Arsip untuk Desember, 2007

cinta kita mati

sepikah kau ketika rintik menderu?
malukah kau pada malam yang pernah mengelabuimu?
rindukah kau pada senyum yang beku?

berikan aku sedikit saja lesung yang sabit
disitu aku ingin mengintip sisa-sisa rindu yang menggebu
aku ingin membekap sepimu
agar sekujur malu bisa terbasuh

tik..tak…tik…tak…tik…tak….

hatiku berdetak
dan engkau tersentak
mantra cinta kita sesak

dan engkau berdiri disitu
menyatakan cinta kita mati
seperti hutan yang sepi
ditinggal pergi penghuni

Bhutto


Hari Kamis (27 Desember) itu mungkin hari sial buat Benazir Bhutto. Dua tembakan di leher dan dada membuatnya tersungkur. Sedetik kemudian bom menggelegar. Benazir yang dilarikan ke rumah sakit tak tertolong. Dia wafat ketika ingin kembali memimpin negeri yang pernah ditinggalkannya karena diasingkan .

Diapun sempat menuliskan surat elektronik kepada Mark Siegel yang kemudian disiarkan CNN.

“Kalau saya terluka, saya akan meminta (Pervez) Musharraf untuk bertanggung jawab. Saya sengaja dibuat untuk selalu merasa tak aman oleh antek-anteknya. Tak mungkin apa yang terjadi dengan pelarangan saya menggunakan kendaraan pribadi, atau menggunakan jendela warna gelap, atau memberi jammer, atau memberi perlindungan empat mobil polisi di tiap sisi dapat terjadi tanpa campur tangan dia (Musharraf).”

Kini Bhutto tak bisa lagi meminta Musharraf bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada dirinya. Tubuhnya terbujur kaku dan ia rebah di tanah kelahirannya di Larkana. Perempuan yang sudah dua kali menjadi perdana menteri itu dimakamkan tepat di samping kubur ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto yang tewas karena hukum gantung.

cinta dan karang

Gelombang yang pasang terpuruk pada pantai yang suntuk
pasirnya lirih
bulirnya lantak pada karang yang menerima takdir tanpa pernah rintih

buih-buihnya meninggalkan cerita tentang sebuah kisah
dua manusia yang bahagia
menuliskan kata-kata cinta pada pasir

setelah itu bertanyalah ia pada karang
benarkah setiap manusia selalu menyatakan cinta lewat telikungan kata-kata?

Perjalanan Yang Tak Singkat

Kalau kau ragu tentang penantianku yang berlumut
tataplah sejenak malam yang jingga
maka akan kau dapati raga yang tak lelah

Setiap perjalanan pulang selalu mengidamkan bahagia
pada dahan-dahan yang rapuh
dan gemeretaknya tersapu angin

Lalu daun-daun yang gugur akan bercerita
setiap detik yang penuh angan
kumpulan menit berpeluk malam

“Kenapa kau pulang bertangan hampa?”

hujan yang rintik menggenapkan ketidakpastian
apakah malam ini akan habis hanya karena kau datang
atau tubuhmu yang rapuh jatuh pada peluh

ketika

Kenapa kau datang saat rindu belum kubasuh
ketika musim belum lagi berganti
dan laut masih saja bergejolak

air matamu tetes ketika rangkaian cerita itu kuputar ulang
tetes itu jatuh di belukarnya rindu
“Apakah kau ingin mengulang cerita ketika kau hujamkan sembilu diantara paru dan jantungku?”

Matamu bulan yang redup
menatap aku dan cakrawala yang tak berujung
sesekali engkau mendesah dibalik resah
“Aku mati tanpamu”

berikan aku segala kisahmu
akan aku ramu menjadi dusta yang utuh

Halaman Berikutnya »