Maura

Sebaris kalimat di messenger itu datang tepat saat Maura hendak menutup komputernya. “Amarilys Cafe, after hours, could you?” Jam menunjuk pukul 16.30, semua pekerjaan kantor hari ini sudah diselesaikannya. Sebelum pulang, seperti biasa, Maura melakukan ritual rutin membersihkan meja kerjanya.

Sebuah akuarium mini berisi ikan guppy, setumpuk kertas kerja dan sebuah cangkir bergambar Gouffy, tokoh kesayangannya, disusunnya rapi. Sekujur meja itu memang tampak asri. Sebagai seorang yang bekerja di bidang administrasi, Maura harus pandai-pandai membenahi meja kerjanya agar dokumen tak hilang atau nyelip.

Matanya masih menatap tajam sebaris kalimat di komputernya. Mas Lintang, pria yang mengirim pesan itu sepertinya menunggu dengan berdebar jawaban Maura. Tangan perempuan berwajah tirus dengan bibir ala Sharon Stone itu seperti tersirap untuk menjawab ajakan itu.

“Tunggu aku.”

Jakarta yang macet sehabis hujan membuat Ma sedikit jengkel. Amarilys memang cukup jauh dari kantornya. Sopir taksi yang ditumpanginya pun sering misuh-misuh melihat motor yang asoy geboy ngebut di jalanan.

“Seenaknya aja ngebut, emang jalanan milik nenek moyang loe,” begitu sekali-kali sang sopir menggerutu. Maura di belakang tak hirau, pikirannya bercabang-cabang.

Matanya menerawang pada Bram, suaminya. Ah, pria yang dinikahinya tiga tahun lalu itu tentu sore begini tengah sibuk dikejar deadline. Sebagai redaktur, suaminya punya tanggung jawab menjaga halaman koran agar tak ada yang lolos. Dia harus pasrah tak pernah bisa pulang bareng, seperti layaknya suami istri lain yang sering pulang atau pergi kerja bersama-sama.

“Bu, sudah sampai,” suara supir taksi itu mengejutkan lamunan Maura. Selembar lima puluhan ribu ia keluarkan. Dia langsung ngeloyor keluar meninggalkan sopir taksi yang terbengong-bengong karena mendapatkan sisa rejeki nomplok. “Ambil saja kembalinya,” ujar Maura setengah berteriak.

***

  • Pria yang duduk di meja pojok itu terlihat gagah. Jas warna krem berpadu kemeja Louis Vuitton dengan dasi bermotif garis membentuk huruf v itu tampak pas sekali di tubuhnya. Dari jauh aroma parfum Caroline Herera 212 begitu memanjakan hidung.

    Lintang adalah seorang pengacara muda sukses. Berbagai kasus besar negeri ini pernah ia tangani. Mulai dari kasus korupsi hingga penggelapan pajak ia tangani dengan hasil yang memuaskan kliennya.

    Berbicara dengannya pasti tak jauh dari kitab undang-undang hukum pidana atau perdata. Wajahnya dipenuhi pasal-pasal, namun tetap memancarkan aura kegantengan yang akan membuat banyak wanita takluk.

    “Wine?” Suara baritonnya memecah kebekuan. Maura menggeleng. Dia masih tampak asyik memandangi setiap detil pria yang kini ada di depannya itu. “Orange jus saja.”
    Senja memerah memantul ke dalam kafe. Wajah Lintang terterpa sinar senja yang membuat aksen siluet yang tajam. Kalau sudah begini, wajahnya yang ganteng kian tampan.

    “Bagaimana kabar Bram?”
    “Dia baik-baik saja,” Maura menjawab singkat. Tangannya pura-pura memainkan telepon genggam buatan Cina hadiah dari suaminya.
    “Hari ini kamu cantik sekali. Seperti Dewi Shinta yang tengah bersembunyi dari kejaran Rahwana,” katanya tersenyum.
    “Gombal mukiyo….” Maura membalas.

    Soal merayu, pria yang kini ada di depan Maura adalah jagonya. Karena itu dia dulu jatuh cinta padanya. Saat itu, dia di fakultas ekonomi, sementara Lintang di fakultas hukum. Mereka bertemu dalam sebuah rapat pergerakan untuk menumbangkan rezim orde baru. Lintang seorang ketua senat mahasiswa yang gaya bicara dan tutur katanya sungguh memikat.

    Dia sering pidato berapi-api tentang berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan orde baru. Maura saat itu menjadi sekretaris ketua senat fakultas. Pertama kali beradu pandang Maura tahu dia telah jatuh cinta pada lelaki itu. Lelaki dengan segudang semangat bak gunung merapi yang siap melontarkan laharnya.

    Pertemuan demi pertemuan akhirnya mereka rancang. Diantara segudang aktivitasnya sebagai ketua senat mahasiswa, Lintang selalu menyiapkan waktu bertemu Maura. Hingga di tengah hingar bingar unjuk rasa di balairung universitas, Lintang menyempatkan diri menyampaikan rasa cintanya.

    “Maura, sebagai langit yang sedang runtuh, itulah perasaanku saat ini. Seandainya rezim ini tumbang, dan kita dibiarkan tetap hidup oleh Tuhan, apakah kau ingin menjadi kekasih pujaan hatiku?”

    Suara orasi yang berapi-api saat itu terasa hening. Maura telah jatuh hati. Diapun mengangguk pasti. “Selama kau memberikan seluruh cintamu padaku.”

    Dua sejoli itu seakan menikmati tepukan dan teriakan dari panggung sebagai penghormatan atas cinta mereka berdua. Daun-daun pohon karet berguguran, menambah indah suasana hati mereka.

    ***
    Pria yang ada di hadapan Maura itu terus memandangnya. Segala cerita telah tercurah. Dua gelas wine telah habis ditenggaknya. “Ingat ketika pertama kali kita pergi ke mal?” Lintang bertanya.

    “Itu adalah pengalaman pertamaku menginjak mal. Sebelumnya aku anti kapitalisme. Tapi lihat siapa aku sekarang? Aku malah menjadi pengacara perlente yang selalu membela kapitalisme.” Lintang menceracau panjang. Entah apa karena pengaruh alkohol sudah merasukinya atau bukan.

    Malam itu terasa panjang. Sesekali Maura melirik telepon genggam. Berharap Bram mengirim selarik pesan agar bisa dijadikannya dalih untuk segera keluar dari tempat ini. Bukan karena tak nyaman, tapi perempuan itu takut ini adalah awal perselingkuhannya dengan Lintang.

    Tak ada masalah dalam hubungan rumah tangganya dengan Bram. Hanya selama tiga tahun berumah tangga tak ada tanda-tanda mereka akan menimang anak. Dokter tak melihat ada masalah dengan kandungan Maura. Semua baik-baik saja. Yang bermasalah justru lelaki yang dinikahinya saat ia masih menjadi sekretaris di perusahaan media itu. Spermanya tak sanggup berenang untuk bertemu dengan ovum kemudian membuahi rahim Maura.

    Pukulan telak itu membuat Bram menjadi pendiam. Dia semakin larut dengan koleksi musik cadas lawasnya. Dia lebih senang berlama-lama di kantor. Dia tak bisa menyalahkannya. Bahkan Maura membiarkan suaminya itu untuk menyendiri. Tapi kesendiriannya ternyata kini berujung pada Lintang. Maura dilanda bimbang.

    Sebelum bertemu Bram, Maura putus hubungan cukup lama dengan Lintang. Pria yang dipacarinya itu harus terbang ke Oxford menuntaskan S2 nya. Saat itu tak ada komitmen diantara keduanya untuk segera menikah. Lintang masih sibuk ingin menjadi seorang pengacara handal.

    Tiba-tiba tangan Lintang meniti jemari Maura. Bahkan jemari mereka kini berdua erat bersatu. Padahal di jari tengahnya terselip cincin pernikahan Maura dengan Bram. Sebuah pertanda akan kesetiaan. Ingin segera ditariknya jemari itu, tapi ada kekuatan lain yang membuatnya tetap ingin bersatu dengan jemari Lintang.

    Perasaan campur aduk meresap menjelajahi setiap aliran darah Maura. Tampaknya dia takluk seperti pertama dia takluk dulu. Di luar bulan terlihat malu-malu. Gemintang seakan menunggu adegan selanjutnya dari dua orang yang sedang dimabuk asmara itu.

    ***
    Maura terbangun. Disampingnya bukan Bram. Melainkan Lintang dengan tubuh tegapnya yang sebagian masih tertutup selimut. Rambut Maura yang hitam lurus itu terlihat lelah. Dia setengah terduduk untuk meyakinkan yang dilihat disampingnya. “Setan apa yang merasuki tubuhku.” Maura menggerutu.

    Diingatnya ketika malam tubuhnya menggelinjang diantara hasrat dan keputusasaan. Suara desah kedua makhluk itu seakan berburu dengan waktu. Sang perempuan tampak takut akan waktu yang mengejarnya. Sang lelaki bak bison yang sedang menghamburkan nafsunya.

    Nasi sudah jadi bubur. Maura mengusap bulir yang jatuh diantara pelupuk matanya. Dia berjalan gontai. Diraihnya blaser hitam yang masih menggantung di kursi meja makan. Langkahnya terseret menuju kamar mandi. Ingin rasanya dia segera membasuh semua dosa yang telah melumurinya malam itu. Sekujur tubuhnya seperti menderita kurap yang ingin segera dia hilangkan.

    Dia ingin sekali melaknat dirinya. “Pelacur” katanya sambil menunjuk-nunjuk dirinya di kaca kamar mandi yang lebar itu. Maura menundukkan kepalanya. Perempuan itu benar-benar telah jatuh. Tapi ia sendiri tak mengingkari, semalam adalah pengalaman terindah yang pernah dirasakannya bersama Lintang.

    ***
    Hari-hari berikutnya adalah cerita bahagia dan ketakutan tentang sebuah perselingkungan. Dua insan yang terlena tak peduli dengan keadaan masing-masing. Maura kian tenggelam, sementara Bram suaminya semakin terpuruk.

    Sesekali Maura ingin sekali suaminya bertanya. Tapi pertanyaan itu tak jua datang. Seperti jam yang detaknya sama dari waktu ke waktu, kehidupan rumah tangga pasangan itu monoton. Pagi bangun, Maura bergegas sementara Bram masih tertidur. Ketika pulang, Bram masih di kantor, Maura asyik masyuk dengan Lintang.

    “Aku tengah menangani perkara besar. Untuk itu mungkin kita akan jarang bertemu untuk sementara.”
    “Perkara apa gerangan?”
    “Baru kali ini aku menerima perkara pro bono, tanpa dibayar. Aku ingin membantu seorang nenek yang tanahnya dirampas oleh konglomerat.” Suara Lintang memberat.
    “Ini adalah bukti bahwa aku tak ingin selamanya menjadi pengacara yang mengeruk begitu banyak uang dari para penjahat negeri ini.”

    Tangan Maura membelai lembut alis Lintang yang terjajar rapi dan tebal. Suara Lintang yang terus memberat dibiarkan saja. Malam itu, sekali lagi, adalah malam petualangan indahnya bersama lelaki yang terus saja menggoda imannya.

    Dari balik tirai apartemennya, terlihat gemintang memancarkan cahaya benderangnya. Maura mencari rasi bintang gubug penceng, yang sempat menjadi simbol percintaan mereka dulu. Gedung yang tinggi dengan tingkat polusi cahaya yang tinggi menyulitkan matanya untuk mencari rasi bintang itu. Lelaki yang ada di sebelahnya terkulai. Dia lemas oleh nafsunya sendiri.

    Pertemuan malam itu memang sulit dilupakan Maura. Semalaman Lintang tak henti-henti membacakan bait-bait sajak buatannya.

    Syair maskumambang diantara hidup yang ambang
    tentang kita tentang malam
    lalu dimanakah letak cinta

    Maura mendengarkannya dengan pasrah.

    Sudah dua hari ini badan Maura terus terhuyung-huyung. Jika pagi, kepalanya terasa pusing dan mual menyambar-nyambar. Ia sering menyembunyikannya dari Bram. Lelaki itu hanya diam saja. Bram tampaknya sudah tak peduli lagi dengan kehidupan rumah tangga mereka.

    Pulang kantor, Maura menyempatkan diri ke apotek membeli sebuah alat tes kehamilan. Rasanya tak sabar ia menanti pagi untuk segera mengetahui hasilnya. Malam itu adalah malam yang berat bagi Maura. Lelaki di sebelahnya yang terlelap lena dan lelaki yang ada di pikirannya, Lintang.

    Pagi segera datang. Maura bergegas ke kamar mandi. Mengetes urinnya dengan alat yang dibelinya semalam. Detik seperti jam pasir. Jatuhnya terasa begitu lama ketika baris-baris merah itu menampakkan warnanya. Maura hamil, tapi bukan dengan lelaki yang selama ini dinikahinya.

    Perasaan bahagia itu bercampur ketakutan yang menderu. Dia bingung bagaimana menyampaikan hal ini pada Bram. Tangannya masih memegang tes pack itu. Dia lalu berjalan gontai. Menuju ke halaman belakang rumah untuk menikmati secangkir teh sambil mendengarkan kicau burung. Tapi kali ini pikirannya hampa.

    Dia langsung terduduk. Koran yang teronggok di meja dia biarkan saja. Tak ada gairah untuk membaca pagi ini. Pikirannya menerawang.

    “Apakah aku harus membunuh jabang bayi ini?”
    “Tidak. Aku akan mempertahankannya.”

    Tangannya langsung menyambar koran di sampingnya. Matanya terbelalak. Membaca sebuah berita yang menyentakkan. Matanya yang sejak tadi memerah diusapnya berulang-ulang. Tangannya gemetar.

    “Pengacara Muda Lintang Abimanyu Tewas Mengenaskan”

    Selanjutnya adalah bayangan kegelapan.

    JULI HANTORO

  • 1 Tanggapan ke “Maura”


    1. 1 Japra September 4, 2008 pukul 4:02 am

      Bro….hebat kali cerita kau….kayak novel….realita kehidupan pria wanita banyak yang seperti itu…sayang seribu sayang, akhirnya gak happy ending..hehehehe


    Tinggalkan Balasan




    Wajah

    Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

    Today’s Quote

    "Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

    Corong

    logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

     

    April 2008
    S S R K J S M
    « Mar   Mei »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930