Hampir tengah malam kemarin, langit di sekitar rumah saya benderang. Suara gelegar bersahut-sahutan. Cahaya kembang api warna-warni silih berganti.
Tahun baru sudah jauh lewat. Tapi kembang api itu menyala mirip sebuah perayaan besar. Tak tahunya, kembang api itu menyala untuk menyambut seorang habib pemimpin sebuah majelis zikir.
Menurut adik saya yang hadir di acara itu, sang habib datang diiringi rampak rebana dan salawat badar yang menggema. Kembang api menjadi hiasan yang menambah meriah suasana.
Dari kejauhan saya berpikir, tentu tak murah membeli kembang api yang warna-warni itu. Belum lagi kembang api dinyalakan saat tiba waktunya orang beristirahat. Apalagi itu bukan hari libur.
Kembang api bisa jadi representasi kesetiaan para pengikut sang habib untuk mengelu-elukan kehadirannya. Kebetulan hari itu sang habib berulang tahun. Tapi bukankah di tengah penderitaan rakyat yang kian mencekik, harga yang melambung tinggi, pemborosan seperti itu seperti tinju yang membuat kita semua KO dalam satu ronde?
Rakyat memang sering lupa akan hari esoknya yang terus buram. Kita lebih senang melihat nyala kembang api sambil berkhayal tentang indahnya hidup, ketimbang memperhitungkan bagaimana melangkah ke depan.
Saya juga miris, mereka yang datang menggunakan sepeda motor ke acara itu tak mengenakan helm sebagai pengaman kepala sama sekali. Nyawa memang ada di tangan Tuhan, tapi bukankah manusia harus menjaga baik-baik segala pemberian Tuhan? Saya jadi ingat kisah Aa Gym yang mengenakan sorbannya sebagai sabuk pengaman karena mobil panitia yang ditumpanginya tak memiliki sabuk pengaman. Katanya, dia berikhtiar untuk menyempurnakan apa yang sudah diberi Allah.
Kembang api yang begitu menggelegar di mata saya menjadi sebuah ironi buat acara zikir seperti itu.

0 Tanggapan ke “Habib dan Kembang Api”