I
Seiris senyum yang melintas tepat di daun pintu
menggemuruh hati yang sedari tadi bertanya:
akankah datang putri jelita pujaan hati?
Peredaran darah seperti tercekat naik
secepat rasa cinta yang terus membekap
suara-suara itu meminta kau tetap berdiri di sana
sambil aku pandangi wajah yang terus merona
Sekelebat kenangan-kenangan itu membentur-bentur hati
aku tunduk tak kuasa lantang
bahkan untuk menyebut namamu saja kelu
“Apakah kau masih seperti yang dulu?”
II
Berikan lagi aku rasa itu
yang dulu membuat semrawut hati
agar aku bisa memikirkanmu tiap hari
lalu mengelana kita pada rimba cinta yang tak pernah mati
Bila jawabanmu seperti yang dulu
aku tak akan lagi kecewa
karena kita tersesat pada belantara yang sama

Komentar Terakhir