Arsip untuk Januari, 2008

Bendera baru Irak

Emoh masih terus teringat mendiang bekas presiden Irak Saddam Hussein, Parlemen Irak menyetujui bendera baru Irak. Beginilah bendera baru tersebut:

Yang atas bendera baru yang bawah bendera lama

Habib dan Kembang Api

Hampir tengah malam kemarin, langit di sekitar rumah saya benderang. Suara gelegar bersahut-sahutan. Cahaya kembang api warna-warni silih berganti.

Tahun baru sudah jauh lewat. Tapi kembang api itu menyala mirip sebuah perayaan besar. Tak tahunya, kembang api itu menyala untuk menyambut seorang habib pemimpin sebuah majelis zikir.

Menurut adik saya yang hadir di acara itu, sang habib datang diiringi rampak rebana dan salawat badar yang menggema. Kembang api menjadi hiasan yang menambah meriah suasana.

Dari kejauhan saya berpikir, tentu tak murah membeli kembang api yang warna-warni itu. Belum lagi kembang api dinyalakan saat tiba waktunya orang beristirahat. Apalagi itu bukan hari libur.

Kembang api bisa jadi representasi kesetiaan para pengikut sang habib untuk mengelu-elukan kehadirannya. Kebetulan hari itu sang habib berulang tahun. Tapi bukankah di tengah penderitaan rakyat yang kian mencekik, harga yang melambung tinggi, pemborosan seperti itu seperti tinju yang membuat kita semua KO dalam satu ronde?

Rakyat memang sering lupa akan hari esoknya yang terus buram. Kita lebih senang melihat nyala kembang api sambil berkhayal tentang indahnya hidup, ketimbang memperhitungkan bagaimana melangkah ke depan.

Saya juga miris, mereka yang datang menggunakan sepeda motor ke acara itu tak mengenakan helm sebagai pengaman kepala sama sekali.  Nyawa memang ada di tangan Tuhan, tapi bukankah manusia harus menjaga baik-baik segala pemberian Tuhan? Saya jadi ingat kisah Aa Gym yang mengenakan sorbannya sebagai sabuk pengaman karena mobil panitia yang ditumpanginya tak memiliki sabuk pengaman. Katanya, dia berikhtiar untuk menyempurnakan apa yang sudah diberi Allah.

Kembang api yang begitu menggelegar di mata saya menjadi sebuah ironi buat acara zikir seperti itu.

Walahar, in Search of Pepes Jambal

Sepertinya untuk urusan sepeda tak pernah ada kata kapok. Setelah melakukan perjalanan gila ke curug cigentis tahun lalu, awal tahun ini sebuah perjalanan yang tak kalah edan kembali saya lakukan bersama duet saya Kang Adek ditambah Mas Tulus yang sudah malang melintang di bersepeda di seputaran danau cibeureum dan Nawit.

Kali ini kami menempuh misi mendatangi bendung Walahar di Karawang Timur. Kemolekan bendung yang dibangun Belanda ini memang menggoda. Tapi yang lebih menggoda adalah pepes jambal walahar pak haji Dirja yang terletak tepat di sebelah bendung itu.

Perjalanan dimulai saat matahari sudah mulai tinggi. Melewati kawasan Danau Cibeureum yang masih dipenuhi ilalang, jalan masih terasa nikmat. Danau yang seharusnya milik publik itu kabarnya sebentar lagi tak akan bisa dimasuki sembarang orang. “Danau ini nanti seperti Ancol di Jakarta,” kata Mas Tulus.

Kapitalisme selalu saja mengalahkan apa-apa yang menjadi milik publik. Danau yang sejatinya adalah daerah konservasi resapan air sekaligus tempat wisata rakyat, mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi sebuah kawasan wah yang berada di perumahan mewah di sana.

Berjalan mengelilingi danau, jalanan yang kami tempuh sudah mulai mengencangkan otot-otot kaki kami. Apalagi ternyata ada sebuah jalan yang terputus aliran sungai kecil. Terpaksalah sedikit menggotong-gotong sepeda di sini.

Mas Tulus nggotong sepeda

Perjalanan dari danau kemudian dilanjutkan menuju desa Telajung. Kami memang menempuh jalur pedesaan untuk mencapai Karawang. Risikonya jelas, jalan ini amat melambung dan jauh. Tapi tak apalah, bukankah setiap keputusan selau mengandung risiko yang harus dihadapi?

Musim hujan yang kering benar-benar memeras keringat kami. Beruntung bulan ini adalah musim rambutan. Hmm….jalan kampung yang kami lewati dipenuhi rambutan merah bergelayutan mengundang selera. Sebuah rambutan saya ambil dari pohon dan rasanya manis segar langsung menggerojoki tenggorokan. “Jangan ambil yang dipohon, ntar udah dijampi-jampi,” kang Adek memperingatkan.

Akhirnya kami mengambil buah-buah yang sudah jatuh ke tanah. Kalau buah yang jatuh, hitungannya memang bukan mengambil milik orang……Tapi tak berapa jauh dari sana ternyata ada keluarga yang memanen rambutan. Kamipun menghentikan kayuhan.

Tak dinyana, mereka langsung memetikkan kami beberapa tangkai rambutan. “Sok atuh dicoba…” ujar seorang bapak yang mengambilkan setangkai rambutan ranum pada kami.

Sambil mencicipi rambutan, kami sedikit bercengkrama dengan keluarga yang tampaknya sumringah karena panen rambutan itu. Tentu kami tak ingin semua gratis. Alhasil kami membeli tiga tangkai rambutan seharga Rp 6.000 plus rambutan gratis tadi.

Lanjutkan membaca ‘Walahar, in Search of Pepes Jambal’

Astana Giri Bangun, Sebuah Kenangan

Sekitar tahun 1999 saya berkunjung ke makam keluarga Cendana di Astana Giri Bangun, Karang Anyar, Jawa Tengah. Saya berangkat dari Yogya kemudian naik bus jurusan Solo. Dari Solo saya menuju Karang Anyar dengan bus yang sudah agak buram.

Astana Giri Bangun yang terletak di kawasan wisata Tawang Mangu berhawa sejuk. Masuk ke dalam pemakaman suasana saat itu sungguh sepi. Beberapa pedagang yang berjualan kaos dan suvenir lainnya tampak muram.

Wajah mereka sungguh tak menampakkan kebahagiaan. “Sejak kejatuhan pak Harto, tempat ini jadi sepi mas..” kata seorang pedagang. Mereka yang biasa menangguk keuntungan berlipat harus gigit jari. Euforia reformasi membuat orang takut untuk datang ke tempat itu. “Takut dicap antek orde baru mungkin,” kata seorang penjaga makam.

Padahal, menurut pedagang tadi saat bu Tien meninggal dan Suharto masih berkuasa, banyak peziarah yang datang ke tempat itu. Pengunjung berarti rezeki.

Seorang nenek, yang saya lupa namanya bercerita panjang lebar tentang melimpahnya rezeki saat itu. Saat jenazah ibu Tien dibawa menuju astana giri bangun, si mbok tadi mengambil sebuah kembang kanthil yang jatuh dari iring-iringan pembawa jenazah.

Kembang itu dibawanya pulang. Disimpannya dalam tempat penyimpanan istimewa. “Kembang kanthil dari seorang jenazah yang istimewa,” begitu kira-kira si mbok tadi berkata. Dalam kepercayaan Jawa yang dipegang simbok tadi, nalar memang sering ada di urutan kesekian.

Sejak menyimpan kembang kanthil itu, nasib baik selalu menghampiri simbok. Sawahnya selalu panen melimpah. Uang seperti tak pernah surup. Dia mengaku tak pernah kekurangan.

Tapi ketika Suharto lengser, nasib baik perlahan pergi. Entah kenapa, simbok tadi mengaku semua serba sulit didapat. Maklum, kejatuhan Suharto saat itu memang diikuti resesi yang luar biasa. Harga melambung tinggi sehingga rakyat kecil seperti simbok tadi ikut terkena imbasnya.

Saat itu, saya melihat dia tengah berjalan ke arah sungai yang masih jernih mengalir. Dia mengajak saya melihat kembang kanthil yang masih disimpannya dalam sebuah wadah akan dilarung di sungai itu. “Mungkin ini saatnya kembang kanthil ini dilarung,” katanya dalam bahasa Jawa halus.

Ah, saya jadi sadar, mungkin jika simbok tadi masih hidup tentu dia akan merasakan kelimpahan rezeki lagi sekarang. Maklum di tengah kabar kritisnya kondisi Suharto, Astana Giri Bangun kembali meriah. Para peziarah kembali berdatangan. Orang tampaknya tak takut lagi untuk berdekat-dekat dengan keluarga Cendana.

Saya membaca berita bahwa kini warganya bahkan menyewakan lahan mereka kepada stasiun televisi yang sudah nongkrong di sana sejak 11 hari silam. Semua menanti dalam ketidakpastian. Semua menjadi riuh rendah.

Ah, seandainya simbok tadi masih hidup, dan jika Suharto meninggal dan dimakamkan di sana, tentu dia akan kembali berdiri di pinggir jalan. Memungut kembang kanthil yang terjatuh dari rombongan pembawa jenazah. Biar hidupnya kembali sumringah……….

Sorry, No Tahu Tempe, for a while

Sorry, no tahu tempe for a while…….” kalimat itu meluncur begitu saja dari mas Markum, penjaga angkringan di ujung jalan itu.

eit, boso Inggrisan…..” seru saya.

“Tahu tempe emang lagi kosong mas…la kae pedagange demo kabeh…” ujarnya lagi menunjuk sebuah berita.

Ngerti, la kae ngomong Inggris, opo nembe kursus?” tanyaku.

Wah sampeyan iki piye mas, la kedele rak seko Amerika mas, ilatku yo melu Inggrisan to.….”katanya cengengesan.

Ah, Mas Markum rupanya ingin memberitahu kalau bahan dasar tahu dan tempe itu kedelai yang diimpor dari Amerika. Para pengusaha tahu tempe pun berhenti berproduksi gara-gara bahan dasarnya sekarang sudah naik setinggi langit. Sekilo kedelai sudah mencapai Rp 9.000 dari tadinya hanya sekitar Rp 5.000

Wajar jika di angkringan mas Markum, kotak tahu dan tempe yang biasa menjadi buruan saya, malam itu kosong. Bukan habis, tapi memang dari sono-nya sudah tak diproduksi.

Saya jadi tertawa dalam hati. Ternyata mental tempe yang sering diarahkan pada bangsa kita berkait juga dengan Amerika. Jangan-jangan negerinya Bush itu sengaja mengimpor kedelai besar-besaran, dan kita terus-terusan mengkonsumsi tempe biar bisa terus dicap bermental tempe..

Kalau tempe langka di pasar itu berarti bangsa kita juga bakal bebas dari cap mental tempe ya?

Bang Madun, penjual ketoprak juga mulai harus bersiap-siap menambahkan kata maaf pada pelanggannya. “Maaf ketopraknya tanpa tahu….” Nah kalau ketoprak tanpa tahu, jadi namanya apa? “Yah sekali-kali boleh mas belajar makan ketoprak tanpa tahu,” katanya lagi.

Kalau terus-terusan tempe dan tahu tak ada lagi, lalu bagaimana nasib orang-orang seperti saya yang gemar tahu dan tempe? Makan tanpa tahu atau tempe ibarat sayur tanpa garam….

Halaman Berikutnya »