Sekitar tahun 1999 saya berkunjung ke makam keluarga Cendana di Astana Giri Bangun, Karang Anyar, Jawa Tengah. Saya berangkat dari Yogya kemudian naik bus jurusan Solo. Dari Solo saya menuju Karang Anyar dengan bus yang sudah agak buram.
Astana Giri Bangun yang terletak di kawasan wisata Tawang Mangu berhawa sejuk. Masuk ke dalam pemakaman suasana saat itu sungguh sepi. Beberapa pedagang yang berjualan kaos dan suvenir lainnya tampak muram.
Wajah mereka sungguh tak menampakkan kebahagiaan. “Sejak kejatuhan pak Harto, tempat ini jadi sepi mas..” kata seorang pedagang. Mereka yang biasa menangguk keuntungan berlipat harus gigit jari. Euforia reformasi membuat orang takut untuk datang ke tempat itu. “Takut dicap antek orde baru mungkin,” kata seorang penjaga makam.
Padahal, menurut pedagang tadi saat bu Tien meninggal dan Suharto masih berkuasa, banyak peziarah yang datang ke tempat itu. Pengunjung berarti rezeki.
Seorang nenek, yang saya lupa namanya bercerita panjang lebar tentang melimpahnya rezeki saat itu. Saat jenazah ibu Tien dibawa menuju astana giri bangun, si mbok tadi mengambil sebuah kembang kanthil yang jatuh dari iring-iringan pembawa jenazah.
Kembang itu dibawanya pulang. Disimpannya dalam tempat penyimpanan istimewa. “Kembang kanthil dari seorang jenazah yang istimewa,” begitu kira-kira si mbok tadi berkata. Dalam kepercayaan Jawa yang dipegang simbok tadi, nalar memang sering ada di urutan kesekian.
Sejak menyimpan kembang kanthil itu, nasib baik selalu menghampiri simbok. Sawahnya selalu panen melimpah. Uang seperti tak pernah surup. Dia mengaku tak pernah kekurangan.
Tapi ketika Suharto lengser, nasib baik perlahan pergi. Entah kenapa, simbok tadi mengaku semua serba sulit didapat. Maklum, kejatuhan Suharto saat itu memang diikuti resesi yang luar biasa. Harga melambung tinggi sehingga rakyat kecil seperti simbok tadi ikut terkena imbasnya.
Saat itu, saya melihat dia tengah berjalan ke arah sungai yang masih jernih mengalir. Dia mengajak saya melihat kembang kanthil yang masih disimpannya dalam sebuah wadah akan dilarung di sungai itu. “Mungkin ini saatnya kembang kanthil ini dilarung,” katanya dalam bahasa Jawa halus.
Ah, saya jadi sadar, mungkin jika simbok tadi masih hidup tentu dia akan merasakan kelimpahan rezeki lagi sekarang. Maklum di tengah kabar kritisnya kondisi Suharto, Astana Giri Bangun kembali meriah. Para peziarah kembali berdatangan. Orang tampaknya tak takut lagi untuk berdekat-dekat dengan keluarga Cendana.
Saya membaca berita bahwa kini warganya bahkan menyewakan lahan mereka kepada stasiun televisi yang sudah nongkrong di sana sejak 11 hari silam. Semua menanti dalam ketidakpastian. Semua menjadi riuh rendah.
Ah, seandainya simbok tadi masih hidup, dan jika Suharto meninggal dan dimakamkan di sana, tentu dia akan kembali berdiri di pinggir jalan. Memungut kembang kanthil yang terjatuh dari rombongan pembawa jenazah. Biar hidupnya kembali sumringah……….

Komentar Terakhir