Arsip untuk Desember, 2007



Telik sandi

Mbak yu Ipe yang baru bekerja di kedutaan Mandraka tengah malam menelepon saya. “Aduh kepriye iki, mau ono telik sandi sing nakoki awakku?” Mbak yu Ipe sesenggukan.

Maklum, mana pernah dalam sejarah hidupnya mbak yu ini berurusan ama intel, kecuali intel yang satu itu: indomie telur. “Tenang aja mbak yu, sekarang agen itu dimana?” aku bertanya-tanya.

“Nah itu dia, agennya saiki wis ra ono, jare mau mung mampir neng kantor RW,” katanya masih dalam bahasa yang terbata-bata. Seperti hujan cerita mbak yu Ipe mengalir deras lewat telepon.

Pagi itu, seorang telik sandi negeri Asmaraloka  berkeliling di seputar hutan larangan, tempat mbak yu Ipe sekeluarga tinggal. Dia membawa-bawa sebuah surat tugas berkop TSA alias Telik Sandi Asmaraloka. Kabarnya telik itu ingin mendata semua warga  yang bekerja di perwakilan asing di negeri itu.

“Ini demi keselamatan negeri ini dari ancaman para penghianat,” ujar pak Lejar seorang tetua warga yang menemui sang telik, mengutip kata-kata telik sandi itu.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Mbak yu tampak bingung.

“Dia minta semua data tentang diri dan keluargaku.”

Lo agen kok seperti petugas pencatat sensus penduduk, pikirku.

“Mungkin dia bukan telik sandi profesional. Biasanya kan tak perlu menunjukkan surat tugas atau identitas apapun pada orang kalau dia seorang telik.” Panjang lebar aku menjelaskan.

“Mana aku ngerti, aku takut nanti bisa seperti si Mas Urip Sukirno tetangga desa sebelah yang ditemukan tewas saat menyeberang sungai tempo hari itu lo…..”

“Yo wis tenang to mbak yu….ngko tak cari tau apa betul sekarang kerajaan sedang resah dengan orang-orang seperti kamu itu,” kataku menenangkan.

“La aku ini rak mung cuma wong cilik sing nggolek dhuwit seko perwakilan kerajaan asing di sini ta….”

“Coba diingat, apa mbak yu pernah tau kalau mbak yu ini sering diawasi para telik itu? Apa mbak yu pernah berbuat sesuatu yang menyakitkan sehingga petinggi kerajaan kita merasa tersinggung?”

“La ndak pernah,” katanya singkat.

Haripun bergulir. Suasana kerajaan aman tentram. Di beberapa pelosok negeri terjadi keributan kecil yang tak membuat sibuk kerajaan. Berita tentang seorang punggawa kerajaan yang memiliki kekayaan terbesar di negeri ini menjadi semacam intermezzo saja.

Sang raja lebih asyik bermain-main dengan gamelan sambil menciptakan sendra tari baru yang langsung dipatenkannya. Mungkin takut idenya dicuri negeri lain.

Mbak yu pun tenggelam dengan pekerjaannya. Hanya ia kini lebih berhati-hati. “Aku boleh to pulang larut?” Begitu mbak yu selalu mengungkapkan kekhawatirannya semenjak peristiwa telik sandi itu menghampirinya.

Basuki

indomedia.comfoto: indomedia.com

“yen tak pikir-pikir……” itulah kalimat yang kerap digunakan pelawak Basuki saat manggung bersama Srimulat pada era 1980-an. Jargon lainnya adalah “wes-ewes-ewes……..” yang akhirnya dijadikan iklan oleh produk jamu Antangin.

Hampir tiap iklan yang dibintangi Basuki, punya brand image sendiri yang gampang melekat di pikiran kita. Dengar saja kata-kata, “Shogun dilawan……”

Sejak kemarin kita tak mungkin lagi mendengar jargon-jargon khas yang keluar darinya. Basuki yang lahir pada  5 Maret 1956 tutup usia setelah bermain futsal Rabu (12/12) malam.

Saya sendiri mengagumi Basuki sejak dia bermain di sinetron Si Doel Anak Sekolahan.  Basuki yang diberi peran Mas Karyo benar-benar menjalani karakter orang desa yang baru datang ke kota dengan pas. Orang desa yang polos, berdialek Jawa kental dan tentu saja penuh dengan derita yang dilakoni dengan tawa.

Anak dari pelawak Pete yang juga berasal dari Srimulat ini ikut terimbas dengan bubarnya kelompok lawak kondang asuhan Teguh itu. Dia kemudian berusaha mendirikan grup lawak bernama Merdeka bersama teman-teman Srimulatnya, Kadir, Timbul, Nurbuat dan Rohana. Tapi grup ini tak bertahan lama.

Grup baru bernama Batik singkatan dari Basuki Timbul Kadir kemudian didirikannya. Tapi hanya bertahan 3 tahun.

Selamat jalan Basuki……

Kembalinya Cinta

Bulan baru saja lindap. Tapi wajahnya memancarkan purnama. Tubuhnya yang berbalut busana bersiluet melambai-lambai. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Aroma parfum oriental yang tersapu angin membangkitkan kenangan-kenangan.

“Apakah kita akan melumat malam ini bersama?”

Perempuan dengan wajah penuh gejolak itu mengajak aku mengenang kembali mimpi-mimpi yang pernah kami bangun bersama.

“Kenapa kau terdiam?” Dia terus mendekatkan tubuhnya padaku. Perlahan beberapa helai rambutnya jatuh di pundakku. Rambut warna mahogany dengan volume yang dibiarkan mengembang di bagian bawah itu merangsek wajahku.

“Sekian lama kau meninggalkanku tanpa kabar,” suaraku tersendat.

“Bukankah itu keinginanmu?” Dia balik bertanya.

“Aku terbang ke sebuah negeri impian. Tentang bintang yang aku lihat rendah. Tentang malam yang aku lihat sepi. Tentang lelaki yang membuat aku jatuh hati.”

Lanjutkan membaca ‘Kembalinya Cinta’

Berkunjung ke Negeri Istana

Berkunjung ke Negeri Istana
Matahari sudah bersembunyi ketika kami tiba di Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru Riau akhir pekan lalu. Bumi Lancang Kuning yang baru saya jejak pertama kali ini punya pesona tersendiri yang membuat saya langsung tertarik ketika undangan tiba di meja saya. Maklum, selain memiliki kekayaan alam yang berlimpah, daerah ini terkenal dengan khasanah budaya

Istana Siak 

Melayunya.


Mesjid Syahbuddin

Riau merupakan salah satu pewaris kejayaan Kesultanan Melayu di masa silam. Jejak-jejak itulah yang coba kami telusuri dalam waktu yang sangat singkat. Subuh saya sudah terbangun. Seperti biasa, berada di tempat baru suasana pagi selalu saya buru. Ahad pagi itu, warga kota Pekanbaru sudah sibuk berolahraga.

Lanjutkan membaca ‘Berkunjung ke Negeri Istana’

UNFCCC

Raung buldoser gemuruh pohon tumbang

berpadu dengan jerit isi rimba raya

tawa kelakar badut-badut serakah

tanpa hph berbuat semaunya

lestarikan alam hanya celoteh belaka

lestarikan hutan mengapa tidak dari dulu saja

oo mengapa…..

jelas kami kecewa mendengar gergaji

tak pernah berhenti

demi kantong pribadi

tak ingat rezeki generasi nanti….. 

Iwan Fals sudah resah dengan pembalakan liar sejak lama. Hutan yang terus digergaji kini menyisakan luka yang dalam: banjir, longsor, kekeringan dan hilangnya flora dan fauna khas Indonesia.

Akhir pekan lalu saya ke Pekanbaru, Riau. Dalam perjalanan menuju Siak Sriindrapura, sepanjang mata memandang hanya hamparan permadani hijau berduri alias kebun sawit yang terhampar. Hutan dataran rendah yang sangat terkenal di daerah ini sudah lama musnah.

Coba dengar apa yang pemandu saya katakan saat saya bertanya tentang Tesso Nilo sebuah kawasan cagar alam yang kabarnya memiliki bidoversitas sangat tinggi. “Di Tesso Nilo sekarang sudah rusak, gajahnya sudah berkurang.”

Ah, pemandu wisata ini dengan enteng mengatakannya. Seakan tak ada beban bahwa kawasan itu seharusnya menjadi tempat pariwisata yang kelak bakal menghasilkan devisa terbanyak ketika minyak tak lagi muntah.

Hutanku,
Rusak !

Langitku,
Bocor !

Udara yang aku hisap,
Tercemar !

Makanan yang aku makan,
Racun !

Hijau Hijauku Hijau
Hijau Hijauku Hijau dunia

Hijau Hijauku Hijau
Hijau Dunia

Hijau Hijauku Hijau
Hijau Dunia

Hijau Hijauku Hijau

Hijau

Saya pun berharap konferensi perubahan iklim di Bali bisa menghasilkan sebuah moratorium penebangan hutan di Indonesia. Sehingga kelak, hutan tak cuma jadi dongeng anak cucu kita kelak…..
 

« Halaman Sebelumnya


Wajah

Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

Today’s Quote

"Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

Corong

logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

 

Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31