Jangan bicara soal idealisme
Mari bicara berapa banyak uang di kantong kita
Atau berapa dahsyatnya
Ancaman yang membuat kita terpaksa onani
Jangan bicara soal nasionalisme
Mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri
Atau tentang kita yang buta
Bisul tumbuh subur
Di ujung hidung yang memang tak mancung
Jangan perdebatkan soal keadilan
Sebab keadilan bukan untuk diperdebatkan
Jangan cerita soal kemakmuran
Sebab kemakmuran hanya untuk anjing si tuan polan
Lihat di sana… Si urip meratap
Di teras marmer direktur murtad
Lihat di sana… Si icih sedih
Di ranjang empuk waktu majikannya menindih
Lihat di sana…. Parade penganggur
Yang tampak murung di tepi kubur
Lihat di sana……. Antrian pencuri
Yang timbul sebab nasinya dicuri
Jangan bicara soal runtuhnya moral
Mari bicara tentang harga diri yang tak ada arti
Atau tentang tanggung jawab
Yang kini dianggap sepi
Iwan Fals
Ketika banyak orang bicara soal sepak bola Indonesia dan nasionalisme yang menggebu dari ribuan pendukungnya, saya langsung teringat lagu milik Iwan Fals di atas.
Nasionalisme selama ini memang menjadi barang langka yang sulit dicari di negeri ini. Anak-anak muda yang apatis dan hedonis lebih senang mengenakan bendera Amerika atau seragam tentara Amerika yang sering digunakan untuk memerangi beberapa negara Islam.
Para penggila bola juga lebih mengenal sosok David Beckham, Ronaldinho, sampai Wayne Rooney ketimbang sosok seperti Eka Ramdhani atau Muhamad Ridwan.
Teman-teman di kantor bahkan sering mengubah saluran televisi jika liga sepak bola nasional disiarkan langsung tapi mereka menunggu hingga mata terkantuk-kantuk untuk sebuah final Liga Champions. Para pengamat sepakbola fasih menghapal sejarah klub-klub papan atas, tapi sedikit yang mengerti tentang sejarah klub-klub negeri ini.
Jadi saat banyak orang mengenakan seragam merah saat pertandingan Arab Saudi melawan Indonesia di putaran final Piala Asia beberapa waktu lalu, hati saya sempat trenyuh. Anak-anak muda mencorengkan merah putih di hidung dan pipinya. Perempuan bertubuh seksi dengan seragam aksesoris merah putih tak malu berbaur dengan para lelaki berbau apek yang sudah memadati stadion.
Saya tak bisa mendefinisikan dengan baik apa itu nasionalisme. Tapi cukuplah apa yang saya lihat di stadion utama gelora Bung Karno saat Indonesia berhadapan dengan Arab Saudi beberapa waktu lalu menunjukkan bagaimana nasionalisme itu tumbuh justru dari sebuah bola.
Saya mungkin salah satu orang yang berharap Indonesia bisa bangkit di kancah internasional. Saya pernah melihat bagaimana Roni Patinasarani begitu gigih mengajarkan teknik bermain bola yang baik pada anak-anak di sebuah sekolah sepak bola di senayan. Dan dari teknik bermain saya sudah melihat mereka sangat terampil menggiring bola dan menceploskannya ke gawang.
Satu-satunya yang menjadi masalah adalah mental. Nah, biasanya pemain kita sering terjerembab pada mental mereka yang kurang siap dengan gemerlapnya dunia olahraga sehingga akhirnya membuatnya terjerumus entah itu alkohol atau narkotika. Untunglah kini tak lagi terdengar pesepakbola yang nakal seperti pada waktu-waktu sebelumnya.
Karena itu saya terus berdoa biar tim nasional bisa terus menampilkan permainan terbaiknya. Biar saya terus bisa berharap agar suatu saat Indonesia bisa tampil di Piala Dunia. Mimpi kali yeeee……………(zzzzzzz)

0 Tanggapan ke “Nasionalisme”