Arsip untuk Mei, 2007

Meneguk Gedeh Mencicip Gasol

Jalan yang rusak membuat tubuh terhentak-hentak. Biar menumpang di mobil pribadi, tetap saja jalanan yang rusak menghajar habis kesabaran saya. Setelah hampir dua jam di perjalanan dari Jakarta, jalan menuju Perkebunan Teh Gedeh di Cianjur terasa amat berat. Penunjuk arah di muka jalan yang tertulis “Perkebunan Teh Gedeh 3 KM” terasa berbohong.

Tapi perjalanan yang berat terbayar ketika pemandangan kebun teh erhampar luas bak permadani hijau di depan mata. Bersama rombongan komunitas jalan sutra dan pendengar radio Delta FM, Sabtu pekan lalu kami mengunjungi pabrik teh Gedeh dan pertanian organik Gasol di Cianjur, Jawa Barat. Pulangnya kami mampir di kota Sukabumi yang dingin.

Ruang pertemuan yang cukup besar sudah menanti. Di sini segala kelelahan kami dibayar dengan secangkir teh walini ditambah perasan jeruk lemon yang membuat semua penat terlupa. Kudapan jagung dan pisang rebus cukup untuk mengganjal perut yang hanya diisi bubur ayam tadi pagi. Bajigur yang menonjok tenggorokan juga sudah saya tenggak. Ah, segar rasanya.

Pabrik teh Gedeh Tanawattee milik PT Perkebunan Nusantara VIII berdiri sejak 1927. Tulisan angka tahun itu masih terlihat jelas di atas pabrik di muka gerbang. Pabrik yang memiliki moto, “Kualitas adalah Tradisi Kami” itu memproduksi teh hitam kualitas wahid yang diekspor ke berbagai negara seperti Inggris, Rusia dan Timur Tengah.

Saatnya memasuki pabrik yang pagi itu masih terlihat sepi. Menurut Daniar, staf perusahaan yang menemani kami, pekerja yang ada di pabrik ini jumlahnya sekitar 75 orang saja. Ada dua cara pengolahan pabrik teh yaitu sistem orthodox dan sistem Crush Tear and Curl (CTC). Sistem orthodox menggunakan alat semacam silinder besar untuk mencacah daun teh dan menjadikannya kecil-kecil. Sementara itu, sistem CTC menggunakan pisau untuk mencacah daun teh.

Pabrik ini menggunakan sistem orthodox dengan beberapa mesin yang besar-besar. Pertama menggunakan sistem Open Top Roller yaitu mesin penggulung daun yang berputar-putar kemudian teh menjadi serpihan kecil-kecil. Kemudian teh masuk ke mesin kedua yaitu Press Cup Roller untuk mencacah kembali daun-daun teh yang belum hancur benar dan menjadikannya daun yang lebih kecil. Kemudian teh masuk lagi ke mesin Rotorvane yang kembali mencincang teh tadi menjadi lebih hancur. Setiap tahap menghasilkan teh dengan kualitas masing-masing.

Teh yang telah berubah warna menjadi coklat dan hitam itu kemudian dioksidasi enzimatis dalam baki-baki yang tersusun rapi dalam sebuah rak. Menurut Daniar, di sinilah bedanya pembuatan teh hijau dan teh hitam. Teh hitam melalui proses oksidasi sementara teh hijau tidak. Produksi teh di tempat ini menghasilkan 13 jenis teh.

Teh kualitas utama bernama BOP (Broken Oranye Pecco) yang terlihat berwarna hitam. Teh ini rasanya tak seperti teh-teh yang biasa saya minum. Rasanya seperti lebih kesat dan ada yang tersisa di tenggorokan saat meneguknya. “Inilah teh yang kami ekspor,” kata Daniar. Beberapa jenis teh lain juga diekspor, namun untuk keperluan lokal ternyata hanya mendapat teh kelas rendahan.

Sebelum diekspor ada seorang petugas pencicip teh yang siang itu kami lihat sedang asyik mencicipi beberapa air teh. Teh-teh ini kemudian dipak dalam kantung-kantung yang mirip kantung semen. Pikiran saya melayang-layang ke beberapa tahun silam saat saya pernah mengunjungi sebuah pabrik teh di Sri Lanka. Di negara yang terkenal dengan sebutan Ceylon itu teh-teh dikemas dalam bentuk-bentuk yang apik.

Saya bisa membeli teh-teh dengan kualitas nomor wahid dalam kemasan yang unik seperti bentuk gajah dan kotak kaleng dengan gambar-gambar jaman baheula yang unik. Saat itu saya sempat datang ke sebuah kios teh yang letaknya di tengah perkebunan teh. Di kios inilah beragam jenis teh itu bisa dibeli. Sayang, di perkebunan teh gedeh ini saya tak bisa mendapat teh dalam kemasan yang unik. Teh yang dijualpun hanya teh celup yang kemasannya sangat sederhana.

Setelah lelah berkeliling pabrik kami berangkat menuju perhentian berikutnya di Gasol Pertanian Organik di Cugenang, Cianjur. Tak berapa lama perjalanan kami berhenti pada sebuah rumah kayu yang berdiri kokoh. Kami disambut ramah si empunya rumah sekaligus pemilik pertanian organik ini, Ika Suryanawati.

Sebelum melihat-lihat kawasan pertanian organik seluas kurang lebih 2 hektar itu, perut kami yang sudah berontak sejak tadi segera disuguhi berbagai makanan. Uniknya, kami makan di atas sebuah daun pisang yang dijadikan alas untuk nasi dan lauk pauk yang kami santap. Buat sebagian peserta ini adalah pengalaman mereka pertama kali makan di atas daun pisang sambil dielus-elus angin semilir. Di kejauhan suara kecapi berpadu apik dengan tembang Sunda yang membuat suasana hati bertambah sumringah.

Menu siang itu adalah ikan pedak dengan bumbu cabe merah, teri bodas, jengkol, tahu kuning, tempe dan sayur asem. Nasi yang kami makan adalah nasi liwet pandan wangi, dan nasi merah beureum sengit yang jadi favorit. Menurut Ika, beras pandan wangi hanya bisa menyebarkan aroma semerbak jika ditanam di kawasan Gunung Gede. “Kalau menggunakan air di luar kawasan ini, wanginya tak terasa,” katanya.

Menyantap menu tadi memberikan sensasi rasa yang aduhai. Ikan pedak yang dibuat sedikit asin dengan taburan cabai yang menggigit, plus teri bodas yang terasa krenyes-krenyes membuat lidah terus bergoyang-goyang. Setelah nasi sedikit turun barulah kami melihat-lihat persawahan yang sama sekali tak menggunakan pestisida. “Semua tanaman padi di sini menggunakan pupuk alami,” kata Ika.

Perjalanan kami lanjutkan untuk singgah di kota Sukabumi. Di sini kami sudah diberi petunjuk tempat-tempat makan yang enak. Sayang, hujan yang mendera keras membuat pergerakan menelusuri kota ini teramat sulit. Kami akhirnya hanya mencicipi Sate Kambing Mang Mamat yang ada di alun-alun kota.

Warungnya tak seberapa, tapi seperti tak kuasa menampung para penikmatnya. Daging kambing di sini tak bau dan saat gigitan pertama langsung rasanya hati kesengsem. Empuknya daging ini tak membuat gigi harus bekerja keras mengunyahnya. <I>Raos<I> betul rasanya. Sebelumnya saya membeli oleh-oleh penganan khas Sukabumi yaitu moci.

Petang menjelang, tanda kami harus pulang. Kota Sukabumi yang macet harus segera kami tinggalkan. Musim libur yang sudah dekat, tak ada salahnya untuk mengulang kembali perjalanan ini.

(Tulisan ini pernah dimuat di Koran Tempo )

Kerudung Biru

Kerudung biru itu rebah. Di sudutnya tertulis Dior dengan bercak darah yang membuat huruf O setengah tertutup. Tubuh itu tertelungkup dengan bagian wajah kanan menghadap atas. Darah segar mengalir dari sela-sela rambutnya yang pekat. Matanya seperti ngeri menyaksikan kematiannya sendiri. Tangannya setengah menutupi wajah seperti hendak mengusir sesuatu yang menakutkan.

Hening di sekitar. Angin malam menyemburatkan bau anyir darah. Bangunan mushola itu hanya beberapa depa dari tubuh yang rebah. Tubuh dengan kerudung biru bertulis Dior. Rerumputan setinggi pinggang membuat tubuh itu tak mudah tampak bahkan dari mushola tadi. Bahkan ketika seorang pengurus mushola membersihkan lantai untuk persiapan Subuh berjamaah, tubuh itu tak terlihat. Anyir darahnya menghembus-hembus tapi tak singgah di hidung orang tadi.

Tubuh itu tetap sendiri. Hingga seorang penggembala berteriak-teriak. “Ada mayat…ada mayat….” Dan satu kampung pun geger.

Setiap orang memandangi tubuh berkerudung biru bertuliskan Dior. Rambut pekatnya bercampur darah. Tak ada yang berani mendekat.

“Astagfirullah….” teriak ibu-ibu berbarengan.

Pak polisi yang dinanti belum tiba sedari pagi. Untuk menembus desa itu membutuhkan waktu yang tak sebentar. Selain melewati sungai dengan jembatan gantung yang kayunya melorot di sana-sini, polisi juga harus melintas hutan jati yang cukup lebat.

Matahari telah mengeluarkan sinar terpanasnya tapi warga tetap tak beranjak. Hampir semua warga tumplek di sana. Menyaksikan tubuh perempuan berkerudung biru bertulis Dior. Tubuh itu telah membiru. Tapi warga tak ada yang berani mendekati. Bahkan pak Mitro, kamituo desa yang biasanya sregep dengan hal-hal seperti ini.

“Apakah ini pertanda buruk?” Mulut kamituo yang berhias kumis tipis berwarna putih itu terus berkomat-kamit.

Perempuan yang rebah itu bukan berasal dari desa ini. Kulitnya putih dengan bulu-bulu tipis menghiasi tangannya. Berbeda dengan sebagian warga desa yang kebanyakan berkulit legam karena terpaan sinar matahari akibat bekerja seharian di ladang. Gadis-gadis yang ada juga tak berkulit putih karena harus menempuh perjalanan jauh untuk mencapai sekolah terdekat. Kerudung yang dikenakan juga bukan kerudung kebanyakan. Kerudung biru bertulis Dior.

Tak ada tanda apapun di sekitar tubuh itu. Kecuali darah yang hampir memenuhi bagian kepalanya. Pakaiannya juga masih terlihat rapi. Cincin emas di jari manis tubuh itu juga masih terselip manis. Tapi wajah perempuan itu seperti ketakutan menghadapi elmaut. Kematian bakal menimpa semua orang tapi kematian dengan cara tak wajar bisa membuat wajah ketakutan seperti tubuh yang rebah itu. Pak Mitro meminta diambilkan segelas air putih, kemenyan dan bunga tujuh rupa.

Warga bergegas memenuhi permintaan pak Kamituo. Bersedekap di depan tubuh itu pak Mitro seperti menerawang. Mulutnya berkomat-kamit. Cuaca tiba-tiba berubah. Awan menggulung-gulung hitam. Warga desa tetap tak beranjak. Pekerjaan di ladang mereka tinggalkan, mereka juga bergegas ke dekat mushola setelah selesai memberi makan ternak. Hingga akhirnya pak Kamituo seperti diserang ribuan makhluk gaib. Tubuhnya bergerak ke kanan kiri tak beraturan.

“Tolong aku…tolong aku…..” Kamituo itu berteriak-teriak.

Tapi warga paham kalau pak Mitro sudah kemasukan roh. Mungkin roh dari perempuan berkerudung biru yang rebah di sebelah mushola. Warga memegangi tubuh pria yang selama ini dianggap memiliki kemampuan linuwih itu. Matanya membelalak menunjuk ke satu arah. Bukit di seberang mushola. Tangannya menunjuk-nunjuk tapi tak sepatah katapun terlontar. Beberapa pria langsung berlari ke arah bukit yang ditunjuk pak Mitro.

Tubuh para pria itu gemetaran demi menyaksikan yang ada di depannya. Sesosok mayat bayi yang meringkuk. Tubuhnya tak dibalut sehelai kainpun. Seakan tak kuat menahan udara dingin di bukit itu, tubuh bayi itu membiru.

“Malapetaka apa ini?” orang-orang mulai berbisik.

Mereka kemudian mengangkat bayi tadi dengan daun pisang dan membawanya ke dekat mushola desa.
***

Sebuah malam yang meninabobokan setiap orang. Kabut menyelubungi desa. Tapi ada kesibukan yang tak terkira dari dua sosok yang berkelebat diantara pepohonan. Tubuh mereka kekar berseragam lengkap berwarna khaki.

“Cepat sebelum hari pagi,” ujar seorang diantara mereka.

Tapi buat perempuan yang ada di dalam mobil malam itu berjalan sangat lamban. Bulan tersaput awan saat kelelawar beterbangan dari satu pohon ke pohon lain mencari buah-buahan segar makanan mereka.

Perempuan yang terikat kaki dan tangannya tak bergerak. Matanya ditutup sehelai sapu tangan berwarna lurik. Terlihat perut yang besar tanda ia hamil. Di luar dua pria sibuk mencari tempat yang tepat. Sebuah pohon rasamala menjadi pilihan. Batangnya yang besar bisa menutupi aktivitas mereka. Pria dengan seragam warna khaki itu bergegas menuju mobil mengangkat perempuan berkerudung biru tadi. Detik berjalan lamban.

Suara perempuan berkerudung biru itu tertahan. Perekat yang menempel di mulutnya membuatnya tak bisa mengeluarkan kata-kata. Bergerak melawan tampaknya percuma. Malaikat pencabut nyawa tampak di depan matanya. Tak cuma nyawanya yang bakal tercerabut tapi janin yang dikandungnya. Ya janin yang telah dirawatnya selama 5 bulan ini.

“Hendak kau apakan kami,” perempuan itu berteriak-teriak tapi pepohonan saja sulit mendengarnya.

Keduanya mengerjakan pembunuhan itu dengan rapi. Hampir tak ada jejak yang mereka tinggalkan. Tinggal tubuh perempuan berkerudung biru yang membujur kaku. Perempuan itu diletakkan hanya beberapa dari mushola desa, tapi bayinya tetap di tinggal di atas bukit di samping pohon rasamala.
***

Ruangan berpendingin udara itu senyap. Hanya ada seorang dokter dan sesosok mayat di atas meja pembaringan. Dokter forensik itu sibuk mengamati tubuh yang terbujur kaku . Sehelai kerudung berwarna biru bertulis Dior dibiarkan tergeletak di sisi tubuh yang kini diselimuti kain putih itu. Mayat bayinya diletakkan di meja pembaringan yang lain.

Dokter muda berkacamata warna ungu tak menghiraukan udara yang senyap dan bau yang menyengat. Waktu sudah menunjuk angka 12 malam hari.

“Pembunuhan keji ini harus terungkap,” dokter itu berkata geram.

Sebuah tape rekaman kecil bermerek Sony ia siapkan. “Jenis kelamin, perempuan, usia diperkirakan 20 tahun, warna kulit putih,” dokter itu mulai merekam setiap detil temuan yang ia dapat dari tubuh itu.

Tanda-tanda kekerasan hanya terlihat di sekitar tangan dan perut saja. Dokter muda itu yakin perempuan itu dipaksa mengeluarkan janin yang ada dalam kandungannya. Dia kemudian menyiapkan pisau bedah. Jam terus berdetak melewati angka satu. Kelelahan seakan tak terasa. Di ruangan itu hanya sang dokter dan tubuh yang terbujur kaku. Mereka berhadapan seakan saling bercerita. Dua orang wanita dengan takdir yang berbeda.

Cerita itu hadir lewat organ tubuh yang satu persatu mulai diperiksanya. Mulai hati, ginjal hingga bagian rahim yang masih terlihat sobek seperti dipaksa untuk mengeluarkan bayi yang belum waktunya keluar. “Waktu meninggal diperkirakan tengah malam dengan pemaksaan,” sekali lagi dokter itu merekam suaranya.

“Tapi siapa yang melakukannya?” Pertanyaan itu berputar-putar. Sang dokter sama sekali tak menemukan sidik jari di sekujur tubuh yang kaku dengan kerudung biru bertulis Dior itu. Dokter berkacamata ungu itu tampak lelah. Dia terduduk di samping tubuh itu. Tiba-tiba saja telepon genggamnya berdering-dering. Matanya yang tadi sempat terpejam langsung terbuka. Sebuah nomor yang tak dikenalnya.

Ragu-ragu dia mengangkatnya. “Siapa ini?” Suara berat di ujung sana langsung menjawab, “Tubuh kaku yang ada di hadapan Anda sekarang bukan siapa-siapa. Saya mohon Anda segera membereskan kembali. Otopsi tak perlu dilakukan.” “Apa!” dokter itu setengah berteriak menjawab tak percaya.

“Anda tak perlu bertanya lagi, sebagai orang yang memiliki otoritas keamanan saya meminta Anda segera membereskan pekerjaan. Mayat itu segera kami ambil,” suara di ujung sana meninggi. Dokter muda itu lemas. Cepat-cepat ia mengembalikan semua organ ke dalam tubuh kecuali organ hati yang masih berusaha disimpannya. Dia yakin organ ini bisa mengungkap pembunuhan kejam ini. Tapi mengapa justru aparat keamanan yang meminta tubuh ini?

Tak berselang lama. Empat orang pria berbadan tegap berseragam warna khaki mendatangi kamar forensik. Dokter tadi tak bisa bergerak. Seorang polisi tampak menemani mereka. Tubuh yang terbujur kaku berselimut kain putih itu kemudian langsung dibawa mereka. Entah kemana. Dokter muda itu hanya termangu. Kini hanya ada ruang kosong dengan bau menyengat di sekelilingnya. Tapi pandangannya tertumbuk pada sesuatu. Sebuah kain kerudung berwarna biru bertulis Dior.

Jakarta, April 2007

ziarah diam

Sembilan tahun silam di kampus ini kamu menangisi perjalananku

sebuah perjalanan dengan segumpal asa menumbangkan rezim

untuk menuntaskan cita-cita yang sudah kita bangun sejak bertahun silam

tentang mimpi sebuah negeri demokrasi tanpa tirani

saat itu kau sering mencemooh mimpiku

mencibir keinginan-keinginan masa depanku

“Pukimay demokrasi….”

Kau sengak berkata

Aku cuma noktah dalam sebuah perjuangan besar

menyaksikan satu per satu kepala di kampus ini akhirnya sadar tentang penindasan

Di sebuah teater bernama teater kolam kau selalu menyaksikan puisi-puisi tak terbantahkan

Puisi tentang mimpi para penyair

dari Wiji Tukul hingga Sutardji Colzum Bachri

Saat itu kau setia menemaniku dan memberikan sebotol teh dingin saat kerongkongan ini kering menyuarakan penderitaan

Apakah tanggal ini berarti bagimu?

Apakah tanggal ini telah pergi dari ingatanmu?

Seperti teater kolam yang terkubur rumput hijau

Seperti kantin yang berubah kerucut

Seperti ruang-ruang pertemuan yang berubah menjadi kantor-kantor birokrat kampus

Atau kau sebetulnya paham bahwa busana yang kau kenakan sekarang adalah buah perjuangan kita, tapi kau tetap diam?

terbenam oleh hiruk pikuk kapitalisme yang telah merasuk jauh hingga ke ruang-ruang kelas?

Atau mungkin kau terhimpit diantara ratusan parkir mobil mewah yang kini sesak memenuhi tempat ini?

Hari ini aku berziarah diam

mengenang sebuah waktu yang tak bisa terulang

tentang puisi-puisi yang kembali tersimpan dibalik almari kumal

tentang mimpi-mimpi dari sebuah ruang yang kini semakin sepi

Kampus UI Depok

21 Mei 2007

kenangan pak Wakidjo

Pagi ini saya mendapat kabar dari seorang kawan: Pak Wakidjo meninggal dunia. Inalillahi Wainailahi rojiuun…..

Pak Wakidjo itu satpam sekolah di SMA 28. Orangnya berperut sedikit buncit dengan kumis melintang, khas tentara jaman baheula. Dialah jagal untuk urusan telat masuk sekolah. Dia yang menjadi eksekutor dan menutup pintu pagar jika angka sudah menunjuk pukul 07.00 WIB. Saat itu, tak boleh lagi ada murid yang masuk di atas pukul 07.00.

Tapi dia hanya mengerjakan tugas dari kepala sekolah. Sebatas penegak disiplin dari sekolah dengan beberapa siswa yang sering melanggar peraturan. Saya termasuk orang yang sering masuk lewat dari jam yang ditentukan. Padahal, jarak rumah dari sekolah cuma sepelemparan batu hehehehe…….

Apalagi kalau pelajaran matematika menjadi mata pelajaran pertama, duh pastilah sengaja saya telat-telatin datengnya. Tapi pak Wakidjo adalah penunggu pagar yang tak galak-galak amat. Dia selalu memberi toleransi saya untuk masuk meski saya telat datang lima menit.

Risikonya ya tentu saja saya harus berhadapan dengan guru piket yang sudah berjaga-jaga. “Tahu rumah kamu dimana?” begitu kata seorang guru piket. Dia lalu menjewer saya dan kemudian menyuruh saya segera masuk kelas. Hehehehe…..biar dijewer yang penting bisa ikut pelajaran pertama.

Setelah saya lulus, pak Wakidjo masih setia menunggu gerbang sekolah. Kadang saya mampir untuk sekedar memberi salam padanya. Hebatnya, dia tak pernah lupa pada saya. Murid sedikit badung yang pernah berhadapan dengannya.

Selamat jalan pak Wakidjo, semoga amal ibadahnya di terima di sisinya.

may day may day

Hidup Buruh

Jangan pernah mau ditindas oleh pengusaha dan penguasa

lawan upah murah dapatkan upah layak

jangan lagi ada kerja kontrak

——hidup buruh—–

selamat hari buruh