
Ada kisah lain dari kekejaman junta militer Burma di bawah kepemimpinan Jenderal Than Swe. Mereka adalah para eksil muslim yang kini menetap di rawa-rawa kotor di perbatasan Bangladesh.
Nama camp ini Tal. Di dalamnya tinggal 8.000 pengungsi yang menjadi korban dari junta militer. Pengungsi ini merupakan suku minoritas Rohingya yang beragama Islam.
Hidup mereka kini terlunta-lunta. Pemerintah setempat tidak mengakui keberadaan mereka. Untuk hidup para pengungsi ini harus mendapatkan uang dengan berbagai cara seperti mengemis, membalak hutan, dan prostitusi.
Penderitaan mereka teramat parah. Dengan permukiman seadanya, mereka terbakar saat terik dan basah dikala hujan. Tapi mereka bahagia dengan keadaan ini ketimbang hidup di Burma. “Mereka (Junta) menghancurkan komunitas muslim),” kata Dudu Miah seorang pekerja sosial.
Junta mengambil tanah mereka untuk dibangun kamp militer, dan menyeret para kaum pria untuk bekerja paksa dan sama sekali tak memberi pendidikan. “Bahkan kami harus mendapat izin menikah dan untuk punya anak,” lanjut Dudu.
Cerita di atas disarikan dari: http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/7019882.stm
Kini para biksu pun dibunuh dan ditangkap karena bergerak menentang kekejaman junta. Negeri yang mayoritas beragama Budha itu kini meradang. Koneksi internet diputus. Dilarang berkumpul lebih dari lima orang dan aktivis satu persatu ditangkap tanpa pengadilan yang jelas.
Indonesia sebagai salah satu negara terbesar di ASEAN seharusnya cepat bergerak menanggapi masalah Burma ini. Menekan Burma dengan sanksi ekonomi mungkin malah akan memperparah keadaan masyarakat yang sudah teramat sulit sejak pemerintah menaikkan harga BBM hingga 500 persen.
Lewat tekanan diplomatis, dari berbagai negara, semoga junta segera tumbang dan demokrasi mekar di sana. Semoga……

Komentar Terakhir