Berkunjung ke Negeri Istana
Matahari sudah bersembunyi ketika kami tiba di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru Riau akhir pekan lalu. Bumi Lancang Kuning yang baru saya jejak pertama kali ini punya pesona tersendiri yang membuat saya langsung tertarik ketika undangan tiba di meja saya. Maklum, selain memiliki kekayaan alam yang berlimpah, daerah ini terkenal dengan khasanah budaya
Istana Siak
Melayunya.

Mesjid Syahbuddin
Riau merupakan salah satu pewaris kejayaan Kesultanan Melayu di masa silam. Jejak-jejak itulah yang coba kami telusuri dalam waktu yang sangat singkat. Subuh saya sudah terbangun. Seperti biasa, berada di tempat baru suasana pagi selalu saya buru. Ahad pagi itu, warga kota Pekanbaru sudah sibuk berolahraga.
Kota yang lengang dengan pedestrian yang lebar dan bersih dipenuhi warga yang ingin mengikuti gerak jalan dalam rangka hari Korpri. Sebagian lainnya memilih berolahraga di kantor Gubernuran. Arah kaki saya tujukan ke pasar. Tapi tak ada yang menarik di pasar kota itu. Makanan dan minuman khas pagi hari yang biasanya banyak ditemukan di pasar tak saya temukan pagi itu.
Waktu sudah mengejar saya untuk buru-buru kembali ke penginapan dan berangkat ke Siak Sri Indrapura. Kota di pinggiran sungai Siak ini menjadi tujuan utama kami. Di sinilah jejak-jejak kerajaan Melayu yang berkembang pesat hingga menjadi kerajaan Melayu Islam terbesar di kawasan Pantai Timur Sumatra dan Selat Malaka.
Kerajaan Siak berdiri npada 1723 oleh Raja Kecil bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah. Pusat kerajaan ini berpindah-pindah mulai dari kota Buantan ke Mempura, ke Senapelan Pekanbaru kembali lagi ke Mempura dan akhirnya menetap di kota Siak Sri Indrapura. Untuk menempuh kota ini kami menempuh jalan darat dengan jarak kurang lebih 125 kilometer. Membutuhkan waktu 2,5 jam untuk tiba di Siak.

Kamar Raja Siak
Meski sebelumnya kami ingin memilih jalur menyusuri sungai Siak, namun akhirnya dipilih untuk jalan darat saja. Meninggalkan kota Pekanbaru yang sibuk kami mengarah ke Timur Selat Malaka. Sepanjang perjalanan saya melihat permadani hijau berduri alias perkebunan kelapa sawit. Bosan juga memandang perkebunan yang sangat monoton itu. Sesekali terlihat lahan kosong yang belum ditanami. Tampaknya itu bekas hutan yang ditebangi.

jembatan Tengku Sultanah Agung Latifah
Kota sudah dekat. Untuk mencapainya kami melewati jembatan yang baru saja selesai dibangun. Tabrani, seorang pegawai Dinas Kebudayaan Seni dan Pariwisata yang mengiringi kami bercerita soal jembatan mewah yang diberinama jembatan Tengku Sultanah Agung Latifah yang sebelumnya menimbulkan banyak kontroversi itu. “Dulu ada protes tentang ketinggian jembatan karena sungai Siak dilewati kapal-kapal besar pengangkut minyak,” katanya.
Beruntung kini jembatan mewah itu sudah berdiri gagah. Sayang ada larangan untuk kendaraan berhenti di pinggir jalan. Pemerintah rupanya lupa, jembatan sebetulnya juga bisa jadi obyek wisata yang menarik. “Nanti bakal ada lift di tiang di tengah jembatan untuk melihat kota dari atas,” kata Tabrani.
Perjalanan kami lanjutkan untuk menuju Istana Siak. Istana inilah yang diagung-agungkan sebagai warisan arsitektur megah yang masih tersisa komplit hingga kini. Benar saja, dari jauh, bangunan bergaya Eropa yang berpadu dengan gaya Arab dan Melayu. Istana Siak dibangun pada 1889 semasa pemerintahan Sultan Assyayidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin Syah (Sultan XI). Istana ini diberi nama Assyiratul Hasyimiah. Kerajaan Siak mencapai puncak kejayaan pada abad ke-16 sampai abad ke-20.

Motif marmer istana Siak
Tapi jangan bayangkan istana ini masih hidup seperti istana di Kasultanan Yogyakarta atau di Solo. Tempat ini hanya menjadi semacam museum saja tentang berbagai kegiatan di masa lampau. Koleksi yang ada di museum ini, antara lain kursi singgasana kerajaan yang bersepu emas, duplikat mahkota kerajaan, brankas kerajaan yang hingga kini belum bisa dibuka dan isinya masih misterius, serta gramofon besar bernama Komet yang hingga sekarang masih bisa memainkan karya-karya Mozart dan Sebastian Bach.

Dari atas Istana
Sayang, kamar raja yang berada di sebelah bangunan istana tak bisa kami lihat. “Penghuninya masih keturunan raja dan hingga kini masih ditempati,” kata Tabrani. Matahari begitu menyengat ketika kami meninggalkan istana. Di perjalanan terlihat berdiri gagah mesjid kerajaan bernama Mesjid Syahbuddin yang didirikan bersamaan waktunya dengan pembuatan istana. Setelah itu ada bangunan Balai Kerapatan Tinggi. Dulu di sini masalah-masalah krusial kerajaan dibicarakan dan diselesaikan.
Meski sebentar pengalaman berkunjung ke negeri istana itu memberi kesan yang dalam. Sayangnya, tak ada suvenir menarik yang bisa kami beli untuk sekedar oleh-oleh.
JULI HANTORO

Keren yaa…. Nice Report
assalamualaikum ncik2 puan2
aku jadi kangen niy dengan bumi kelahiran
moga makin maju ajo
jembatan yang dulu aku tinggal lom jadi
ruponyo sekarang dah megah ye..
haa dah setaun pulak ruponyo aku tinggalkan siakku niy
tp tak apolah aku yang sekarang di tanah pasundan masih bisa nengok perkembangan siak dari jauh. thank ye infonyo..
siak….i’m comiiiiiing!!!!!!!
Assalmaualaikom
saya tak pasti macam mana nak cerita tetapi saya mencari waris saya yang menurut arwah ayah dan tok ki saya bahawa kami berasal dari keturunan raja siak.
Mohon kepada sesiapa yang mengetahui asal usul titih keturunan atau memang berketurunan raja siak harap dapat beri maklumat kepada saya di alamat email dinbpimb@gmail.com atau dinbpimb@hotmail.com atau telefon saya 013-9425991.
Jasa tauan puan amat dihargai.
Assalamualaikum
Salam kenalan dari saya. kalau ingin mengunjungi BLOG saya
http://syaiful-pbb.blogspot.com
Assalamualaikum
Salam kenal, saya dari semarang sedang mengumpulkan data untuk keluarga yang lg memerlukan kejelasan tentang silsilah atau keturunan anak cucu dari raja ke sembilan siak indrapura hingga ke dua belas. Mohon bantuannya bila ada yang mengetahui silahkan hubungi saya di 081335110170, sgh_230_kdr@yahoo.com