurna memerankan tokoh Gus Dur. Mulai dari gaya duduk, peci, hingga cara dia menjentik-jentikkan jarinya. Gaya bicaranya pun mirip. Tapi saya pernah membaca pernyataannya bahwa dia tak akan menonjolkan segi cacat fisik Gus Dur.
Mungkin Menteri Sofyan mesti berpikir ulang jika ingin mensomasi acara ini. Saya ndak ngerti apa latar belakang pak menteri gerah dengan parodi politik begini. Bukankah ini konsekuensi sebuah negeri demokratis?
Jadi pertanyaannya siapa sebenarnya yang tersinggung dengan acara ini? Apakah pak menteri sendiri? atau ada hasutan orang-orang yang tak suka acara ini?
Pak menteri terus terang, kalau Anda ingin bertindak seperti Departemen Penerangan zaman Orde Baru, saya akan menentangnya habis-habisan. Sudah nggak zaman main bredel-bredelan.
Bukankah pak menteri seharusnya galau dengan berbagai tayangan lain yang mutunya jauh lebih rendah dari parodi politik Republik Mimpi? Coba tengok, ada stasiun televisi yang mulai pagi sampai tengah malam menayangkan sinetron. Kalau sinetronnya mendidik bolehlah, tapi apa daya, selain menampilkan kekerasan, sinetron kita sama sekali tak mendidik.
Bukankah pak menteri lebih baik mensomasi acara-acara yang tak mendidik di televisi? Yang membuat bangsa ini terlena karena terus diberi mimpi lewat sinetron-sinetron itu?
Ah pak menteri, Anda tak tahu di tengah kehidupan yang kian sulit ini, kami butuh juga tersenyum. Acara Republik Mimpi memberi kami alternatif untuk tersenyum dengan cerdas. Tersenyum melihat bagaimana sebetulnya bangsa ini masih butuh kritik.
Kalaupun acara Republik Mimpi nantinya hanya tinggal kenangan. Ini berarti tak jauh beda dengan monolog Matinya Toekang Kritik yang sering Butet mainkan. Kini, kita betul-betul melihat matinya si toekang kritik.

Komentar Terakhir