Dua hari yang lalu saat jalan ke Taman Menteng saya bertemu seorang penyemir sepatu.
“Sekolah?” tanyaku.
“Udah nggak lagi. Berenti di kelas 2.”
“Kenapa gak diterusin?”
“Gak punya biaya,” jawab penyemir berambut merah itu.
“Sekarang tinggal dimana?” tanyaku penasaran.
“Gak punya rumah. Numpang di rumah orang.”
Percakapan tadi terjadi di tengah riuh rendah anak-anak muda berpakaian necis sambil menggandeng pacarnya yang cantik-cantik dengan wangi parfum yang harganya selangit.
Saya tak bisa berkata apa-apa. Bukankah pendidikan seharusnya sudah tak menjadi masalah di ibu kota ini? Anggaran Pendapatan Belanja Daerah yang mencapai 20,8 triliun rupiah (revisi dari hurri) apakah tak bisa hanya untuk membuat si anak semir tadi sekolah? “Sekolahnya sih gratis tapi bukunya gimana? Seragamnya?”
Ah, dua hari lagi bangsa ini memperingati kemerdekaannya. Sudah 62 tahun merdeka, tapi kita masih terus melihat kemiskinan di sana-sini. Anak-anak putus sekolah, anak-anak jalanan yang terus diintai para penjahat untuk kemudian dimutilasi, dan orang-orang yang tak punya tempat tinggal.
Sudahkah kita merdeka?

Komentar Terakhir