hujan malam ini pertemukan kita dalam diam
ketika rintik dan riuhnya suara berpadu
kamu dan aku tak ingin bersatu
walau hanya mata
tak ada tanya
tak ada kata
aku bukan siapa-siapa
lupakah kau
bisukah kau
curahan hati seorang pengembara hati
hujan malam ini pertemukan kita dalam diam
ketika rintik dan riuhnya suara berpadu
kamu dan aku tak ingin bersatu
walau hanya mata
tak ada tanya
tak ada kata
aku bukan siapa-siapa
lupakah kau
bisukah kau

Jika Anda pernah mendengar sebuah ibukota tenggelam dan tak berdaya disengat nyamuk Aedes Aegepti, jawabannya sudah pasti: Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso kemarin baru saja mengumumkan kota ini mengalami kejadian luar biasa demam berdarah. Sudah 41 orang tewas karena gigitan nyamuk ini.
Ini ibu kota bung, yang seharusnya semua tertata dengan baik. Yang seharusnya fasilitas kesehatannya memadai. Bagaimana mungkin, ada nyawa melayang hanya karena telat terdeteksi demam berdarah? “Ibu kotanya pindahin aja,” teriak temanku di ujung telepon.
Di ibu kota ada Istana Presiden, menteri kesehatan juga berkantor di Jakarta, orang-orang berdasi sering berseliweran di sini. Tapi setakberdaya itukah kita menghadapi serangan nyamuk Aedes?
Saya jadi ingat pekan lalu ketika ada pengasapan di lingkungan rumah saya. Hanya, yang melakukan bukan aparat pemerintah. Melainkan dari partai berlambang banteng. Beberapa orang yang ikut pengasapan terlihat memakai kaus bergambar Fauzi Bowo, calon gubernur yang diusung partai itu.
Ah, entah kemana para petugas kesehatan. Mengapa mereka begitu lamban? Padahal Anggaran Daerah jumlahnya triliunan. Kemana saja mereka? Apakah sama tak berdayanya saat menghadapi banjir yang menerjang Jakarta Februari lalu?
Pagi itu rumah kami riuh. Para tetangga berkumpul. Rumah kami yang sempit ini jadi terlihat padat. Rumah kami, sebetulnya aku tak melihatnya sebagai rumah, hanya sebuah kamar yang usang. Atapnya sering bocor kala hujan. Cuma plastik berdebu yang menghalanginya. Matahari hanya datang mengintip saat pagi dan sore.
Sebuah terpal usang dipasang di gang depan rumah yang sempit. Semua warga terlihat gembira. Hari itu aku juga gembira. Entah karena apa. Tapi di sini kegembiraan memang tak pernah hilang. Keriuhan datang sepanjang waktu dari fajar hingga matahari terbenam.
Tapi hari ini keriuhan itu lain dari biasanya. Para tetangga seperti ingin menyambut tamu agung. Bedanya tak ada pesta atau tari-tarian dengan tetabuhan yang memekakkan telinga. Hanya ada Uwak yang selalu tersenyum, Kakak Indri yang dari tadi terlihat duduk di pojok sambil mengusap-usap air mata dan beberapa tetangga lain.
Aku, oh ya, namaku Fatima Azka, tapi orang lebih senang menyebutku Ima. Lebih indah dan enak di dengar kata mereka. Aku jarang sekali menengok birunya langit dan eloknya tarian burung camar yang terbang rendah di tepi pantai. Sejak kecil aku memang hanya duduk dan duduk di sebuah kursi usang dan apek. Kursi ini pula yang sekarang aku duduki di tengah keriuhan para tetangga.
Kakiku terasa kaku. Tanganku lemas tak berdaya. Jari-jari kakiku bengkok. Kekuatanku rapuh. Aku mulai merasakannya saat usiaku menginjak 9 bulan. Saat itu aku mulai merambat-rambat. Aku bahagia sekali, sesekali roboh aku bangkit lagi. Bapak selalu tersenyum menuntunku.
Tapi semua itu berakhir ketika mendadak tubuhku panas. Dokter bilang aku terkena meningitis. Orangtuaku yang hanya lulusan sekolah dasar juga tak paham istilah itu. Mereka hanya tahu, sejak saat itu aku lumpuh. Tak berdaya. Tapi kasih sayang bapak tak pernah pudar meski aku lumpuh.
Bapak, ah aku selalu mengingatnya. Pria bertubuh kekar berkulit legam itu selalu saja memberiku berbagai mainan kala sore menjelang. Dia sayang sekali padaku. “Biar kamu seperti ini, bapak selalu sayang padamu.” Bapak tak pernah malu memiliki anak seperti aku. Yang lunglai, tak bisa bergerak. Bapak selalu bilang senyumku selalu menentramkan hatinya.
Bapak seorang kuli pelabuhan. Hidupnya penuh dengan peluh. Otot-ototnya terasa begitu kuat saat mengangkat tubuhku. Aku selalu memukul-mukul dadanya yang bidang. Bapak membalasnya dengan cubitan sayangnya.
Aku tak tahu apa yang ada di benak bapak ketika dia harus hidup dengan anak-anaknya yang cacat. Kakak ku, Jamal, juga cacat. Dia malah harus selalu bergantung pada Ibu seumur hidupnya. Meski bapak tak punya apa-apa, dia selalu saja memberi kami kisah-kisah tentang pelaut-pelaut dari luar negeri yang sering ditemuinya di pelabuhan.
Seandainya saja aku sehat, aku ingin sekali menaklukkan laut. Aku ingin mengarunginya dan menjelajah dunia. Lalu bertemu dengan orang-orang di negeri lain sambil memberitahu betapa muramnya kampung kami. Kampung nelayan yang tak pernah lepas dari penderitaan.
Kisah-kisah itu menjadi cerita penghantar tidur paling cespleng dari bapak. Biasanya setelah bercerita dia mencium keningku. Ah, kini itu semua tinggal kenangan. Banjir besar yang menerjang kota ini merenggut nyawa bapak.
***
Malam itu petir menggelegar. Bapak mendekapku erat. Ibu memegang kak Jamal yang menjerit ketakutan. Hujan turun begitu deras. Rumah kami tak kuasa menahan air yang datang bak diruntuhkan dari langit. Bapak dengan nafas tersengal-sengal mencoba menutup kebocoran di sana-sini dengan plastik seadanya.
Aku tak pernah setakut ini. Aku tak ingin bapak menjauh dari aku. “Bapak harus membersihkan got di depan biar airnya lancar,” katanya. Di tengah hujan deras, bapak keluar mengais-ngais sampah yang menyumbat got.
Dari kejauhan aku mendengar suara batuknya yang seperti tersentak di sela-sela gelegar petir. Aku hanya duduk diam. Tetes-tetes air hujan mulai membasahi kursi apek berwarna coklat pudar yang aku duduki. Tubuhku menggigil dingin. Kemana aku akan berlari. Kakiku sama sekali tak bisa bergerak. Bapak sibuk membersihkan saluran. Ibu sibuk menenangkan kak Jamal yang ketakutan.
Aku tak tahu apakah ada doa yang bisa kuucapkan. Aku tak pernah belajar berdoa. Berbicara saja aku sulit. Tuhan juga menjadi angan-angan yang tak pernah bisa kugapai. Aku bahkan bingung mengapa Tuhan yang katanya maha kasih memberi cobaan yang amat berat buat keluarga kami. “Apakah Tuhan betul-betul ada?” Aku menggerutu dalam hati seperti yang aku lakukan saban hari.
Diam-diam dingin merambat di kakiku. Air mulai memasuki kamar usang ini. Wajahku tersenyum. Rasanya aku ingin berkecipak dalam air seperti yang dilakukan para tetangga-tetangga lain. Bapak kembali masuk ke dalam dengan mulut berlumuran darah. Aku menangis dengan air mata sederas hujan yang turun di luar.
Bersama beberapa tetangga bapak dan kami sekeluarga akhirnya mengungsi di kelurahan. Di sini ternyata sudah berhimpit ratusan manusia. Wajah-wajah iba dan putus asa terlihat di sekujur ruangan. Aku menatap satu per satu wajah-wajah muram itu. Ternyata Tuhan belum berpihak pada kami.
Bayi-bayi terlihat menangis menahan kantuk, dingin dan lapar. Petugas kelurahan berbaju coklat hilir mudik mencatat kami. “Untuk apa dicatat jika bantuan tak segera kau bagikan,” seorang bapak berteriak kecut. Petugas itu tetap mencatat. Mungkin cacian sudah biasa mampir ke telinganya di saat situasi seperti ini.
Hingga ia menghampiri aku. Tak ada pertanyaan terlontar dari mulutnya. Dia hanya mengamati aku. Memegangi kakiku, tanganku, wajahku. Tak ada satupun kata yang terlontar. Aku hanya tersenyum melihat apa yang dilakukannya. Kemudian dia menghampiri Bapak yang terlihat kelelahan.
“Berapa anak yang bapak bawa?” Pertanyaan standar itu meluncur dari pegawai tadi. “Dua dan Anda bisa lihat bagaimana keadaan kami,” tukas Bapak lirih. Setelah mencatat kemudian ia berlalu. Di sebuah pojok kami bertiga saling mendekap. Malam itu di luar guntur terdengar silih berganti.
Dinginnya lantai kelurahan membuat aku cepat terjaga. Aku lihat bapak gelisah. Beberapa kali batuknya terdengar berat. Petugas kelurahan rupanya cepat tanggap juga. Mereka membawa bapak ke rumah sakit. Sejak itu aku tak bertemu dengannya.
Sudah tiga hari kami hanya berdiam di kelurahan. Rumah kami masih tergenang. Beberapa diantara pengungsi mulai pulang. Mereka tak ingin harta bendanya hilang. Kami tetap di pengungsian. Tak ada yang dikhawatirkan ibu, karena di rumah memang kami tak memiliki apa-apa.
Berita itu datang mengagetkan. Seorang petugas tampak berbincang dengan ibu. Dia mengelus-elus pundak ibu yang sudah terlihat berat dengan beban itu. Aku perhatikan air matanya menetes deras. Tangis sudah biasa hadir di keluarga kami. Tapi ini tangis ibu yang tak biasa. Tubuhnya tampak mengejang.
Bapak terbujur kaku di depanku. Aku tak bisa bertanya pada siapa-siapa kenapa ia terbujur kaku. “Tuhan apakah engkau mengambil satu-satunya harapanku?” mataku menatap tajam langit-langit. Banyak orang bilang Tuhan ada di atas. Aku melihatnya, tapi apakah Dia melihatku aku tak tahu.
Hingga sekujur bapak dibalut kain putih aku tetap tersenyum. Bapak terlihat tenang. Aku senang karena dia tak lagi terlihat gelisah. Iring-iringan orang mengantar Bapak ke pembaringan terakhirnya. Dari kejauhan aku masih tetap tersenyum. Aku tak bisa menangis karena aku tak pernah diajarkan menangis oleh Bapak.
Aku tak paham mengapa banjir bisa mengambil orang tercinta yang aku miliki. Mengapa dia tak mengambil nyawaku saja. Nyawa yang sudah tak ada harganya. Hidupku hanya redup buat orang lain. Itulah yang aku rasakan belakangan. Ibu hanya termenung saban pagi. Wajahnya kian layu. Belum lagi dia harus mengurus Kak Jamal yang memang tak bisa apa-apa.
Aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak mengharapkan mujizat. Aku hanya ingin Ibu tak lagi layu. Selama 13 tahun hidupku, baru kali ini aku melihat wajah ibu padam. Sesekali kami diajak datang kembali ke kelurahan. Aku hanya diberi selembar kertas karton warna hijau. Ada bentuk-bentuk huruf yang tak pernah aku kenal.
Kertas karton itu diberikan begitu saja. Aku diminta memegang karton itu erat-erat. “Nah gitu kita demonstrasi,” kata Wak Jun tertawa lebar. Demonstrasi? Aku sama sekali tak tahu apa itu demonstrasi. Kami datang sambil berteriak-teriak. Aku dan kak Jamal dibawa di barisan paling depan.
Apakah ini sebuah eksploitasi kami orang-orang cacat. Aku tak paham. Aku hanya bisa terus tersenyum melihat tingkah polah ibu-ibu yang ikut demonstrasi ini. Ada yang memegang-megang panci sambil membunyikannya berkali-kali. Aku juga tertawa melihat rombongan topeng monyet yang ikut dibawa dalam iring-iringan ini.
Saat matahari tepat di ubun-ubun kami pulang. Aku digendong Wak Jun. Ibu terlihat berat menggendong kak Jamal. Bau lumpur yang menyeruap dari tanah-tanah kosong yang ada di sekeliling kampung kami begitu menyengat. Wak Jun berjalan setengah terhuyung diterpa terik matahari yang menyengat.
****
Satu per satu tamu menyambangi rumah kami. Beberapa kali mereka mendaratkan ciuman di wajahku. Aku tersenyum bahagia. Ada kasih dan ketulusan yang terasa dari ciuman mereka. Dari tangan mereka ibuku menerima begitu banyak buah tangan. Aku terus tersenyum. Baru kali ini aku melihat ibu bahagia.
Para tetangga satu per satu berkerumun di depan rumah yang sempit. Saking banyak tamu yang datang, mereka bergantian masuk ke tempat kami yang luasnya hanya seluas dapur-dapur orang berpunya.
Aku tak mengerti mengapa mereka begitu baik hari itu pada keluarga kami. Aku tetap terduduk lunglai. Hanya ada celetukan-celetukan para tetangga untukku. “Tuh kamu sekarang jadi terkenal,” katanya. Apakah seperti artis? Aku hanya tersenyum mendengar celotehan itu.
Hari makin siang saat dua orang terlihat turun dari becak yang membawanya. Seorang wanita mengenakan topi hitam yang sudah sedikit kumal. Seorang lagi pria dengan tas besar yang dicangklong di pundak.
Mereka bertanya padaku. “Kamu ingin jalan-jalan nonton dangdut?” Pertanyaan yang sering diajukan Wak Jun padaku. Aku cuma tersenyum lebar. Aku memang ingin sekali menonton pertunjukkan dangdut. Aku ingin menikmati suara para pelantunnya yang sering bergoyang seronok.
Wak Jun rupanya memberitahu keinginanku pada mereka. Sesaat kemudian mereka pamit. Tak ada yang mereka tinggalkan seperti tamu sebelumnya. Tapi mereka berjanji akan kembali membawa sesuatu yang bisa membuatku menonton dangdut.
Sore saat para tetamu sudah tak ada lagi. Sebuah mobil parkir di ujung gang. Suara-suara di luar rumah tampak gembira. Mereka berhamburan mendekati mobil itu. Dari dalamnya ada kotak kardus besar yang digotong beramai-ramai.
Setelah dibuka ternyata di dalamnya berisi kursi roda. Kursi yang selama ini kuidam-idamkan. Titik-titik air mengalir dari sisi mataku. Bahagia sekali saat itu. Kursi roda berwarna biru itu menjadi kursi baru yang bakal menemaniku kemana-mana.
Kedua kakak yang baik hati tadi membawa berkah yang tak kuduga-duga. Apakah mereka malaikat yang diturunkan Tuhan untuk ku? Jika benar, berarti Tuhan masih memperhatikan kami. Berarti dia mendengar keluhan-keluhan Bapak selama ini? Apakah karena Bapak sekarang sudah ada di surga?
Marunda, Maret 2007
Komentar Terakhir