
Hari Kamis (27 Desember) itu mungkin hari sial buat Benazir Bhutto. Dua tembakan di leher dan dada membuatnya tersungkur. Sedetik kemudian bom menggelegar. Benazir yang dilarikan ke rumah sakit tak tertolong. Dia wafat ketika ingin kembali memimpin negeri yang pernah ditinggalkannya karena diasingkan .
Diapun sempat menuliskan surat elektronik kepada Mark Siegel yang kemudian disiarkan CNN.
“Kalau saya terluka, saya akan meminta (Pervez) Musharraf untuk bertanggung jawab. Saya sengaja dibuat untuk selalu merasa tak aman oleh antek-anteknya. Tak mungkin apa yang terjadi dengan pelarangan saya menggunakan kendaraan pribadi, atau menggunakan jendela warna gelap, atau memberi jammer, atau memberi perlindungan empat mobil polisi di tiap sisi dapat terjadi tanpa campur tangan dia (Musharraf).”
Kini Bhutto tak bisa lagi meminta Musharraf bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada dirinya. Tubuhnya terbujur kaku dan ia rebah di tanah kelahirannya di Larkana. Perempuan yang sudah dua kali menjadi perdana menteri itu dimakamkan tepat di samping kubur ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto yang tewas karena hukum gantung.

Komentar Terakhir