Pertanyaan ini muncul setelah saya datang ke sana pada sekitar pukul 11 siang. Umbul-umbul berjejer di seputar kawasan Kota Tua. Oh ya saya ke sana naik bus transjakarta. Turun dari bus, saya harus berjalan kaki menuju arah kawasan kota.
Awalnya saya pikir kawasan yang bebas asap kendaraan sudah dimulai dari depan Museum Bank Mandiri. Nyatanya mobil, angkot, bus, motor dan bajaj masih berseliweran. Ealah ternyata yang ditutup hanya pintu masuk menuju kawasan Museum Fatahilah.
Sebagai awam, sama sekali tak ada petunjuk atau selebaran mengenai manfaat car free day. Tak ada satupun sosialisasi yang diberikan kepada warga sekitar tentang acara ini. Mereka hanya tahu ada acara di panggung depan museum Jakarta.
Panggung yang sepi acara itu akhirnya satu per satu ditinggalkan oleh penontonnya. Beberapa panitia saya lihat malah asyik ngadem di dalam Cafe Batavia.
Kalau hari bebas kendaraan bermotor terus seperti ini, tentu kesadaran masyarakat tak bisa kita perbaiki. Tak ada edukasi apapun tentang mengapa diadakan acara seperti ini.
Beberapa kritikan lain juga muncul di Koran Tempo (26/11) yang menulis tentang sponsor Car Free Day yang ternyata perusahaan otomotif! Belum lagi kekecewaan para pesepeda yang ikut datang ke sana.
Bagaimana mungkin sebuah acara hari bebas kendaraan disponsori perusahaan otomotif yang produknya ikut menyumbang polusi terbanyak di ibu kota.
Sosialisasi memang menjadi masalah yang selalu menjerat birokrasi kita.

0 Tanggapan ke “Car Free Day Cuma Rutinitas Doang?”