
Raung buldoser gemuruh pohon tumbang
berpadu dengan jerit isi rimba raya
tawa kelakar badut-badut serakah
tanpa hph berbuat semaunya
lestarikan alam hanya celoteh belaka
lestarikan hutan mengapa tidak dari dulu saja
oo mengapa…..
jelas kami kecewa mendengar gergaji
tak pernah berhenti
demi kantong pribadi
tak ingat rezeki generasi nanti…..
Iwan Fals sudah resah dengan pembalakan liar sejak lama. Hutan yang terus digergaji kini menyisakan luka yang dalam: banjir, longsor, kekeringan dan hilangnya flora dan fauna khas Indonesia.
Akhir pekan lalu saya ke Pekanbaru, Riau. Dalam perjalanan menuju Siak Sriindrapura, sepanjang mata memandang hanya hamparan permadani hijau berduri alias kebun sawit yang terhampar. Hutan dataran rendah yang sangat terkenal di daerah ini sudah lama musnah.
Coba dengar apa yang pemandu saya katakan saat saya bertanya tentang Tesso Nilo sebuah kawasan cagar alam yang kabarnya memiliki bidoversitas sangat tinggi. “Di Tesso Nilo sekarang sudah rusak, gajahnya sudah berkurang.”
Ah, pemandu wisata ini dengan enteng mengatakannya. Seakan tak ada beban bahwa kawasan itu seharusnya menjadi tempat pariwisata yang kelak bakal menghasilkan devisa terbanyak ketika minyak tak lagi muntah.
Hutanku,
Rusak !
Langitku,
Bocor !
Udara yang aku hisap,
Tercemar !
Makanan yang aku makan,
Racun !
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Hijauku Hijau dunia
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Dunia
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Dunia
Hijau Hijauku Hijau
Hijau
Saya pun berharap konferensi perubahan iklim di Bali bisa menghasilkan sebuah moratorium penebangan hutan di Indonesia. Sehingga kelak, hutan tak cuma jadi dongeng anak cucu kita kelak…..

Komentar Terakhir