“Sorry, no tahu tempe for a while…….” kalimat itu meluncur begitu saja dari mas Markum, penjaga angkringan di ujung jalan itu.
“eit, boso Inggrisan…..” seru saya.
“Tahu tempe emang lagi kosong mas…la kae pedagange demo kabeh…” ujarnya lagi menunjuk sebuah berita.
“Ngerti, la kae ngomong Inggris, opo nembe kursus?” tanyaku.
“Wah sampeyan iki piye mas, la kedele rak seko Amerika mas, ilatku yo melu Inggrisan to.….”katanya cengengesan.
Ah, Mas Markum rupanya ingin memberitahu kalau bahan dasar tahu dan tempe itu kedelai yang diimpor dari Amerika. Para pengusaha tahu tempe pun berhenti berproduksi gara-gara bahan dasarnya sekarang sudah naik setinggi langit. Sekilo kedelai sudah mencapai Rp 9.000 dari tadinya hanya sekitar Rp 5.000
Wajar jika di angkringan mas Markum, kotak tahu dan tempe yang biasa menjadi buruan saya, malam itu kosong. Bukan habis, tapi memang dari sono-nya sudah tak diproduksi.
Saya jadi tertawa dalam hati. Ternyata mental tempe yang sering diarahkan pada bangsa kita berkait juga dengan Amerika. Jangan-jangan negerinya Bush itu sengaja mengimpor kedelai besar-besaran, dan kita terus-terusan mengkonsumsi tempe biar bisa terus dicap bermental tempe..
Kalau tempe langka di pasar itu berarti bangsa kita juga bakal bebas dari cap mental tempe ya?
Bang Madun, penjual ketoprak juga mulai harus bersiap-siap menambahkan kata maaf pada pelanggannya. “Maaf ketopraknya tanpa tahu….” Nah kalau ketoprak tanpa tahu, jadi namanya apa? “Yah sekali-kali boleh mas belajar makan ketoprak tanpa tahu,” katanya lagi.
Kalau terus-terusan tempe dan tahu tak ada lagi, lalu bagaimana nasib orang-orang seperti saya yang gemar tahu dan tempe? Makan tanpa tahu atau tempe ibarat sayur tanpa garam….

0 Tanggapan ke “Sorry, No Tahu Tempe, for a while”