Pemandangan pagi ini di bus membuat saya akhirnya tergerak menuliskan ini:
Seorang pemuda berjenggot panjang dengan celana bahan berwarna hijau tua asyik membaca buku yang berjudul sampul: Let’s Go : Kaum muslim muda bla..bla….(saya lupa selanjutnya). Di sebelahnya seorang ibu tua berdiri mencengkram erat pegangan besi, menahan laju bus yang ugal-ugalan. Di tangan yang satunya, perempuan itu memegang susu cucunya yang sudah duduk bersama ibunya.
Saya yang berdiri tepat disampingnya hanya bisa menelan ludah menyaksikannya. Bagaimana mungkin, seorang muda yang masih sehat jiwa raga (terlihat lo dari tampak luar), membiarkan ibu tua tadi terombang-ambing bus yang seenaknya salip sana-sini dan ngerem mendadak.
Saya yang terlebih dulu memberikan bangku kepada seorang ibu tua lainnya jadi berpikir keras mengapa anak muda tadi sama sekali tak tersentuh untuk memberikan kursinya kepada ibu tua tadi. Padahal sekilas, dia seorang muslim. La wong berjenggot tebal dan memegang sebuah buku motivasi buat anak muda Islam.
Lalu saya bertanya lagi, apa selama ini agama yang juga saya anut itu tak mengajarkan kesalehan sosial? Ah, tak mungkin. Kesalehan sosial jelas-jelas diajarkan dalam qur’an dan hadits. Saya bukan orang yang memahami Islam secara kaffah. Tapi melihat pemandangan itu saya jadi bertanya-tanya, apakah Islam menjadi sangat individualistis, menjadi agama yang benar-benar meminta umatnya selalu mengingat surga tapi tak pernah berpijak pada kondisi sebenarnya di dunia?
Islam belakangan memang muncul sebagai agama yang seram, yang tak bisa bertoleransi pada keadaan sekitar. Kasus pemboman dan pelarangan konferensi umat Nasrani di bukit Karmel menjadi buktinya. Islampun menjadi pajangan stiker dengan jargon-jargonnya yang penuh semangat jihad.
Tapi ya itu, stiker-stiker itu cuma menjadi hiasan. Toh, mereka yang memiliki mobil mewah dengan berbagai stiker bernuansa Islam, tetap saja menunjukkan kelakuan tak Islami. Sering saya lihat, pengendara yang bahkan mengenakan jilbab seenaknya menerobos lampu merah. Tak memberi kesempatan pejalan kaki menyeberang. Atau memepet pesepeda seperti saya.
Saya jadi ingat ketika makan mie ayam beberapa bulan silam. Ibu-ibu muda yang putih bersih dan wangi-wangi, semuanya mengenakan jilbab ngerumpi di samping saya. Dan masya Allah, rumpiannya itu lo, jauh sekali dari nilai-nilai Islam yang saya pahami. Mereka dengan santai mengungkapkan barang-barang mewah yang harganya selangit yang dikenakannya. Duh……….
Maaf, sekali lagi saya sangat awam dengan agama yang sudah saya anut sejak saya lahir ini. Mungkin saya perlu belajar banyak untuk memahami mengapa semua keadaan di atas bisa terjadi. Islam sebagai ideologi dan agama tentu tak mengajarkan hal-hal yang anti sosial. Tapi sebagai seorang muslim saya wajib menyuarakan hal ini.

Hallo Juli, apa kabar?
Minta ijin nge-link postinganmu di blog gue ya.
Salam,
silakan disimak,
http://barliant.blogspot.com/2007/08/sengaja-saya-tulis-posting-kali-ini.html
kabar baek bos.
Ok deh, eh boleh nulis link loe gak di blog gw, saling tukeran deh biar silaturahmi terus kejaga…..
Boleh dong.. biar panjang umur dengan menyambung silaturahmi