Entah kenapa, hari ini saya teringat berbagai macam permainan yang pernah saya mainkan dulu waktu kecil. Kini, tak ada lagi anak-anak memainkannya.
Anak-anak berseragam sekolah dasar kini lebih senang menghabiskan waktu berjam-jam di depan play station, atau ikut nongkrong di mal. Buat yang punya duit, mereka lebih senang les piano atau menyanyi. Permainan anak-anak menjadi sesuatu yang langka di kota besar seperti Jakarta ini.
Di sudut-sudut kampung, yang tak menyisakan lagi tanah lapang, anak-anak tampak bingung hendak bermain apa. Energinya yang banyak akhirnya habis hanya untuk menonton televisi. Otak-otak mereka akhirnya dipenuhi adegan-adegan yang tak patut ditonton. Apalagi sinetron tentang anak di televisi nyaris tidak ada.
Anak-anak dalam sinetron televisi pun tampak tak pernah bahagia. Mereka adalah anak-anak yang teraniaya, selalu keluar air mata. Coba lihat, pernahkah peran anak-anak di televisi bermain-main lompat karet atau sekedar bermain congklak?
Mungkin daftar di bawah ini akan mengingatkan kita pada beberapa permainan saat masih kecil:
Gobak Sodor
Dalam beberapa daerah permainan ini bersalin-salin nama. Ada yang menyebutnya Galasin, Gala Asin dan sebagainya. Kabarnya gobak sodor adalah plesetan dari bahasa Inggris go bak the door. Yap permainan ini memang adalah permainan yang mengharuskan seseorang melewati pintu penghalang manusia untuk menuju finish di garis belakang.
Permainan gobak sodor membutuhkan sedikitnya delapan orang peserta yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok penjaga, kedua adalah kelompok penembus benteng. Kedua kelompok kemudian berundi jatah, siapa yang akan menjadi penjaga dan siapa yang akan menjadi penembus. Setelah ditentukan permainanpun bisa dimulai.
Oh ya, permainan ini membutuhkan tanah lapang, atau minimal jalan raya yang lengang. Tanah lapang ini kemudian diberi garis putih bujur sangkar. Di tengahnya ditarik garis lurus kemudian ada dua garis tambahan di tengah.
Orang pertama yang melewati garis pertama harus menghindari penjaga di garis awal. Nah, kalau tertangkap itu berarti kelompok tersebut gagal, mereka kemudian akan menjadi kelompok penjaga. Begitu seterusnya.
Buat saya, permainan ini mempunyai makna kebersamaan yang dalam. Dalam sebuah kelompok, mereka akan berusaha sekuat tenaga agar lawan tidak masuk ke dalam benteng mereka. Permainan ini membutuhkan tenaga yang kuat karena harus berlari kian kemari dan membangunkan nalar anak tentang strategi.
Kepemimpinan juga dibutuhkan dalam permainan ini. Karena biasanya penjaga yang di tengah akan menginstruksikan bagaimana agar lawan tidak bisa menembus benteng pertahanan. Selain tubuh yang sehat, anak-anak akan memiliki insting yang tajam untuk menelaah gerak-gerik lawan permainan mereka.
Gatrik
Selain dikenal sebagai gatrik, beberapa daerah juga mengenalnya sebagai permainan tak kadal dan benthikan. Permainan ini juga terdiri dari dua tim. Menggunakan alat bantu berupa dua bilah bambu yang dibuat panjang dan pendek. Bambu panjang dibuat sebagai alat pemukul sementara yang kecil menjadi obyek yang dipukul.
Kelompok pertama akan menjadi kelompok pemukul dan kelompok kedua yang akan menangkap arah pukulan. Ada beberapa tahapan dalam permainan gatrik. Tahap pertama adalah bilah bambu yang lebih kecil diletakkan di antara dua batu bata secara horisontal. Bambu ini kemudian diangkat sekencang-kencangnya dan harus lolos dari tangkapan lawan.
Jika sudah melewati tahap ini, tahap kedua adalah memukul bilah bambu dengan meletakkan bambu yang lebih kecil di atas batu bata secara vertikal. Pukulan yang kencang akan membuat kelompok penjaga kewalahan dan berusaha mendapatkannya. Nah di sinilah keahlian memukul diperlukan. Karena jika meleset maka akan diteruskan dengan orang berikutnya. Jika kelompok lawan luput menangkap, maka kelompok lawan akan mendapat hukuman dari kelompok pemukul. Biasanya hukumannya berupa menggendong kelompok pemukul dengan cara menghitung jarak pukulan terakhir dengan jengkal jari.
Keceriaan akan muncul saat kita gendong menggendong ini. Karena kelompok yang kalah akan dibuat kelelahan. Apalagi jika yang digendong ada yang berbadan subur.
Benteng
Nama lainnya adalah bentengan. Permainan ini terdiri dari dua kelompok yang saling mempertahankan benteng (biasanya berupa tiang listrik) dari serbuan lawan.
Kedua kelompok akan saling berkejaran. Seseorang harus dibiarkan berada di benteng untuk menjaga agar benteng tak disentuh lawan. Keceriaan terpancar saat acara kejar mengejar ini. Biasanya diselingi juga dengan teknik saling mencegat dan saling beradu strategi mengalahkan lawan.
Dampu
Permainan ini menggunakan alat bantu berupa batu. Dikenal pula dengan nama Sorodot Gaplok. Kali ini yang aktif adalah kaki.Batu dilempar ke arah kotak-kotak yang dibuat dengan kapur. Kemudian kita melangkah dengan satu kaki sementara kaki yang lain diangkat dengan beban batu di atasnya.
Jika kita berhasil menyentuh garis akhir kemudian kita kembali ke garis awal tanpa menjatuhkan batu, kita akan dianggap menang.
Petak Umpet
Dalam bahasa Inggris permainan ini disebut Hide And Seek. Permainan ini bisa dimainkan minimal oleh tiga orang. Setelah mencari giliran dengan cara hompimpah maka yang kalah akan menjadi orang yang menutup mata untuk kemudian mencari teman-teman yang lain.
Orang yang mendapat giliran jaga akan menutup wajahnya. Kemudian dia menghitung sampai hitungan ke sepuluh. Sementara teman-teman yang lainnya akan mencari tempat sembunyi. Di sinilah anak dirangsang otaknya untuk mencari tempat-tempat yang sulit untuk ditemukan.
Petak Jongkok
Permainan ini bisa dilakukan dengan jumlah peserta minimal tiga orang. Seseorang akan mendapat tugas menjadi pengejar. Setelah dilakukan hompimpa yang bertugas mengejar akan berlarian mencari temannya yang dikejar dan jika berhasil menangkap temannya sebelum dia jongkok maka si pengejar akan bergantian dengan yang ditangkapnya tadi.
Congklak
Juga dikenal sebagai dakon, cungkak, atau Sungka. Permainan ini menggunakan alat dari kayu yang bagian tengahnya dilubangi menjadi masing-masing tujuh dan satu lubang besar di kiri dan kanan.
Di Jawa congklak dibuat sedemikian rupa misalnya saja bergambar naga. Di Jakarta congklak dibuat biasanya dengan plastik. Untuk memainkannya diperlukan biji yang biasanya berasal dari kulit kerang (keong) laut, tapi sekarang sudah banyak dibuat imitasinya.
Total biji yang diperlukan adalah 98. Pemain pertama akan membagikan biji tersebut ke dalam lubang satu per satu hingga yang ada di tangan kita habis. Demikian seterusnya. Tetapi lawan kita bisa mengambil biji milik kita jika biji kita jatuh tepat di kotak milik lawan.
Hari ini cukup itu dulu…saya masih akan menelusuri dan menuliskannya. Teman saya
Komentar Terakhir