Sembilan tahun silam di kampus ini kamu menangisi perjalananku
sebuah perjalanan dengan segumpal asa menumbangkan rezim
untuk menuntaskan cita-cita yang sudah kita bangun sejak bertahun silam
tentang mimpi sebuah negeri demokrasi tanpa tirani
saat itu kau sering mencemooh mimpiku
mencibir keinginan-keinginan masa depanku
“Pukimay demokrasi….”
Kau sengak berkata
Aku cuma noktah dalam sebuah perjuangan besar
menyaksikan satu per satu kepala di kampus ini akhirnya sadar tentang penindasan
Di sebuah teater bernama teater kolam kau selalu menyaksikan puisi-puisi tak terbantahkan
Puisi tentang mimpi para penyair
dari Wiji Tukul hingga Sutardji Colzum Bachri
Saat itu kau setia menemaniku dan memberikan sebotol teh dingin saat kerongkongan ini kering menyuarakan penderitaan
Apakah tanggal ini berarti bagimu?
Apakah tanggal ini telah pergi dari ingatanmu?
Seperti teater kolam yang terkubur rumput hijau
Seperti kantin yang berubah kerucut
Seperti ruang-ruang pertemuan yang berubah menjadi kantor-kantor birokrat kampus
Atau kau sebetulnya paham bahwa busana yang kau kenakan sekarang adalah buah perjuangan kita, tapi kau tetap diam?
terbenam oleh hiruk pikuk kapitalisme yang telah merasuk jauh hingga ke ruang-ruang kelas?
Atau mungkin kau terhimpit diantara ratusan parkir mobil mewah yang kini sesak memenuhi tempat ini?
Hari ini aku berziarah diam
mengenang sebuah waktu yang tak bisa terulang
tentang puisi-puisi yang kembali tersimpan dibalik almari kumal
tentang mimpi-mimpi dari sebuah ruang yang kini semakin sepi
Kampus UI Depok
21 Mei 2007

0 Tanggapan ke “ziarah diam”