Angka ini buat sebagian orang penuh hoki. Tapi buat kami ini adalah saatnya berpetualang. Setelah mas Tulus-teman kantor yang ingin sekali merasakan asyiknya medan di Rindu Alam Puncak gagal berangkat, akhirnya kami, saya dan Kang Adek berniat untuk terus. “Udah butuh oksigen nih,” kata saya.
Sial. Boleh jadi kata ini yang pertama kali keluar saat tahu ternyata kang Adek ternyata belum berangkat dari Bekasi saat jam sudah menunjuk angka 7. Bis yang biasa dipake gak muncul-muncul. Katanya sih dipakai untuk anak-anak pariwisata. Pada tanggal yang sama 15 orang tewas dari bus Pariwisata. Mengerikan….
Saya padahal sudah ngejogrok di Terminal Baranangsiang sejak pukul 07.00 dan kang Adek baru muncul jam 09.30 alamak. “Macet,” kataku soal rencana ke puncak. Akhirnya setelah berembug sebentar kami memutuskan untuk genjot menuju Curug Bojong Koneng di kawasan Sentul. Saya pernah ke curug ini sekitar dua tahun lalu.
Perjalananpun dimulai tentu saja dengan peta mulut. Hehehehe….maklum kami sama sekali buta menuju tempat itu.

Bingung, mo kemana neh?????
Hampir di setiap pertigaan kami selalu bertanya. Akhirnya ada petunjuk trek yang lumayan bagus. Masuklah kami ke Dusun II Kecamatan Babakan Madang. Jalan aspal berhenti pada sebuah sungai dengan jembatan bambu. Uhuy jembatan bambu. Tapi baru mau ngeluarin kamera, hujan turun deras sekali. Terpaksalah kami berhenti di sebuah rumah panggung.
Perjalanan tetap kami lanjutkan

Di tengah sawah euy
Sempat tersesat di tengah perkebunan singkong. Kabarnya tanah ini sudah dibeli oleh Sentul City, saya jadi miris, entah apakah tahun-tahun mendatang tempat ini masih eksotis atau sudah berubah menjadi perumahan-perumahan mewah yang angkuh.
Di tengah jalan perut sudah keroncongan. Untunglah ada keramaian. Ternyata sedang ada acara kenaikan kelas. Nah kalau di desa-desa di Jawa Barat acara kenaikan kelas sering disebut Samen. Berbagai acara digelar mulai dari tari hingga nyanyi. Mirip dengan acara 17-an. Pasar-pasar kaget pun bertebaran.
Ternyata ada pedagang sate kiloan, ini adalah sate kambing yang kalau beli bukan berdasar porsi tapi berdasarkan timbangan berat daging. Satu kilo dihargai Rp 65 ribu. Kami pun hanya membeli 1/4 kg saja. Tapi ada makanan yang menurut saya aneh. Mirip gado-gado tapi kok gak ada sayurannya. Cuma ada nangka dan kol.

Nama makanan ini kaledop (mirip karedok tapi ya aneh ya)

Permisi pak, numpang lewat……

suasana acara samen di SD Bojong Koneng
Akhirnya sampai juga di air terjun Bojong Koneng. Namun untuk ke sini medannya sangat berat dan cuman sedikit bisa dilalui sepeda. Jembatan bambunya pun sudah rusak parah. Dan lebih parah lagi, ada sekelompok orang yang menagih uang masuk sebesar Rp 5000. Saya tak tahu siapa mereka. Tapi tak ada tiket untuk mengganti uang yang saya keluarkan. Jadi sulit sekali pariwisata kita maju jika masih ada kutipan-kutipan tak jelas seperti ini.

Kok dituntun kang????


Akhirnya perjuangan yang berat terbayar
Nah, pulang dari tempat ini kami diguyur hujan sepanjang perjalanan pulang. Rem saya yang cuma V break harus bekerja ekstra keras menaklukan turunan aspal yang licin diguyur hujan. “Udah hukum alam, waktunya diganti tuh…..” ledek kang Adek.
Di tengah jalan mampir di toko sepeda di Mayor Oking. Duh minder, liat barang-barang yang serba mahal di sono.
Berangkat pkl 05.00 sampai rumah pkl 19.30….bayangin deh capeknya……

Salam kenal…(Indonesia)
Numpang promosi nih!
Ada yg mau kuliah dengan beasiswa? Belajar Wirausaha?
Main ke blog kampusku – Makasih ya!
Bos numpang tanya, jalan ke curug ini kalo pake mobil trus harus jalan masih jauh banget ya?
Thanks,
Kesha
Kalau naik mobil pribadi memang harus berhenti di ujung kampung, terus berjalan kaki. Lumayan juga sekitar 2 kilometer tapi enak kok pemandangannya indah…..