Arsip untuk Mei 20th, 2008

100 tahun

Seratus tahun lalu ide nasionalisme betul-betul menjadi harapan bagi bumiputra tampil dan bangkit menjaga kelangsungan sebuah bangsa. Cipto Mangunkusumo kala itu tak takut bersuara lantang menentang pemerintahan Hindia Belanda. Dia bahkan sengaja memasang bintang penghargaan dari Ratu Belanda di pantat.

Kini seratus tahun kemudian, ide nasionalisme entah ada di mana. Pagi tadi saya tersenyum kecut ketika tak ada satupun orang yang diwawancara televisi mengerti tentang Budi Utomo. Ini kalimat yang bikin saya kecut, ” Budi Utomo itu kan pahlawan yang terus bikin sekolah…..” dan masih banyak lagi ekspresi tak paham tentang Budi Utomo.

Seandainya saya bertemu dengan Suwardi Suryodiningrat yang begitu berapi-api menulis, Als ik eens Nederlander was…..Seandainya aku orang Belanda, mungkin saya hanya ingin menyampaikan bahwa ini bukanlah sebuah kesalahan anak-anak muda itu. Mereka hanya menjadi korban ketidakberdayaan kita terhadap penjajahan gaya baru di negeri ini.

Kapitalisme menjadi alat penjajah paling efektif untuk membunuh ideologi. Karena itu nuansa kapitalisme menjadi begitu terasa ketika melihat anak-anak muda kita lebih banyak berada di mal ketimbang di perpustakaan. Pendidikan kita dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi hamba kapitalisme.

Sekolah menjadi sebuah tambang bisnis yang melupakan nilai-nilai ideologi yang seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan di dalamnya. Bagaimana mungkin seseorang bisa memikirkan nasib bangsa ini ketika  kelulusan mereka hanya ditentukan oleh lima mata pelajaran saja dalam hitungan hari? Akhirnya guru dan murid kongkalikong supaya nilai kelulusan menjadi sempurna. Agar kelak sekolah ini bisa menarik lebih banyak murid lagi karena terkenal dengan angka kelulusannya.

Sekolah negeri kini dibuat menjadi tempat pencarian pemasukan untuk menambah pundi-pundi ekonomi pejabat sekolah. Jadi dengan mudah kita melihat ketimpangan antara satu sekolah dengan sekolah lain. Sekolah negeri berperingkat akan memasang tarif masuk selangit. Membuat kaum miskin menjadi kecut untuk memasukinya.

Anggaran pendapatan dan belanja sekolah jelas-jelas menjadi tanda bahwa kapitalisme pendidikan tengah berlangsung di negeri ini. Sekolah negeri bukankah seharusnya disubsidi penuh pemerintah lewat pajak yang telah dibayarkan warga? Maka sekolah tak perlu lagi mencari ‘pendapatan’ tambahan di luar anggaran yang telah ditetapkan pemerintah.

Ketika sekolah dipaksa mencari anggaran tambahan yang terjadi justru pungutan yang membabi buta terhadap orangtua murid. Maka ketika tahun ajaran baru tiba, tak jarang kita melihat kantor pegadaian penuh karena orang tua murid terpaksa menggadaikan apa saja demi anaknya masuk sekolah. Kini sekolah menjadi sebuah barang yang mahal…….

Angka kemiskinan yang kian tinggi membuat kita dengan mudah melihat anak-anak mencari rezeki di jalan. Mereka telah diajarkan mengemis sejak dini. Pemerintah yang akan segera mengucurkan Bantuan Langsung Tunai pun mengajarkan bagaimana rakyat kita untuk terus menerus mengemis.

 


Wajah

Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

Today’s Quote

"Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

Corong

logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

 

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031