
Jika Anda pernah mendengar sebuah ibukota tenggelam dan tak berdaya disengat nyamuk Aedes Aegepti, jawabannya sudah pasti: Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso kemarin baru saja mengumumkan kota ini mengalami kejadian luar biasa demam berdarah. Sudah 41 orang tewas karena gigitan nyamuk ini.
Ini ibu kota bung, yang seharusnya semua tertata dengan baik. Yang seharusnya fasilitas kesehatannya memadai. Bagaimana mungkin, ada nyawa melayang hanya karena telat terdeteksi demam berdarah? “Ibu kotanya pindahin aja,” teriak temanku di ujung telepon.
Di ibu kota ada Istana Presiden, menteri kesehatan juga berkantor di Jakarta, orang-orang berdasi sering berseliweran di sini. Tapi setakberdaya itukah kita menghadapi serangan nyamuk Aedes?
Saya jadi ingat pekan lalu ketika ada pengasapan di lingkungan rumah saya. Hanya, yang melakukan bukan aparat pemerintah. Melainkan dari partai berlambang banteng. Beberapa orang yang ikut pengasapan terlihat memakai kaus bergambar Fauzi Bowo, calon gubernur yang diusung partai itu.
Ah, entah kemana para petugas kesehatan. Mengapa mereka begitu lamban? Padahal Anggaran Daerah jumlahnya triliunan. Kemana saja mereka? Apakah sama tak berdayanya saat menghadapi banjir yang menerjang Jakarta Februari lalu?

Komentar Terakhir