Jakarta 1950-an. Sejumlah gadis bersatu di sebuah asrama. Dengan ibu asrama yang sedikit bawel namun tetap kocak. Nama asrama itu Asrama Dara.
Rahimah, Ani, Ina, Maria, dan Sita adalah gadis-gadis penuh gairah dan segudang coba. Rahimah, calon dokter tapi diminta paksa pulang kampung untuk segera dinikahkan. Ayahnya, seorang pensiunan sudah tak sanggup lagi membiayainya kuliah.
Ani dan Ina adalah adik kakak yang terperangkap masalah orang tua. Ayah dan ibunya berpisah hanya karena sang ibu sibuk urusan politik. Rapat partai dan sidang dewan membuat suaminya cemburu buta. Sebagai lelaki ia belum pasrah melihat istrinya begitu sibuk.
Ani
Sementara Maria dan Sita berebut seorang saudagar bernama Broto dengan kumis tipisnya yang perlente. Padahal, kopilot Imansyah diam-diam menaruh hati pada Maria sang pramugari.
Tari hidup dengan dunianya sendiri. Dia ingin punya pacar tapi tak kunjung dapat. Terakhir dia malah berkenalan dengan seorang duda yang usianya jauh di atasnya. Tapi percintaan mereka ditentang oleh ibu asrama yang merasa pria itu lebih pantas jadi bapaknya.
Itulah kilasan film Asrama Dara arahan sutradara Usmar Ismail. Film yang diproduksi pada 1958 ini tak sengaja saya tonton ketika kehabisan tiket film yang menghebohkan itu: Ayat-ayat Cinta. Film ini saya tonton zonder biaya karcis. Cukup menuliskan nama dan alamat kita sudah bisa menyaksikan.
Film Asrama Dara dimainkan aktris-aktris seperti Suzanna yang bermain cemerlang sebagai Ina. Di film ini Suzanna bahkan berhasil memboyong piala FFI 1960 untuk kategori Pemain Harapan. Dia juga berhasil memboyong piala FFA untuk kategori pemain cilik.
Aminah Cendrakasih begitu menjiwai perannya sebagai gadis yang selalu berburu pasangan, bahkan rela bernyanyi di trem (alat transportasi massal kala itu) untuk mencari buah hatinya. Aminah sebagai Tari pas sekali dengan karakternya.
Aktris Fifi Young yang berperan sebagai bu Siti alias ibu Asrama juga menjadi sosok yang menonjol dalam film ini. Citra Dewi yang berperan sebagai Rahimah juga membuat warna lain dengan perannya sebagai calon dokter.
Film ini menjadi contoh kehidupan remaja pada era 1950-an. Dengan potongan busana yang menggelembung di bagian bawah dan dada nan ramping, para remaja itu memberikan pesan yang mendalam buat saya. Di film bergenre drama komedi ini, sungguh sarat dengan pesan.
Sita (Nun Zairina) adalah model anak muda yang berkeinginan membuat studio tari tapi harus mencari akal agar bisa mewujudkan mimpinya itu. Dia akhirnya bertemu Broto yang tak sengaja ia kenal lewat telepon.
Soal Ina dan Ani yang sangat ingin agar kedua orangtuanya tetap berkumpul dan mereka tak lagi diasramakan, juga menjadi pesan penting tentang perceraian yang kini marak.
Sayang, saya tak sempat menyaksikan film ini sampai tuntas.

0 Tanggapan ke “Asrama Dara”