Kerudung biru itu rebah. Di sudutnya tertulis Dior dengan bercak darah yang membuat huruf O setengah tertutup. Tubuh itu tertelungkup dengan bagian wajah kanan menghadap atas. Darah segar mengalir dari sela-sela rambutnya yang pekat. Matanya seperti ngeri menyaksikan kematiannya sendiri. Tangannya setengah menutupi wajah seperti hendak mengusir sesuatu yang menakutkan.
Hening di sekitar. Angin malam menyemburatkan bau anyir darah. Bangunan mushola itu hanya beberapa depa dari tubuh yang rebah. Tubuh dengan kerudung biru bertulis Dior. Rerumputan setinggi pinggang membuat tubuh itu tak mudah tampak bahkan dari mushola tadi. Bahkan ketika seorang pengurus mushola membersihkan lantai untuk persiapan Subuh berjamaah, tubuh itu tak terlihat. Anyir darahnya menghembus-hembus tapi tak singgah di hidung orang tadi.
Tubuh itu tetap sendiri. Hingga seorang penggembala berteriak-teriak. “Ada mayat…ada mayat….” Dan satu kampung pun geger.
Setiap orang memandangi tubuh berkerudung biru bertuliskan Dior. Rambut pekatnya bercampur darah. Tak ada yang berani mendekat.
“Astagfirullah….” teriak ibu-ibu berbarengan.
Pak polisi yang dinanti belum tiba sedari pagi. Untuk menembus desa itu membutuhkan waktu yang tak sebentar. Selain melewati sungai dengan jembatan gantung yang kayunya melorot di sana-sini, polisi juga harus melintas hutan jati yang cukup lebat.
Matahari telah mengeluarkan sinar terpanasnya tapi warga tetap tak beranjak. Hampir semua warga tumplek di sana. Menyaksikan tubuh perempuan berkerudung biru bertulis Dior. Tubuh itu telah membiru. Tapi warga tak ada yang berani mendekati. Bahkan pak Mitro, kamituo desa yang biasanya sregep dengan hal-hal seperti ini.
“Apakah ini pertanda buruk?” Mulut kamituo yang berhias kumis tipis berwarna putih itu terus berkomat-kamit.
Perempuan yang rebah itu bukan berasal dari desa ini. Kulitnya putih dengan bulu-bulu tipis menghiasi tangannya. Berbeda dengan sebagian warga desa yang kebanyakan berkulit legam karena terpaan sinar matahari akibat bekerja seharian di ladang. Gadis-gadis yang ada juga tak berkulit putih karena harus menempuh perjalanan jauh untuk mencapai sekolah terdekat. Kerudung yang dikenakan juga bukan kerudung kebanyakan. Kerudung biru bertulis Dior.
Tak ada tanda apapun di sekitar tubuh itu. Kecuali darah yang hampir memenuhi bagian kepalanya. Pakaiannya juga masih terlihat rapi. Cincin emas di jari manis tubuh itu juga masih terselip manis. Tapi wajah perempuan itu seperti ketakutan menghadapi elmaut. Kematian bakal menimpa semua orang tapi kematian dengan cara tak wajar bisa membuat wajah ketakutan seperti tubuh yang rebah itu. Pak Mitro meminta diambilkan segelas air putih, kemenyan dan bunga tujuh rupa.
Warga bergegas memenuhi permintaan pak Kamituo. Bersedekap di depan tubuh itu pak Mitro seperti menerawang. Mulutnya berkomat-kamit. Cuaca tiba-tiba berubah. Awan menggulung-gulung hitam. Warga desa tetap tak beranjak. Pekerjaan di ladang mereka tinggalkan, mereka juga bergegas ke dekat mushola setelah selesai memberi makan ternak. Hingga akhirnya pak Kamituo seperti diserang ribuan makhluk gaib. Tubuhnya bergerak ke kanan kiri tak beraturan.
“Tolong aku…tolong aku…..” Kamituo itu berteriak-teriak.
Tapi warga paham kalau pak Mitro sudah kemasukan roh. Mungkin roh dari perempuan berkerudung biru yang rebah di sebelah mushola. Warga memegangi tubuh pria yang selama ini dianggap memiliki kemampuan linuwih itu. Matanya membelalak menunjuk ke satu arah. Bukit di seberang mushola. Tangannya menunjuk-nunjuk tapi tak sepatah katapun terlontar. Beberapa pria langsung berlari ke arah bukit yang ditunjuk pak Mitro.
Tubuh para pria itu gemetaran demi menyaksikan yang ada di depannya. Sesosok mayat bayi yang meringkuk. Tubuhnya tak dibalut sehelai kainpun. Seakan tak kuat menahan udara dingin di bukit itu, tubuh bayi itu membiru.
“Malapetaka apa ini?” orang-orang mulai berbisik.
Mereka kemudian mengangkat bayi tadi dengan daun pisang dan membawanya ke dekat mushola desa.
***
Sebuah malam yang meninabobokan setiap orang. Kabut menyelubungi desa. Tapi ada kesibukan yang tak terkira dari dua sosok yang berkelebat diantara pepohonan. Tubuh mereka kekar berseragam lengkap berwarna khaki.
“Cepat sebelum hari pagi,” ujar seorang diantara mereka.
Tapi buat perempuan yang ada di dalam mobil malam itu berjalan sangat lamban. Bulan tersaput awan saat kelelawar beterbangan dari satu pohon ke pohon lain mencari buah-buahan segar makanan mereka.
Perempuan yang terikat kaki dan tangannya tak bergerak. Matanya ditutup sehelai sapu tangan berwarna lurik. Terlihat perut yang besar tanda ia hamil. Di luar dua pria sibuk mencari tempat yang tepat. Sebuah pohon rasamala menjadi pilihan. Batangnya yang besar bisa menutupi aktivitas mereka. Pria dengan seragam warna khaki itu bergegas menuju mobil mengangkat perempuan berkerudung biru tadi. Detik berjalan lamban.
Suara perempuan berkerudung biru itu tertahan. Perekat yang menempel di mulutnya membuatnya tak bisa mengeluarkan kata-kata. Bergerak melawan tampaknya percuma. Malaikat pencabut nyawa tampak di depan matanya. Tak cuma nyawanya yang bakal tercerabut tapi janin yang dikandungnya. Ya janin yang telah dirawatnya selama 5 bulan ini.
“Hendak kau apakan kami,” perempuan itu berteriak-teriak tapi pepohonan saja sulit mendengarnya.
Keduanya mengerjakan pembunuhan itu dengan rapi. Hampir tak ada jejak yang mereka tinggalkan. Tinggal tubuh perempuan berkerudung biru yang membujur kaku. Perempuan itu diletakkan hanya beberapa dari mushola desa, tapi bayinya tetap di tinggal di atas bukit di samping pohon rasamala.
***
Ruangan berpendingin udara itu senyap. Hanya ada seorang dokter dan sesosok mayat di atas meja pembaringan. Dokter forensik itu sibuk mengamati tubuh yang terbujur kaku . Sehelai kerudung berwarna biru bertulis Dior dibiarkan tergeletak di sisi tubuh yang kini diselimuti kain putih itu. Mayat bayinya diletakkan di meja pembaringan yang lain.
Dokter muda berkacamata warna ungu tak menghiraukan udara yang senyap dan bau yang menyengat. Waktu sudah menunjuk angka 12 malam hari.
“Pembunuhan keji ini harus terungkap,” dokter itu berkata geram.
Sebuah tape rekaman kecil bermerek Sony ia siapkan. “Jenis kelamin, perempuan, usia diperkirakan 20 tahun, warna kulit putih,” dokter itu mulai merekam setiap detil temuan yang ia dapat dari tubuh itu.
Tanda-tanda kekerasan hanya terlihat di sekitar tangan dan perut saja. Dokter muda itu yakin perempuan itu dipaksa mengeluarkan janin yang ada dalam kandungannya. Dia kemudian menyiapkan pisau bedah. Jam terus berdetak melewati angka satu. Kelelahan seakan tak terasa. Di ruangan itu hanya sang dokter dan tubuh yang terbujur kaku. Mereka berhadapan seakan saling bercerita. Dua orang wanita dengan takdir yang berbeda.
Cerita itu hadir lewat organ tubuh yang satu persatu mulai diperiksanya. Mulai hati, ginjal hingga bagian rahim yang masih terlihat sobek seperti dipaksa untuk mengeluarkan bayi yang belum waktunya keluar. “Waktu meninggal diperkirakan tengah malam dengan pemaksaan,” sekali lagi dokter itu merekam suaranya.
“Tapi siapa yang melakukannya?” Pertanyaan itu berputar-putar. Sang dokter sama sekali tak menemukan sidik jari di sekujur tubuh yang kaku dengan kerudung biru bertulis Dior itu. Dokter berkacamata ungu itu tampak lelah. Dia terduduk di samping tubuh itu. Tiba-tiba saja telepon genggamnya berdering-dering. Matanya yang tadi sempat terpejam langsung terbuka. Sebuah nomor yang tak dikenalnya.
Ragu-ragu dia mengangkatnya. “Siapa ini?” Suara berat di ujung sana langsung menjawab, “Tubuh kaku yang ada di hadapan Anda sekarang bukan siapa-siapa. Saya mohon Anda segera membereskan kembali. Otopsi tak perlu dilakukan.” “Apa!” dokter itu setengah berteriak menjawab tak percaya.
“Anda tak perlu bertanya lagi, sebagai orang yang memiliki otoritas keamanan saya meminta Anda segera membereskan pekerjaan. Mayat itu segera kami ambil,” suara di ujung sana meninggi. Dokter muda itu lemas. Cepat-cepat ia mengembalikan semua organ ke dalam tubuh kecuali organ hati yang masih berusaha disimpannya. Dia yakin organ ini bisa mengungkap pembunuhan kejam ini. Tapi mengapa justru aparat keamanan yang meminta tubuh ini?
Tak berselang lama. Empat orang pria berbadan tegap berseragam warna khaki mendatangi kamar forensik. Dokter tadi tak bisa bergerak. Seorang polisi tampak menemani mereka. Tubuh yang terbujur kaku berselimut kain putih itu kemudian langsung dibawa mereka. Entah kemana. Dokter muda itu hanya termangu. Kini hanya ada ruang kosong dengan bau menyengat di sekelilingnya. Tapi pandangannya tertumbuk pada sesuatu. Sebuah kain kerudung berwarna biru bertulis Dior.
Jakarta, April 2007

lanjutannya gimana…kok berhenti sich mas
dah mau seru tuh…hehehehehe….yang bunuh siapa karena apa
weleh, lanjutin dong, dosa lho klo bikin org penasaran
Jadi lanjutannya harus nanya sama kerudung biru bertuliskan dior itu ?
Weleh! bikin penasaran az..