![]()
Lagi-lagi kita dihadapkan pada sebuah tragedi. Sebanyak 21 orang tewas terinjak-injak ketika mengantri sedekah di rumah Haji Syaikhon, seorang dermawan asal Pasuruan Jawa Timur.
Wajah-wajah penuh harap itu berhimpitan, berdesakan, dan saling dorong, demi mendapat uang Rp 30 ribu. Akibatnya memang fatal, korban tewas yang kebanyakan ibu-ibu itu meregang nyawa ketika hendak meraih uang yang mungkin menurut ukuran orang kota, tak cukup untuk sekadar ongkos taksi itu.
Kemiskinan membuat mereka rela mengantri begitu lama mungkin dengan perut yang juga menahan lapar karena puasa. Adegan maut itu seolah mencuri perhatian kita dari gegap gempitanya acara-acara mewah dan konsumtif yang dikemas sedemikian rupa di televisi demi menyambut puasa.
Siaran langsung dengan ‘adu bintang’ di televisi seakan jor-joran untuk menangkap rezeki iklan miliaran. Sebuah kontras yang tentu saja terus mengganggu pikiran saya. Teman saya berujar, “Nggak perlu salah menyalahkan….”
Ketika korban tewas pasti ada yang salah, ada yang lalai. Yang salah mungkin si empunya rezeki yang tak mengantisipasi bakal begitu banyak orang yang siap menerima dermanya. Kelalaiannya, pak Haji mungkin lupa untuk meminta tolong aparat kepolisian agar bisa mengamankan orang yang jumlahnya ribuan itu.
Toh, korban telah jatuh. Korban yang menurut teman saya, “mati syahid”. Menurut Kyai Miftahul Anwar dari PW NU Jawa Timur pembagian zakat secara terbuka seperti itu memang tak salah. Tapi menurut saya, alangkah lebih baik jika lembaga zakat yang sudah tumbuh dimana-mana itu dimanfaatkan.
Pak Haji Syaikhon kini mungkin sedang pusing karena polisi akhirnya mengusut masalah ini. Cerita-cerita miring pun beredar, mulai dari sosoknya yang jarang bergaul, bisnis penyamakan kulit yang tak diketahui banyak penduduk setempat, dan lain-lain.
Tapi itu semua tampaknya tak menutupi semangat para pencari rezeki. Diwawancari sebuah stasiun televisi, seorang korban selamat mengaku, dia tetap akan mengantri di depan rumah pak haji tahun depan untuk mendapatkan zakat………tak peduli risikonya mati…..

0 Tanggapan ke “Sedekah Maut”