Apakah kau menistakan pagi yang telah menyiramkan semburat mentarinya melewati kelengangan pikiran-pikiranmu? Lalu kau tersenyum pada cerita tentang masa lalu tentang seseorang yang kini terus menghantuimu. Perempuan dengan wajah sekujur sendu yang terus berlarian mengejar harapan-harapan, kamu adalah waktu yang berhenti pada suatu ketika.
Pagi ini kau tenggelam dalam tumpukan kejadian-kejadian, perencanaan-perencanaan dan kau harus memutuskan. Entah satu atau sekian dalam hitungan hari yang terus kesepian. Sentuhan jemarimu adalah harapan bagi jiwa yang juga sepi. Menanti mimpi yang membelit sejak dini.
![]()
Alunan pagi adalah deretan do re mi fa sol yang terus kau entakkan. Mengalun lewat bibir serupa mantra mencari jiwa-jiwa yang lena. Sambil bertanya, “Apakah pagi masih ada?”
Perempuan dalam kubikel yang masih bertahan pada setianya metamorfosa kupu-kupu, langkahmu menyisakan jejak pada rinai yang datang tak tepat waktu. Pada jejakmu ada kisah tentang kepedihan yang tak hapus dalam terpaan rintik.
Engkau tampaknya tak ingin menghindari hujan. Malah kau menghampiri seakan hendak menyapa, “Apa kabar gemawan yang menghantar kehadiranmu?” Wajahmu berbalur gerimis membuat soneta tentang malam yang kian banal.
Lelaki adakah kau ingin menghampiri perempuan dalam kubikel ini?

Komentar Terakhir