Saat melihat iklan sebuah merek motor dengan bintang iklannya Iwan Fals saya sempat terkejut. Idola saya itu kini sudah berubah, dia tak lagi gondrong dengan kumis yang sangar. Di iklan itu, Iwan Fals tampak jauh lebih muda dari usianya.
Iklan motor itu jelas membuat banyak orang bertanya-tanya. Apakah Iwan sudah tak seidealis dulu lagi??
Jawaban itu rupanya harus saya buang jauh-jauh. Pekan lalu saya dan kawan-kawan di Koran Tempo berkesempatan mewawancarai pria bernama asli Virgiawan Listantyo itu di rumahnya yang asri dan jembar di kawasan Leuwinanggung, Depok. Wawancara lengkapnya bisa dilihat di Koran Tempo edisi Minggu (28/9).
Malam itu Iwan ditemani istrinya, Yos. Dengan rambut rapi yang sudah dicat, Iwan menyembunyikan ubannya. Padahal, katanya, “Kekuatan saya justru di uban ini.” Soal iklan motor itu Iwan mengatakan, dia tertarik membintangi karena ia juga gemar motor. Plus dia melihat motor kini sudah jadi moda transportasi utama rakyat.
Selain itu,katanya, pabrikan motor yang dibintanginya memenuhi standar kualifikasi buangan yang ramah lingkungan. “Pabriknya juga ramah lingkungan,” ujarnya. Dia juga diberitahu bahwa pabrik motor itu di negara asalnya juga amat ramah lingkungan. Burung-burung saja bisa kumpul di pabrik itu, cerita Iwan.
Tapi dibalik itu semua, Iwan tentu harus memikirkan manajemen yang kini di kelola istrinya. Sebuah manajemen yang harus menghasilkan uang. Tentu saja buat menghidupi karyawan yang bekerja di bawah manajemennya.
Meski demikian Iwan tetap saja orang yang tak pernah lepas pengamatannya dari masalah di sekitarnya. “Saya bingung dengan kondisi sekarang….” Dia memang bingung dengan berbagai berita yang tiap hari membuatnya terkaget-kaget.
Soal musik dan lagu, Iwan mengatakan dia menciptakan lagu hampir tiap hari. Tapi, katanya, semua itu harus direnungkan lagi. “Saya gak mungkin bilang pahit dengan kata pahit, harus ada kata lain yang bisa menggambarkan perasaan itu,” katanya.
Iwan tetap saja seorang Iwan yang dulu, yang detil melihat segala permasalahan bangsa ini. Dia merinding ketika bercerita tentang malangnya nasib anak-anak korban lumpur Lapindo. “Tiap hari mereka harus berbagi dengan orang tuanya di ruang yang sempit….” Dan, katanya lagi, tiap malam kadang mereka harus melihat atau mendengar orang tuanya yang tengah berhubungan badan.
“Bagaimana coba masa depan mereka……”
Biar pemikirannya lebih tajam ketimbang artis atau seniman lain yang nyemplung ke politik, Iwan tetap tak mau bermain politik. “Saya ingin menyanyi saja,” katanya. Kalaupun dia punya pemikiran hal itu akan disalurkannya lewat lagu dan tentu saja wawancara dengan media.
“Biar saya jadi presiden kaos saja, umurnya kan sampai akhir zaman,” katanya terkekeh.
Iwan sang pahlawan Asia versi majalah Time itu mengaku kesulitan mengakses langsung kehidupan masyarakat. “Anda tahu kan saya punya keterbatasan fisik. Saya gak mau menyamar atau menjadi orang lain untuk melihat apa yang ada di masyarakat,” katanya. Iwan tak bisa terjun ke lapangan karena ketokohannya. Dia tentu akan direpotkan dengan para penggemarnya sebelum ia bisa melihat langsung apa yang terjadi di masyarakat.
Dengan dukungan ratusan ribu anggota Oi di seluruh Indonesia, Iwan sebetulnya punya potensi yang lebih dari seniman manapun untuk tampil di politik. Tapi ia enggan. “Jangan bermain api….”
Iwan Fals pun ikut gundah ketika membaca artikel tentang betapa para pejabat lebih senang menggunakan sepatu merek asing di mesjid istana ketimbang sepatu buatan Cibaduyut. “Bayangin perasaan perajin sepatu Cibaduyut kalau membaca itu…”
Kegundahan Iwan tak pernah behenti……dia tetap berpikir dan memikirkan nasib bangsa ini.

0 Tanggapan ke “Kegundahan Iwan Fals”