Arsip untuk Maret, 2008

Asrama Dara

Jakarta 1950-an. Sejumlah gadis bersatu di sebuah asrama. Dengan ibu asrama yang sedikit bawel namun tetap kocak. Nama asrama itu Asrama Dara.

Rahimah, Ani, Ina, Maria, dan Sita adalah gadis-gadis penuh gairah dan segudang coba. Rahimah, calon dokter tapi diminta paksa pulang kampung untuk segera dinikahkan. Ayahnya, seorang pensiunan sudah tak sanggup lagi membiayainya kuliah.

Ani dan Ina adalah adik kakak yang terperangkap masalah orang tua. Ayah dan ibunya berpisah hanya karena sang ibu sibuk urusan politik. Rapat partai dan sidang dewan membuat suaminya cemburu buta. Sebagai lelaki ia belum pasrah melihat istrinya begitu sibuk.

Ani

Sementara Maria dan Sita berebut seorang saudagar bernama Broto dengan kumis tipisnya yang perlente. Padahal, kopilot Imansyah diam-diam menaruh hati pada Maria sang pramugari.

Tari hidup dengan dunianya sendiri. Dia ingin punya pacar tapi tak kunjung dapat. Terakhir dia malah berkenalan dengan seorang duda yang usianya jauh di atasnya. Tapi percintaan mereka ditentang oleh ibu asrama yang merasa pria itu lebih pantas jadi bapaknya.

Itulah kilasan film Asrama Dara arahan sutradara Usmar Ismail. Film yang diproduksi pada 1958 ini tak sengaja saya tonton ketika kehabisan tiket film yang menghebohkan itu: Ayat-ayat Cinta. Film ini saya tonton zonder biaya karcis. Cukup menuliskan nama dan alamat kita sudah bisa menyaksikan.

Film Asrama Dara dimainkan aktris-aktris seperti Suzanna yang bermain cemerlang sebagai Ina. Di film ini Suzanna bahkan berhasil memboyong piala FFI 1960 untuk kategori Pemain Harapan. Dia juga berhasil memboyong piala FFA untuk kategori pemain cilik.

Aminah Cendrakasih begitu menjiwai perannya sebagai gadis yang selalu berburu pasangan, bahkan rela bernyanyi di trem (alat transportasi massal kala itu) untuk mencari buah hatinya. Aminah sebagai Tari pas sekali dengan karakternya.

Aktris Fifi Young yang berperan sebagai bu Siti alias ibu Asrama juga menjadi sosok yang menonjol dalam film ini. Citra Dewi yang berperan sebagai Rahimah juga membuat warna lain dengan perannya sebagai calon dokter.

Film ini menjadi contoh kehidupan remaja pada era 1950-an. Dengan potongan busana yang menggelembung di bagian bawah dan dada nan ramping, para remaja itu memberikan pesan yang mendalam buat saya. Di film bergenre drama komedi ini, sungguh sarat dengan pesan.

Sita (Nun Zairina) adalah model anak muda yang berkeinginan membuat studio tari tapi harus mencari akal agar bisa mewujudkan mimpinya itu. Dia akhirnya bertemu Broto yang tak sengaja ia kenal lewat telepon.

Soal Ina dan Ani yang sangat ingin agar kedua orangtuanya tetap berkumpul dan mereka tak lagi diasramakan, juga menjadi pesan penting tentang perceraian yang kini marak.

Sayang, saya tak sempat menyaksikan film ini sampai tuntas.

11 Maret

Ada yang berulang tahun pada tanggal ini. Seorang perempuan lincah yang selalu mencari jati diri. Perempuan dengan kelabilan hati seperti kaca yang mudah retak.

Seorang temannya berteriak-teriak. “Kesian deh loe, ucapan selamat gw gak berbalas,” katanya lewat pesan pendek. Belakangan, perempuan mungil itu sedang dirundung masalah. “Karena itu gw sering kasih nasehat, tapi mungkin dia gak senang ma nasehat gw,” ucap teman itu lagi.

Ah, dia adalah perempuan yang tak ingin didesak. Hatinya teguh ibarat benteng Vredeburg yang enggan runtuh. Perempuan cerdas dengan berbagai talenta. Waktu kuliah IP nya tak pernah dibawah 3.

Dia sempat cemas kala IP nya sedikit turun dan karenanya terancam gagal pergi ke negeri impiannya. Tapi aku kala itu sempat bertaruh, bahwa IP nya akan kembali tinggi dan ia berhasil meraih beasiswa itu.

Taruhanku jitu. IPnya menembus angka sempurna 4. Diapun melenggang ke luar negeri. Perempuan dengan mata bulan itu akhirnya tinggal di negeri impiannya itu. Sebuah negeri dongeng dengan langit yang biru dan gemawan yang menggantung bak kapas bergumpal-gumpal.

Sebelas Maret empat belas tahun silam aku pernah memberikannya kasih yang luar biasa dalam. Perempuan dengan ketajaman pikiran yang luar biasa itu tak menghiraukannya. Dia sibuk dengan mimpi-mimpinya kala itu.

“Nama loe dah sama sekali gak pernah disebut.” Kenangan memang sesekali harus dilupakan.

Selamat ulang tahun Res!

Basse dan Bahir

Basse dan Bahir terbaring kaku. Di rumah kontrakannya yang serba semrawut. Basse kurus kering, begitu pula Bahir anaknya. Keduanya mati oleh sebab yang sudah lama kita tak dengar di negeri ini: kelaparan.

Basse tak memilih untuk mati kelaparan. Dia berusaha untuk memberi makan dia dan anak-anaknya dengan uang yang kadang diberi suaminya yang seorang tukang becak. Tapi Basse tak kuasa menahan lapar yang amat sangat sehingga ia harus mati.

Tuhan mungkin mengambil keputusan yang tepat. Dia memanggil Basse untuk menampar wajah kita yang selama ini terlena dengan kemewahan dan kemakmuran negeri ini. Atau karena kita terlena menonton sinetron yang padat dengan kemewahan semu itu?

Saat masih hidup, Basse tak ingin merepotkan tetangganya dengan meminta beras. Dia ingin berusaha sendiri untuk mendapatkan segenggam beras saja. Sayang usahanya tak cukup untuk membawa pulang makanan untuk dirinya dan anak-anaknya.

Basse meninggal ketika dia tengah mengandung. Bahir anaknya mati karena diare berat ketika perutnya sama sekali tak kemasukan nasi selama beberapa hari.

Di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, berita kematian Basse dan Bahir sungguh sebuah ironi. Ketika para wakil rakyat di DPR bersidang dengan penyejuk udara yang dingin sehingga membuat terkantuk-kantuk, di timur Indonesia, Basse meregang nyawa. Uang yang seharusnya diberikan kepada Basse sebagai warga miskin yang menurut konstitusi kita wajib dipelihara negara mungkin hanya berhenti di perut-perut buncit anggota dewan.

Kematian Basse menjadi tanda macetnya birokrasi di negeri ini. Ketika asuransi kesehatan warga miskin digembar-gemborkan pemerintah terus ditingkatkan, tapi Basse tak mencicipinya. Dia tak pula mendapat jatah raskin (beras untuk rakyat miskin) yang mungkin ditilep pejabat-pejabat di pemerintahan.

Beberapa hari sebelum kematian Basse, berita tentang tawuran antar mahasiswa di Makassar memenuhi ruang televisi. Mahasiswa tak sadar bahwa tugasnya bukan baku hantam, tetapi menyelamatkan orang-orang seperti Daeng Basse.

Kita tak harus malu atau bersembunyi dibalik semua kegagapan menghadapi berita kematian Basse karena kelaparan. Sejak sekarang seharusnya kita sering bertanya mungkin pada tetangga sekitar kita, apakah mereka tak kelaparan hari ini?


Wajah

Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

Today’s Quote

"Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

Corong

logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

 

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31