Entah mengapa saya sangat suka dengan pasar tradisional. Setiap datang ke sebuah daerah yang baru, salah satu tempat yang wajib disambangi adalah pasar tradisionalnya. Ada suasana khas, terutama pada pagi hari di pasar-pasar tradisional. Suasana inilah yang selalu membuat saya kangen untuk menengok dan menelusup ke pasar tradisional.
Arsip untuk Juni, 2007
Aku Ingin Melepas Masker Sebentar Saja
Diterbitkan Juni 18, 2007 Tentang Sepeda Tinggalkan a KomentarAngin pagi ini semilir-semilir. Si hitam biru yang sedari tadi malam sudah dibersihkan dan bannya sudah disemir kinclong..clong akhirnya dikeluarkan. Di luar udara tersaput mendung. Lagu SMS mengiringi kayuhan saya menuju ujung gang. Anak-anak masih ramai berkeliaran.
Hmm….cuaca pagi ini sungguh bersahabat, tak ada matahari menyengat. Kayuhan sepedapun lancar hingga saya harus memasuki jalan Pejaten Raya yang padat. Sebelumnya tukang tambal ban langganan menjadi tujuan untuk menambah angin ban. “Tumben siang pak,” kata tukang itu. “Tapi biar siang lumayan teduh nih pak,” katanya lagi.
Selamat pagi jenderal
apa kabarmu pagi ini?
Kulihat kau masih tegak berdiri memandang langit yang tak biru lagi
Apakah kau tak lelah menghirup asap berjelaga hitam di ujung jalan ini?
Rasanya aku ingin meminjamkan masker ini padamu
Agar paru-parumu tak bertambah parah
Selamat pagi Jenderal…
Sudah berapa kendaraan yang kau hitung melewati dirimu begitu saja
Tanpa menghormat, padahal kau terus menghormat
Apakah kau mencatat setiap kejadian yang berlangsung di hadapanmu?
Cerita semalam misalnya,
sepasang kekasih yang baru keluar dari sebuah diskotek tepat tengah malam sambil terhuyung-huyung, mabuk barangkali…..
Atau kau melihat ulah ugal-ugalan pengendara mobil di jalan ini?
Kalau kau mencatat aku ingin sekali meminjam catatanmu kemudian menjadikannya sebuah buku dengan sampul tebal dan kujual dengan harga mahal
Selamat Pagi Jenderal,
Apa kabar belantara beton pagi ini?
Tentu tak sama dengan belantara yang dulu….
Ingin rasanya aku menandumu
mengangkatmu keluar dari belantara ini
lalu kita bergerilya lagi
agar hutan-hutan tak ditebangi
agar polusi tak menjadi-jadi
agar hewan-hewan terlindungi
Bagaimana Jenderal?
Ujung Jalan Jenderal Sudirman, Juni 2007
Dieng ibarat perempuan cantik yang selama ini menggoda saya. Kabutnya adalah bedak yang membuat pikiran saya melayang-layang ingin segera mencecapnya. Dinginnya adalah keakuan yang ingin saya taklukan.
Kebetulan ada saudara istri yang mengadakan pesta pernikahan di Purworejo, kesempatan ini tak saya sia-siakan untuk menyiapkan perjalanan ke Dieng. Setelah perjalanan 12 jam dari Jakarta akhirnya sampai juga di Purworejo, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kota ini kabarnya terkenal dengan sebutan kota pensiunan. Mungkin karena saking sepinya kota ini. Lanjutkan membaca ‘Dieng, Sebuah Perjalanan di negeri Dewa’
Lagu kucing garong mencakar-cakar telinga
saat matahari masih sulit menembus petakan rumah yang berhimpit
anak-anak fasih menyanyikannya
jika ada yang tak hapal sang ibu menuntunnya
‘Kelakuan si kucing garong……
main sikat main embat apa sing liwat’
Langkah-langkah sepatu mulai hilir mudik
dari jendela yang sempit terlihat mata-mata yang memancarkan harapan
hari ini rezeki bisa didapat
buat biaya sekolah ani, janu, indra dan lainnya
Lagu kucing garong berhenti mengerang
berganti suara tukang sayur yang datang
ada ikan yang lunglai
bayam dan petai
semua harga bisa dinegosiasi
tergantung isi kantong pembeli
Menuju tengah hari suara-suara itu sepi
hanya bau ikan asin merayap dari sudut-sudut pintu yang terbuka
Aku masih di sini merajut bait-bait kesendirian
sambil sesekali menghisap bau got yang menyeruak
Juni 2007

Komentar Terakhir