Siang tadi sekira jam 11 saya naek busway dari Sarinah hendak menuju Senayan. Setelah berjalan kaki cukup jauh karena hari itu adalah hari bebas kendaraan bermotor, saya tiba di depan loket pelayan tiket busway. Seorang penjaga tiket berjilbab dan berkacamata menyambut.
Bukan senyum yang saya dapat melainkan sedikit bentakan, “Gak ada uang yang kecil mas,” katanya. Karena uang di kantong saya ya memang tinggal 50 ribuan, saya menyatakan tidak ada. “Di sini udah gak ada kembaliannya mas,” jawab perempuan tadi ketus.
Saya tak menganggap keketusan itu dan menunggu hingga ada orang lain datang hingga uang saya bisa dikembalikan. Setelah beberapa orang, akhirnya pelayan tiket tampak punya kembalian. Sebetulnya, uang kembalian itu dari tadi ya sudah ada karena dari luar saya lihat banyak uang pecahan seribuan dan lima ribuan dalam kotak yang terlihat jelas dari luar itu. Tapi ah, mungkin simbak itu tak berbohong, maklum perempuan berjilbab….
Tapi alangkah kagetnya ketika pelayan tiket itu memberikan uang kembalian pada saya. Bukan senyum atau kata maaf yang terlontar darinya, saya malah mendapat perlakuan yang sungguh memuakkan. Uang kembalian saya dibanting begitu saja di meja pelayanan. Wajahnya pun tampak tegang memelototi saya.
Beruntung hari itu saya tak ingin marah-marah. Saya lantas bilang, “Lo kok Anda gak senyum melayani konsumen??” Eh dia malah tambah melotot. Ah sudahlah, saya biarkan saja. Dalam hati mungkin dia tengah PMS (pre menstruasi syndrome).
Saya tentu saja kesal dengan perlakuan pelayan tiket yang seperti itu. Mereka tidak sadar bahwa penumpang adalah raja yang harus dilayani dengan baik. Sebab apa? Karena gaji mereka amat tergantung pada tiket yang pembeli beli. Seandainya tak ada penumpang, darimana mereka akan mendapat gaji?
Saya tak habis pikir mengapa mereka malah begitu galak pada penumpang. Mirip dengan kernet metromini atau kopaja yang selalu lebih galak dari penumpang. Para pelayan tiket busway ini tampaknya tak menyadari bahwa di seluruh dunia, transportasi massal adalah kebutuhan publik yang menjadi alternatif selain kendaraan pribadi.
Busway diadakan juga untuk menarik sebanyak-banyaknya pengendara kendaraan pribadi beralih ke moda transportasi ini. Tapi saya mungkin menjadi salah satu korban saja dari cara mereka yang tidak enak memperlakukan penumpang. Bayangkan jika ada penumpang kendaraan pribadi yang ingin beralih ke busway dan harus mengalami kejadian seperti saya, saya jamin besok-besok mereka akan lebih memilih kendaraan pribadinya ketimbang harus menemui orang-orang seperti mbak berjilbab tadi.
Saya mungkin tak terlalu marah jika pelayan tiket tadi adalah orang yang tak mengenakan jilbab. Terus terang dalam pandangan saya yang awam, ketika seseorang mengenakan jilbab itu berarti dia harus paham bahwa mereka membawa nilai-nilai islam dalam kehidupan pribadinya. Tapi sungguh disayangkan jika kita harus menemui orang-orang seperti mbak tadi yang akhirnya mengenakan pakaian yang diwajibkan bagi perempuan muslim itu tapi memamerkan sesuatu yang tak islami. “Ah jangan salahkan Islam…” begitu saya sering mendengar nasihat teman-teman.
Saya tak menyalahkan agama saya itu. Saya hanya menyalahkan orang-orang seperti itu. Orang-orang seperti Rizieq Shihab dan kawan-kawan yang mengenakan atribut Islam tapi menunjukkan kekerasan……..
Ah, jadi melebar kan. Hari ini, saya jadi berdoa semoga si mbak berjilbab dan berkacamata pelayan tiket busway itu besok bisa berubah. Tapi kalau tidak, ya mungkin itu udah bawaan kali……..
Jakarta yang panas jadi tambah panas dengan kelakuan si mbak tadi…..
salam

Salam kenal…
Kalo saya pernah berkelahi dengan penjaga loket busway (plus supervisornya juga) karena mereka tidak mau terima pecahan uang 50 rupiah. Waktu itu saya sengaja memakai 3 lembar uang 1000, 4 keping uang 100 dan 2 keping uang 50. Tujuannya untuk meringankan kantong uang receh. Sebelum naik jembatan penyebrangan, dompet saya masukkan ransel, kemudian ransel saya gembok.
Ternyata uang 50an saya dikembalikan dengan ketus. Karena saya malas untuk merogoh dompet di dalam ransel yang sudah terkunci, dan karena menurut saya meskipun itu 50an yang buat beli permen saja tidak cukup, tapi itu UANG. Kebetulan juga saya lagi semangat diajakin berantem… jadilah saya berkelahi untuk mempertahankan 2 keping 50an tadi.
Katanya alasannya bank DKI tidak mau terima setoran dengan uang 50an. Wah, padahal uang 50an saya itu kinclong, sepertinya baru keluar dari bank.
Aneh-aneh aja memang busway itu…
Wah, pengalaman buruk yang hampir mirip. Keluhan seperti ini pernah ditulis di Koran Tempo juga tapi tampaknya tak ada reaksi dari pengelola busway……thks for sharing….