Walahar, in Search of Pepes Jambal

Sepertinya untuk urusan sepeda tak pernah ada kata kapok. Setelah melakukan perjalanan gila ke curug cigentis tahun lalu, awal tahun ini sebuah perjalanan yang tak kalah edan kembali saya lakukan bersama duet saya Kang Adek ditambah Mas Tulus yang sudah malang melintang di bersepeda di seputaran danau cibeureum dan Nawit.

Kali ini kami menempuh misi mendatangi bendung Walahar di Karawang Timur. Kemolekan bendung yang dibangun Belanda ini memang menggoda. Tapi yang lebih menggoda adalah pepes jambal walahar pak haji Dirja yang terletak tepat di sebelah bendung itu.

Perjalanan dimulai saat matahari sudah mulai tinggi. Melewati kawasan Danau Cibeureum yang masih dipenuhi ilalang, jalan masih terasa nikmat. Danau yang seharusnya milik publik itu kabarnya sebentar lagi tak akan bisa dimasuki sembarang orang. “Danau ini nanti seperti Ancol di Jakarta,” kata Mas Tulus.

Kapitalisme selalu saja mengalahkan apa-apa yang menjadi milik publik. Danau yang sejatinya adalah daerah konservasi resapan air sekaligus tempat wisata rakyat, mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi sebuah kawasan wah yang berada di perumahan mewah di sana.

Berjalan mengelilingi danau, jalanan yang kami tempuh sudah mulai mengencangkan otot-otot kaki kami. Apalagi ternyata ada sebuah jalan yang terputus aliran sungai kecil. Terpaksalah sedikit menggotong-gotong sepeda di sini.

Mas Tulus nggotong sepeda

Perjalanan dari danau kemudian dilanjutkan menuju desa Telajung. Kami memang menempuh jalur pedesaan untuk mencapai Karawang. Risikonya jelas, jalan ini amat melambung dan jauh. Tapi tak apalah, bukankah setiap keputusan selau mengandung risiko yang harus dihadapi?

Musim hujan yang kering benar-benar memeras keringat kami. Beruntung bulan ini adalah musim rambutan. Hmm….jalan kampung yang kami lewati dipenuhi rambutan merah bergelayutan mengundang selera. Sebuah rambutan saya ambil dari pohon dan rasanya manis segar langsung menggerojoki tenggorokan. “Jangan ambil yang dipohon, ntar udah dijampi-jampi,” kang Adek memperingatkan.

Akhirnya kami mengambil buah-buah yang sudah jatuh ke tanah. Kalau buah yang jatuh, hitungannya memang bukan mengambil milik orang……Tapi tak berapa jauh dari sana ternyata ada keluarga yang memanen rambutan. Kamipun menghentikan kayuhan.

Tak dinyana, mereka langsung memetikkan kami beberapa tangkai rambutan. “Sok atuh dicoba…” ujar seorang bapak yang mengambilkan setangkai rambutan ranum pada kami.

Sambil mencicipi rambutan, kami sedikit bercengkrama dengan keluarga yang tampaknya sumringah karena panen rambutan itu. Tentu kami tak ingin semua gratis. Alhasil kami membeli tiga tangkai rambutan seharga Rp 6.000 plus rambutan gratis tadi.


Beban di tas akhirnya bertambah. Di sepanjang perjalanan kami melihat hampir semua warga tengah memetik hasil panen rambutan mereka. Ah, bahagia rasanya melihat warga yang sumringah itu.

Perjalanan dari desa ke desa itu terus kami lalui sambil mengudap rambutan yang kami bawa. Hingga akhirnya -seperti biasa-kami menemukan jalan buntu. Jalan itu terputus sebuah empang. “Mau muter apa kita lewatin aja sambil nggotong sepeda?” tantang kang Adek. Melihat jalan yang memutar sangat jauh, akhirnya tantangan itu kami terima.

Hmm….diangkat nggak diangkat nggak…

Air yang mencapai sepaha akhirnya kami lewati dengan selamat. Masalahnya, kaki yang belepotan lumpur ini tentu saja harus dibasuh. Untunglah ada seorang penjaga kantor desa yang berbaik hati membukakan kamar mandinya untuk kami membasuh kaki dan memakai kembali sepatu.

Ah angkat aja deh…..

Panas yang sudah mulai menggigit membuat kami mempercepat kayuhan untuk mencapai lokasi selanjutnya. Kali ini kami melewati sebuah tempat petilasan Raden Rangga di kawasan Cikedokan. Nama petilasan ini Saung Ranggon. Dibangun sekitar 400 tahun lalu. Saung ini mirip dengan rumah si pitung yang ada di Marunda. Berbentuk rumah panggung, bangunan itu masih terlihat sangat kokoh.

Menurut kisahnya, bangunan ini menjadi semacam tempat persinggahan Pangeran Rangga keturunan dari Pangeran Jayakarta, penguasa Batavia. Bangunan yang dibangun pada abad 16 itu menggunakan paku dari kayu untuk menyambung struktur bangunan.

Bangunan dengan panjang 7,6 meter dan lebar 7,2 meter serta tinggi 2,5 meter itu masih menyisakan satu tempat tidur yang juga dipercaya sebagai tempat tidur Raden Rangga. Mungkin dulu ini menjadi semacam tempat persinggahan saat Raden Rangga berburu.

Saung Ranggon yang masih berdiri kokoh

Pak Tolib, kuncen tempat ini membuka selubung yang menyelimuti kasur. Ternyata di dalamnya berbagai pusaka seperti keris dan golok tergeletak di atas tempat tidur. Di bawahnya juga terdapat berbagai sesaji.

Kuncen saung Ranggon, pak Tolib

Benda-benda pusaka

Perjalanan kami lanjutkan kembali. Menyusuri jalan-jalan desa kami harus berjuang melawan panas yang terik menyengat. Perjuangan makin berat karena kami harus masuk ke jalur jalan beton. Terasa betul teriknya mentari di sini. Dari kejauhan bangunan-bangunan mewah tampak mengkilap diterpa cahaya matahari.

Ternyata itu adalah kompleks pemerintahan kabupaten Bekasi. Kami memutuskan shalat zuhur di tempat ini.

Memasuki kompleks Pemda Kab Bekasi

Kompleks ini jauh dari mana-mana. Saya tak tahu apakah ada angkutan yang lewat sini atau tidak. Selama kami menggenjot kami memang tak bertemu satu angkutan pun.

Kami menuju masjid yang berdiri gagah di antara bangunan kompleks lainnya. Menurut Mas Tulus ini adalah kompleks Pentagon karena dari udara bisa terlihat kompleks ini membentuk pentagon.

Masjid yang indah. Namun sayang, kotor. Air yang mengambang di selasar tak dikeringkan. Di sana-sini terlihat sampah bertebaran. Sayang memang, kadang bangsa ini hanya pandai membuat tapi tak pandai merawat.

Salah satu sudut masjid

Kami beristirahat cukup lama di masjid ini untuk mengembalikan kebugaran. Perjalanan masih sangat jauh. Dari seorang penjaga warung dekat masjid, saya sebetulnya sudah patah arang. Tapi semangat Kang Adek dan Mas Tulus membuat saya malu untuk takluk.

Perjalanan kami lanjutkan menuju yang saya sebut sebagai jalur neraka. Karena kami harus melewati jalur jalan sepanjang sungai Kalimalang. Tak cuma panas yang terik, jalur ini sama sekali tidak rata karena jalannya yang bergelombang.

Beruntung kami melewati kawasan prostitusi mirip kalijodo, tapi ini di tepi Kalimalang. Pemandangan para perempuan bermake up tebal yang sedang bercengkrama karena hari masih siang menjadi obat penghibur. Tapi karena tak tahan dengan siksaan jalan makadam, kami memilih menyeberang sungai dengan jalan tanah yang relatif lebih enak.

Singkat cerita, kami akhirnya sampai juga pada tujuan kami. Waktu menunjuk pukul 16.45 WIB. Panas, lelah, dan tangan yang terbakar rasanya terbayar dengan melihat bendung Walahar yang berdiri gagah.

Akhirnya….. 

Menikmati sore di bendung Walahar memang sungguh nikmat. Apalagi kami harus menempuhnya dalam waktu yang sangat lama.  Segala lelah, emosi yang terjadi di perjalanan seakan hilang dibuai angin yang berdesir-desir kencang.

Hingga tibalah kami pada tujuan utama kami: menikmati pepes jambal walahar haji dirja yang kesohor itu.

Walahar yang terlihat gagah 


Bendung ini juga sekaligus menjadi jembatan

Mejeng sebentar ah…

Kami mendatangi rumah makan haji Dirja yang letaknya persis di ujung jembatan Walahar. Tersedia ruangan yang sangat luas di sini. Buat yang ingin di saung disediakan juga tempat yang letaknya di bawah resto. Buat yang malas naik turun di atas cukuplah.

Pepes-pepes yang disiapkan di sini saya intip tengah dibakar dalam sebuah tungku berbahan kayu bakar yang cukup besar. Wanginya sudah menyebar kemana-mana.


Dapur Haji Dirja

Beberapa pepes kemudian disediakan di meja kami. Ada pepes oncom, ikan asin, jambal, dan ayam. Saya memilih pepes jambal yang katanya terkenal lezat itu.

Benar saja pepesnya memang mak slomot di lidah. Tidak ada bau amis atau lumpur. Dagingnya sungguh lunak. Tapi sayang pepes terinya sangat asin.

Waktu pulang tiba. Kami harus menggowes dulu hingga ke arah kota untuk menemukan angkutan. Di sini kami menyewa sebuah angkot untuk kembali ke Bekasi. Ternyata perjalanan yang kami tempuh dengan menggowes ke walahar hanya ditempuh dengan satu jam saja lewat tol!!

Manusia memang absurd……..

1 Tanggapan ke “Walahar, in Search of Pepes Jambal”


  1. 1 Kang Dadang Januari 29, 2008 pukul 7:04 am

    menggoda iman nehhh …pepes-nya


Tinggalkan Balasan




Wajah

Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

Today’s Quote

"Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

Corong

logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

 

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031