Dieng ibarat perempuan cantik yang selama ini menggoda saya. Kabutnya adalah bedak yang membuat pikiran saya melayang-layang ingin segera mencecapnya. Dinginnya adalah keakuan yang ingin saya taklukan.
Kebetulan ada saudara istri yang mengadakan pesta pernikahan di Purworejo, kesempatan ini tak saya sia-siakan untuk menyiapkan perjalanan ke Dieng. Setelah perjalanan 12 jam dari Jakarta akhirnya sampai juga di Purworejo, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kota ini kabarnya terkenal dengan sebutan kota pensiunan. Mungkin karena saking sepinya kota ini.
Tapi saya waktu itu tiba malam minggu, jadi kesan sepi tak berlaku. Anak-anak muda tampak asyik berjalan ramai-ramai menuju alun-alun. Saya tak mau kalah juga menuju alun-alun dengan mbecak. Tujuannya adalah ayam gelinjang alias ayam bakar kampung mbak pur.
Tempat ini sangat terkenal bagi pecinta kuliner. Benar saja, saat saya dan istri tiba, tempat duduk hampir semua penuh terisi. Saya memesan ayam bakar kampung dua bagian paha. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya ayam tersaji juga di meja.
Gigitan pertama membuat kesan ayam kampung yang rada keras langsung hilang. Rasanya nendang banget. Gigitan demi gigitan terus memberikan rasa yang lezat di lidah. Sayang malam itu saya masuk angin, sehingga kenikmatan ayam panggang mbak pur jadi tak sempurna saya lahap.
Perjalanan dari Dieng justru saya mulai dari Temanggung, setelah menginap di rumah seorang saudara ipar saya. Dari tempat ini perjalanan menuju Dieng hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam saja. Pagi-pagi kami datang ke terminal luar kota Temanggung. Terminalnya masih kelihatan sepi.
Bus dari Magelang akhirnya tiba dan membawa kami ke Wonosobo. Dari Wonosobo inilah ada bus mikro menuju Dieng. Tarif bus dari Temanggung menuju Wonosobo Rp 7.500. Menikmati pemandangan alam nan indah di bis yang ukurannya sangat mini ini memang pengalaman yang mengesankan. Setelah melewati Parakan tibalah kami di terminal luar kota Wonosobo. Dari sini kami harus menumpang bis kecil ke kota.
Bus mikro ke Dieng jumlahnya sangat banyak, jadi Anda tak perlu takut tak kebagian. Asal jangan lebih dari jam 7 malam karena bis akan berhenti beroperasi mulai jam itu. Ongkos menaiki bus ini Rp 7.000.
Tibalah kami di Losmen bu Jono yang terkenal itu. Tak terbayangkan, bahwa losmen itu. sungguh-sungguh sangat sederhana. Namun pak Tubagus, yang suami pemilik losmen itu menyambut dengan penuh gembira. Saat itu kami datang hari Senin jadi tak ada tamu sama sekali di sana.

Nah, istri saya terlihat bingung dengan losmen ala backpacker itu. Dengan membayar Rp 80 ribu kami sudah mendapat kamar dengan kamar mandi di dalam dan ada air hangatnya.
Setelah beristirahat, kami kemudian mulai melihat-lihat tempat pariwisata yang ada di sini. Tujuan pertama kami adalah kawah Seneri. Kawah ini letaknya lumayan jauh dari losmen karena masuk dalam wilayah Banjarnegara. Oh ya Dieng memang terletak di dua wilayah yaitu Wonosobo dan Banjarnegara.
Awalnya petugas losmen memberitahu kami tak perlu menyewa ojek untuk ke kawah ini. Nyatanya alamak, perjalanannya amat jauh. Sambil memandangi gunung-gunung yang terus dibabat dan ditanami kentang, perjalanan itu ternyata jauh juga. Kami berdua pun menjadi tontonan warga yang hilir mudik menggunakan mobil-mobil pick up. Sayang tak ada yang mau berhenti saat kami mencegatnya.

Akhirnya pertolongan seorang tukang ojek membantu kami mencapai kawah ini. Kabut perlahan turun. Istri saya pun mulai berpegangan tangan erat-erat. Untuk menuju kawah ini kami harus melewati ladang-ladang penduduk. Kebetulan ada beberapa penduduk perempuan yang tengah bercengkerama sambil beristirahat di ladang mereka.
Mereka ramah sekali menyapa kami. Hanya beberapa saat saja kami berada di sana karena melihat kabut yang terus menggempur. Saat pulang untung pula ada seorang tukang ojek yang mau mengantar kami langsung menuju kompleks candi arjuna.
Candi Arjuna tengah dipugar. Kabut yang tebal benar-benar menghalangi pandangan kami. Benar juga kata seorang penjaga toko di Wonosobo, jangan terlalu siang ke Dieng karena kabut akan menyergap. Dan istri saya seperti ketakutan melihat kabut yang pekat. Jarak pandang kami di kompleks itu hanya sekitar satu meter.

Sebelum kembali ke losmen saya sempat menyeruput purwaceng. Inilah obat kuat khas Dieng. Kabarnya bisa mengusir hawa dingin. Benar saja, malam itu obat kuat itu beraksi. Tapi tidak untuk istri saya. Tiba-tiba saja dia menangis di tempat tidur dan mengajak kami pulang. Duh…..
Seisi losmen dibuat panik. Pemilik losmen sudah menyiapkan mobil, tapi untunglah akhirnya istri saya berhenti menangis, untuk makan dan kemudian tidur. Dia tampak kedinginan. Maklum suhu malam itu mencapai 15 derajat.
Jam 4 pagi saya harus sudah bangun untuk melihat sunrise. Ada dua sunrise yang bisa dilihat yaitu golden sunrise dan silver sunrise. Itu jika cuaca memungkinkan. Dengan naik ojek (sewa 30 ribu) saya meninggalkan istri saya untuk melihat matahari terbit.
Melewati desa tertinggi di pulau jawa dengan ketinggian sekitar 2.900 diatas permukaan laut, saya menuju sebuah bukit untuk melihat datangnya mentari pagi. Benar saja pemandangan di sini sungguh indah. Subhanallah.

Kembali ke losmen kemudian saya mengajak istri untuk melihat situs-situs sejarah dan beberapa kawah yang menandakan kawasan ini dulunya adalah kawasan gunung berapi. Dengan sewa ojek Rp 45.000 per orang (ini hasil nego biasanya Rp 50 ribu) kami melihat beberapa obyek wisata seperti kawah candradimuka, sumur jalatunda, telaga pengilon, telaga warna, kawah sikidang dan Dieng Plateu Teater.
Perjalanan akhirnya kami akhiri dan kembali ke Wonosobo untuk pulang ke Jakarta. Di Wonosobo sempat mencicipi lezatnya mie ongklok yang dimakan dengan sate ayam. Mie ongklok dibuat dari tepung kanji dan kacang selain mie kuningnya.
Perjalanan ke negeri dewa itu rasanya ingin sekali lagi kami lakukan.

Wah…membaca postingan sampean jadi teringat dengan dieng, karena terakhir saya pergi kesana siktar 10thn yg lalu. memang dieng sanat keren apa lagi waktu sunrise and sunset. tapi yang paling enak adalah makan sate jamur di salah satu resto tapi udah lupa namanya. :0.. and fotonya juga keren sekali.
Dieng……
Pertama kulihat, tahun 1974 kelas 4 SD. saya memang berasal dari kota Wonosobo.
Terakhir kulihat, tahun 2003 berakhir tahun di sana, dengan istri dan ke2 anakku.
Saya meninggalkan wonosobo tahun 1983, kuliah di Bandung. kemudian bekerja di banyak kota, memang tetap paling indah adalah Dieng.
Dulu ketika masih sangat alami, jalan kaki mengelilingi gunung dieng (1980), masih bisa melihat kawah sikidang yang melompat-lompat dan meletus… telaga warna, yang memang airnya berbagai macam warna, biru, hijau, putih, kuning dan kemerahan.
Goa Semar, yang katanya tempat orang2 penting bertapa untuk mendapatkan kekuatan supra.
dan Mie Ongklok,…. tak ada duanya enaknya panasnya pedesnya…..
Oh ya, tahun 1978 gas di dieng sempat meletup yang tanpa warna tanpa bau….. tahu-tahu membuat mati mereka yang hidup di atas 60 cm……
Saya orang wonosobo.tapi 2 bulan setelah tsunami harus ditugaskan ke aceh di sebuah lembaga internasionaol yang menangani masalah anak. walaupun aku dapat cutu 3 bulan sekali untuk pulang kampung tapi kadang sesampai di aceh (Meulaboh) kadang aku sangat sulut menemukan kawan yang dari wonosobo. dapahal bnyk hal yang dapat kita bicarakan ttg wonosobo. makanya aku cobo buka alamat ini tuk sekedar pengin ngobrolin tentang wonosobo. thanks berat sebelumnya.
Saya orang wonosobo.tapi 2 bulan setelah tsunami harus ditugaskan ke aceh di sebuah lembaga internasionaol yang menangani masalah anak. walaupun aku dapat cuti 3 bulan sekali untuk pulang kampung tapi kadang sesampai di aceh (Meulaboh) kadang aku sangat sulut menemukan kawan yang dari wonosobo. dapahal bnyk hal yang dapat kita bicarakan ttg wonosobo. makanya aku cobo buka alamat ini tuk sekedar pengin ngobrolin tentang wonosobo. thanks berat sebelumnya.
HAHAHAHHA LOSMEN BU DJONO PUNYA KAKEK GUA TUH FOTO AKU JUGA ADA DISANA HAHAHAHHA
j@grag.com
fs only
btw websitenya juga udah aku bikinin tapi baru satu halaman hahaha
http://www.geocities.com/losmenbujono_dieng
hehehehheh
Q orang Dieng lho….
saya lg cari2 info Dieng u/ liburan keluarga sama anak2. Yg saya heran kok mas menikmati liburannya tapi kok istrinya mas malah nangis waktu itu? kasian sekali, apa dia tidak suka losmennya, kelelahan, sakit, kedinginan atau kesambet/melihat sesuatu? maaf mas, cuma penasaran aja kira2 apa penyebabnya. Soalnya saya bawa 2 anak (8th & 5th) jadi mau memastikan cukup aman & nyaman buat mereka.
Sungguh sanyang keindahan itu hilang dengan banyaknya sepanjang jalan menuju Dieng pipa2 air utk mengalirkan air dari sumber air sungai serayu ke ladang2 kentang dgn tdk beraturan,!!!. Memang keindahan Dieng sangat bagus dan asri!!! sayang keindahan itu terganggu dgn tergerusnya bukit2 akibat meluasnya ladang kentang yang makin menggila??, SIAPA yang bertanggung jawab apabila terjadi “BANJIR BADANG” ???.