Bulan baru saja lindap. Tapi wajahnya memancarkan purnama. Tubuhnya yang berbalut busana bersiluet melambai-lambai. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Aroma parfum oriental yang tersapu angin membangkitkan kenangan-kenangan.
“Apakah kita akan melumat malam ini bersama?”
Perempuan dengan wajah penuh gejolak itu mengajak aku mengenang kembali mimpi-mimpi yang pernah kami bangun bersama.
“Kenapa kau terdiam?” Dia terus mendekatkan tubuhnya padaku. Perlahan beberapa helai rambutnya jatuh di pundakku. Rambut warna mahogany dengan volume yang dibiarkan mengembang di bagian bawah itu merangsek wajahku.
“Sekian lama kau meninggalkanku tanpa kabar,” suaraku tersendat.
“Bukankah itu keinginanmu?” Dia balik bertanya.
“Aku terbang ke sebuah negeri impian. Tentang bintang yang aku lihat rendah. Tentang malam yang aku lihat sepi. Tentang lelaki yang membuat aku jatuh hati.”

Komentar Terakhir