Wajah yang diiris gerimis menjauh dari kenangan-kenangan. Tubuhnya yang tertusuk salju musim dingin bersandar pada tiang tepat di sisi kanal yang menghembuskan kerinduan.
Perempuan bermata malam kemudian berjalan perlahan. Di sisinya impian berkelindan dengan kabut yang lembut menerobos lorong waktu yang panjang. Langit yang biru lebam mengantar sore pada sepinya jembatan yang biasa kau lalui dengan secuil syair:
I suddenly dare to say
I want you;
if you suddenly don’t want to any more
I have to accept it,
like when morning or evening don’t want to any more.*
Pagi yang senyap melenyapkan harapan engkau bertemu lagi dengan matahari yang enggan muncul dalam kepasrahan. Satu per satu langkah dihitung, seiring salju yang sayup-sayup jatuh. “Masihkah harapan itu menyebar diantara pagi dan malam?”
Perempuan dari Gouda itu menutup langkahnya tepat di ujung jembatan kanal yang membeku. Kakinya menyilang tangannya bersedekap. Di ujung hidung hembusan asap musim dingin mengebul-ngebul. Dia berdiri agak lama menatap langit yang tak kunjung cerah. Dia ingin melihat sekilas saja wajah yang pernah menyelinap dalam hatinya: Pria penuh keluguan.
Pria yang pernah berlabuh dalam dermaga cintanya. Cinta yang penuh teka-teki. Menurun mendatar dengan segudang pertanyaan dan hanya berbekal petunjuk-petunjuk hampa. Tapi pria itu buatnya adalah sebuah pelabuhan yang tentram. Pelabuhan tempatnya bersandar pada kegelisahan, tempatnya bercerita tentang kegalauan.
Jejak pria itu masih ditelusurinya. Kadang ia mengelak ketika melihat jejak yang mengarah pada malam yang membuat mereka akhirnya berpisah. Sebuah malam yang runtuh karena keinginan tak selalu sejalan dengan perasaan.
Perempuan bermata temaram terus melanjutkan pencarian. Seribu langkah lebih. Sejuta bahkan lebih…….
*

Komentar Terakhir