Mbak yu Ipe yang baru bekerja di kedutaan Mandraka tengah malam menelepon saya. “Aduh kepriye iki, mau ono telik sandi sing nakoki awakku?” Mbak yu Ipe sesenggukan.
Maklum, mana pernah dalam sejarah hidupnya mbak yu ini berurusan ama intel, kecuali intel yang satu itu: indomie telur. “Tenang aja mbak yu, sekarang agen itu dimana?” aku bertanya-tanya.
“Nah itu dia, agennya saiki wis ra ono, jare mau mung mampir neng kantor RW,” katanya masih dalam bahasa yang terbata-bata. Seperti hujan cerita mbak yu Ipe mengalir deras lewat telepon.
Pagi itu, seorang telik sandi negeri Asmaraloka berkeliling di seputar hutan larangan, tempat mbak yu Ipe sekeluarga tinggal. Dia membawa-bawa sebuah surat tugas berkop TSA alias Telik Sandi Asmaraloka. Kabarnya telik itu ingin mendata semua warga yang bekerja di perwakilan asing di negeri itu.
“Ini demi keselamatan negeri ini dari ancaman para penghianat,” ujar pak Lejar seorang tetua warga yang menemui sang telik, mengutip kata-kata telik sandi itu.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Mbak yu tampak bingung.
“Dia minta semua data tentang diri dan keluargaku.”
Lo agen kok seperti petugas pencatat sensus penduduk, pikirku.
“Mungkin dia bukan telik sandi profesional. Biasanya kan tak perlu menunjukkan surat tugas atau identitas apapun pada orang kalau dia seorang telik.” Panjang lebar aku menjelaskan.
“Mana aku ngerti, aku takut nanti bisa seperti si Mas Urip Sukirno tetangga desa sebelah yang ditemukan tewas saat menyeberang sungai tempo hari itu lo…..”
“Yo wis tenang to mbak yu….ngko tak cari tau apa betul sekarang kerajaan sedang resah dengan orang-orang seperti kamu itu,” kataku menenangkan.
“La aku ini rak mung cuma wong cilik sing nggolek dhuwit seko perwakilan kerajaan asing di sini ta….”
“Coba diingat, apa mbak yu pernah tau kalau mbak yu ini sering diawasi para telik itu? Apa mbak yu pernah berbuat sesuatu yang menyakitkan sehingga petinggi kerajaan kita merasa tersinggung?”
“La ndak pernah,” katanya singkat.
Haripun bergulir. Suasana kerajaan aman tentram. Di beberapa pelosok negeri terjadi keributan kecil yang tak membuat sibuk kerajaan. Berita tentang seorang punggawa kerajaan yang memiliki kekayaan terbesar di negeri ini menjadi semacam intermezzo saja.
Sang raja lebih asyik bermain-main dengan gamelan sambil menciptakan sendra tari baru yang langsung dipatenkannya. Mungkin takut idenya dicuri negeri lain.
Mbak yu pun tenggelam dengan pekerjaannya. Hanya ia kini lebih berhati-hati. “Aku boleh to pulang larut?” Begitu mbak yu selalu mengungkapkan kekhawatirannya semenjak peristiwa telik sandi itu menghampirinya.
foto: indomedia.com
Matahari sudah bersembunyi ketika kami tiba di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru Riau akhir pekan lalu. Bumi Lancang Kuning yang baru saya jejak pertama kali ini punya pesona tersendiri yang membuat saya langsung tertarik ketika undangan tiba di meja saya. Maklum, selain memiliki kekayaan alam yang berlimpah, daerah ini terkenal dengan khasanah budaya


Komentar Terakhir