Arsip untuk November, 2007

mirip

Apa jadinya jika wajah kita mirip dengan seseorang yang kebetulan punya masalah dengan banyak orang?

Ada yang merasa mirip saya????? 

Itulah yang terjadi pada saya ketika datang pada sebuah kongkow kecil di sebuah hotel kemarin malam. Kebetulan saya belum kenal dengan beberapa orang kecuali dengan seorang teman yang juga ikut kumpul malam itu.

Saat saya mengetuk pintu kamar. Pria bertampang Arab itu sedikit kaget dan ragu tapi keadaan segera mencair setelah dia yakin yang datang itu saya, bukan orang yang mirip saya.

Ditemani kepiting asam manis yang disantap lahap oleh mereka, cerita-cerita pun mengalir. Ternyata saya dianggap mirip dengan seseorang yang menjadi bagian dari komunitas mereka.

“Wajah loe mirip banget ma dia,” kata Mumu yang jago meracik kopi plus jahe dan kapulaga itu.

Rupanya mereka adalah orang-orang yang punya pengalaman buruk dengan orang yang mirip saya itu. Guyonan pun mengalir deras tentang orang itu.

Sebentar kemudian pintu kamar kembali diketuk. Anggota kongkow bertambah. Eh, dia ternyata juga sempat terhenyak melihat saya.

“Hampir gue mundur lagi pas ngeliat dia,” katanya menunjuk saya. Tawapun tumpah.

Terakhir datang lagi anggota yang terakhir. Reaksinya rupanya sama. Dia terbengong-bengong melihat saya.

“Kamu bukan dia kan?” katanya terbata-bata.

Dan sepenggal malam itupun penuh cerita-cerita tentang orang yang mirip saya itu.

Guru

Mumpung masih deket-deket hari guru yang baru diperingati kemarin, saya ingin mengucapkan selamat hari guru. Banyak kenangan saat saya masih menimba ilmu dengan seragam abu-abu dulu terutama kenangan dengan guru-guru.

Ada seorang guru yang sepakat diberi nama Kimung, wajahnya memang mirip pelawak Kimung dari grup Tomtam. Tubuhnya tinggi besar, tapi pak guru ini-maaf-sedikit kurang pendengarannya. Hampir tiap pagi kalau lewat di muka dia, beberapa murid sering mengerjainya, bukan mengucapkan “selamat pagi pak” tapi mengucapkan kata-kata yang tak layak tapi tetap dengan gerakan kepala yang menunduk-nunduk seperti orang berucap selamat pagi. Karena pendengarannya yang kurang dia tak pernah komplain. Paling kami-kami cekikikan saja.

Suatu ketika dia mengajar matematika di kelas kami. Saat dia menulis di papan tulis, di belakang seperti biasa anak-anak ribut. Ada yang mengobrol, ngegosip dan segala macem. Seketika pak Kimung membalik badan dan langsung membentak.

“Kalian yang di baris kanan kenapa ribut terus dari tadi?” katanya sedikit membentak. Terang saja kami tambah cekikikan, soalnya yang ribut bukan teman-teman dari baris kanan melainkan di baris kiri belakang…

Kenakalan yang lain, saya pernah melempar guru geografi yang tengah enak mengajar dengan kapur. Cuma karena saya taruhan dengan teman sebangku, berani gak ngelempar tuh guru. Nekat saya lempar aja, eh bener tuh kapur mendarat persis di sisi kanan pak guru. Tau sendiri akibatnya…..saya diminta keluar kelas….hehehe….

Suatu ketika udara di luar sudah sangat mendung kelas sudah memasuki pelajaran terakhir. Pelajaran yang sungguh tak menarik: Bimbingan Karier. Timbullah pikiran nakal anak-anak satu kelas. Untuk mematikan lampu kelas dengan melonggarkan motor penggerak lampu.

Satu kelas pun kompak dengan rencana itu. Benar saja, cuaca yang mendung tebal dan hujan mulai turun menambah mantap rencana ini. Seketika kelas gelap. Sang guru pun dengan suara khas ketukan sepatu beradu dengan lantai mendatangi kelas.

“Lo kok gelap sekali?” tanyanya.

“Lampunya mati buuuu…..” koor suara anak-anak.

“Ya sudah kalau gitu pelajaran dibatalkan…”

Dan seluruh ruangan pun bertempik sorak……..

Ah, kalau ingat kenangan-kenangan nakal dengan guru, rasanya ingin segera meminta maaf atas segala kenakalan-kenakalan dulu.

Selamat Hari Guru

Car Free Day Cuma Rutinitas Doang?

Pertanyaan ini muncul setelah saya datang ke sana pada sekitar pukul 11 siang. Umbul-umbul berjejer di seputar kawasan Kota Tua. Oh ya saya ke sana naik bus transjakarta. Turun dari bus, saya harus berjalan kaki menuju arah kawasan kota.

Awalnya saya pikir kawasan yang bebas asap kendaraan sudah dimulai dari depan Museum Bank Mandiri. Nyatanya mobil, angkot, bus, motor dan bajaj masih berseliweran. Ealah ternyata yang ditutup hanya pintu masuk menuju kawasan Museum Fatahilah.

Sebagai awam, sama sekali tak ada petunjuk atau selebaran mengenai manfaat car free day. Tak ada satupun sosialisasi yang diberikan kepada warga sekitar tentang acara ini. Mereka hanya tahu ada acara di panggung depan museum Jakarta.

Panggung yang sepi acara itu akhirnya satu per satu ditinggalkan oleh penontonnya. Beberapa panitia saya lihat malah asyik ngadem di dalam Cafe Batavia.

Kalau hari bebas kendaraan bermotor terus seperti ini, tentu kesadaran masyarakat tak bisa kita perbaiki. Tak ada edukasi apapun tentang mengapa diadakan acara seperti ini.

Beberapa kritikan lain juga muncul di Koran Tempo (26/11) yang menulis tentang sponsor Car Free Day yang ternyata perusahaan otomotif! Belum lagi kekecewaan para pesepeda yang ikut datang ke sana.

Bagaimana mungkin sebuah acara hari bebas kendaraan disponsori perusahaan otomotif yang produknya ikut menyumbang polusi terbanyak di ibu kota.

Sosialisasi memang menjadi masalah yang selalu menjerat birokrasi kita.

Bicycle Film Festival

 

Di Australia selama awal Desember nanti bakal diselenggarakan bicycle film festival. Ini adalah pesta perayaan para pesepeda dunia. Dicuplik dari situs ini 

About BFF

The Bicycle Film Festival celebrates the bicycle. We are into all styles of bikes and biking. If you can name it-Tall Bike Jousting, Track Bikes, BMX, Alleycats, Critical Mass, Bike Polo, Cycling to Recumbents- we’ve probably either ridden or screened it. What better way to celebrate these lifestyles than through art, film, music and performance? We bring together all aspects of bicycling together to advocate its ability to transport us in many ways. Ultimately the Fest is about having a good time.

We have been fortunate enough to include works of established artists such as Jorgen Leth, Mike Mills, Jonas Mekas, Blonde Redhead, Swoon and Michel Gondry among others as part of our programming. Many of the artists who have participated in the Bike Film Fest such as Nick Golebiewski, the Neistat Brothers and Lucas Brunelle are gaining more and more re-cognition for their work. Sign up for the email list or just come out and enjoy our 7th Annual Bicycle Film Festival.

Thanks.Brendt Barbur
Director brendt@bicyclefilmfestival.com
P.S. bikes rule

Siapa ingin berpartisipasi???

Doa bisa datang dari mana saja

Akhir pekan kemarin setelah gagal berangkat bersepeda ke Rindu Alam akhirnya saya memilih menyusuri jalan-jalan di daerah depok dan UI. Sepanjang perjalanan saya banyak melihat orang berolahraga lari di pinggir-pinggir jalan.

Kasihan juga melihat mereka yang berjalan kaki tapi tanpa trotoar yang memadai. Apalagi sesekali mereka harus mengalah pada kaki lima yang hampir memenuhi trotoar. Belum lagi mobil yang parkir seenaknya diatas trotoar. Aku melihat semua adegan itu dalam gerak lambat sesuai ayunan pedalku yang hanya aku patok 15 kpj.

Di kampung-kampung orang begitu berhasrat untuk berolahraga. Tapi pemerintah kita tampaknya masih harus bekerja keras untuk menyediakan ruang-ruang publik yang lebih luas. Karena selama ini ruang berolahraga hanya dimiliki perumahan mewah dan apartemen mewah yang maaf, warga di luar kompleks dilarang menikmatinya. Hingga akhirnya mereka terpaksa berolahraga begitu saja di jalan-jalan yang akhirnya sengaja mereka tutup.

Kayuhan sepeda akhirnya sampai juga di rumah kakak saya yang langsung menyediakan sarapan nasi goreng. Ah, nikmatnya setelah lelah  nasi goreng itu saya santap tandas.

Dalam perjalanan pulang saya ingin sekali mampir ke sebuah bengkel sepeda di kawasan Kukusan Depok. Nama bengkel sepeda itu Aliong. Di toko yang sempit itu saya bertemu dengan pesepeda lainnya.

Dia (maaf namanya saya lupa) rupanya hampir tiap hari bersepeda dari rumah ke kantornya. “Sehat dan mengurangi polusi,” katanya. Ungkapan yang tulus tentang upaya mengurangi polusi justru bukan datang dari elit politik atau pejabat pemerintah melainkan dari seorang pesepeda biasa.

Dia pun bingung melihat semua perlengkapan sepeda saya. Mulai helmet sampai lampu belakang kelap-kelip merk ‘mata kucing’. “Lengkap amat mas,” katanya. “Jaga-jaga buat di jalanan yang sudah makin krodit,” kata saya.

“Sudah punya anak?” tanyanya.

“Belum.”

“Wah kenapa?”

“Istri saya sudah dua kali keguguran,” kata saya menelan ludah.

“Oh maaf.”  Dia langsung mengajak saya duduk. Keakraban yang tak dibuat-buat.

“Istri saya juga begitu, keguguran dulu, tapi sekarang malah sudah dapat 3.” Dia tampak bahagia.

“Saya doakan semoga cepet dapat momongan, biar gak maen sepeda terus kalo akhir pekan,” katanya terbahak.

Sebuah doa yang tulus dari seorang yang baru saja saya kenal itu sungguh menyentuh. Saya lalu membayangkan, seandainya tak ada benih yang gugur dari rahim istri saya, kini sekarang tentu sedang asyik menimang-nimangnya.

Akhir pekan bisa jadi saya dikurung dan tak bisa pergi kemana-mana karena istri pasti kerepotan dengan polah si kecil.

“Sudah jangan dilamunin.” Teman tadi mengagetkan lamunan saya.

“Saya benar-benar tulus mendoakan ente.”

Siang makin menyengat, saatnya kembali pulang. Tatapan pria tadi mengiringi kayuhan pedal saya yang perlahan meninggalkan bengkel itu.

Terimakasih kawan untuk doa yang tulus itu.

Halaman Berikutnya »


Wajah

Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

Today’s Quote

"Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

Corong

logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

 

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930