Suatu ketika tanah lapang tempat kami biasa shalat Idul Fitri dan Idul Adha akan digusur. Ada yang berencana menjadikan tanah kosong itu sebagai pusat pertokoan. Tanah lapang yang letaknya memang sangat strategis itu jelas menggiurkan bagi pengusaha siapapun membangun pertokoan.
Warga tentu saja menolak rencana itu. Ibu-ibu dengan berbagai cara berdemonstrasi menolak alih fungsi tanah lapang itu. Ali Sadikin kala itu sudah tak menjabat lagi. Dia sudah tua, tapi sebagai salah satu orang yang punya tanah di daerah itu, Bang Ali ikut meneriakkan penolakan.
Dukungan Bang Ali membuat warga di sana kian bersemangat. Hingga kini tanah lapang itu tetap ada. Kami masih bisa shalat Id di tanah lapang seperti anjuran Nabi. Seandainya Bang Ali kala itu tak ikut turun ke jalan menentang, saya tak tahu mungkin tak akan ada lagi tanah lapang di sana.
Bang Ali berpulang tepat ketika bangsa ini merayakan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Cita-cita bangsa masih jauh dari harapan. Bang Ali meninggalkan jejak keberanian. Dia pemimpin yang tak pernah melupakan rakyatnya….
Selamat jalan……

Komentar Terakhir