Arsip untuk Oktober, 2008

Sebuah Pencarian (Cerita Bersambung)

Sudah hampir tiga jam Kin duduk membengong di depan laptopnya. Belum ada satu hurufpun terketik di sana. Layar itu masih polos, putih, belum ada titik dan huruf satupun. Tiga jam, sungguh pekerjaan yang sia-sia. Kin tak habis pikir mengapa otaknya hari itu buntu seperti bertumbuk batu. Mati angin.

Caffe latte yang dipesannya sejak tadi sudah tandas. Sudah tiga gelas yang dipesannya. Tapi kebekuan di otaknya belum juga mencair. Ide yang dia rancang begitu rupa untuk tulisan novel berikutnya tiba-tiba terbang seperti digeledah angin puting beliung. Dia kesulitan menangkap sekepingpun serpihannya.

Orang-orang di cafe itu sudah datang dan pergi. Hanya Kin yang duduk di pojok dekat kaca kafe itu berkutat dengan pikiran-pikirannya. Saat hendak menutup laptopnya karena kekesalannya sudah memuncak, justru Kin melihat seorang lelaki di seberang kafe yang menarik perhatiannya.

Lelaki berjaket coklat dengan tampang dingin itu terlihat berdiri termangu di sebuah toko yang hitam karena api. Matanya meratapi puing-puing yang roboh ke sana kemari. Buliran arang yang terbang ke arah pria itu tak ditepisnya. Tiba-tiba saja pria itu bersimpuh.

Lanjutkan membaca ‘Sebuah Pencarian (Cerita Bersambung)’

Nasib Buruh…….

Membaca berita utama Koran Tempo hari ini kepala saya kembali cenut-cenut. Upah buruh diminta untuk tidak dinaikkan karena pengusaha tengah limbung akibat krisis finansial global. Sebuah surat keputusan bersama sudah diteken. Intinya dewan pengupahan untuk merumuskan rekomendasi penetapan upah minimum dengan memperhatikan kemampuan dunia usaha dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Lakon apalagi ini. Pengusaha dan pemerintah berkongkalingkong agar buruh kembali terjepit di situasi yang sudah menjepit ini? Coba tengok, sejak bahan bakar minyak naik ke langit, buruh menjadi orang yang paling menjerit. Dengan gaji yang tetap mereka menurut Presiden Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia Yanuar Rizky harus nombok 19,5 persen untuk konsumsi inti!

Bayangkan buruh yang punya anak, dari mana lagi mereka harus mendapatkan uang untuk membiayai anaknya? Atau mereka harus merelakan anaknya putus sekolah lalu segera menikah seperti kejadian di Semarang?

Pemerintah seakan lepas tangan dan memanjakan pengusaha. Jelas pengusaha harus tetap hidup dan bertahan di tengah krisis global ini. Tapi buruh juga harus tetap bisa berjalan ke kantor, makan biar sehat dan kinerjanya tak berkurang, dan sesekali tentu berekreasi meski hanya ke Ragunan……

Lalu pemerintah dimana? Ongkos angkutan yang kian mahal membuat buruh harus mencari akal untuk menyiasatinya. Sesekali bahkan mereka harus mencuri-curi naik kereta kelas kambing gratisan….Bukankah pemerintah punya banyak cara agar pengusaha tak bolong buruhnya juga tak ompong?

Ambil contoh, subsidi langsung angkutan massal. Angkutan kota, kopaja atau metromini harus mendapat subsidi yang adil. Buatkan saja pom bensin khusus angkot dan bus kota. Jangan antara angkutan kota mengisi bensin dengan harga yang sama dengan orang yang mengisi bensin bermerk Honda Jazz dan mobil pribadi lainnya……

Kalau orang-orang pinter mungkin akan mengusulkan insentif pajak untuk pengusaha saya ndak terlalu paham soal itu. Tapi itu langkah yang patut diperhitungkan pemerintah.

Bagi saya yang juga buruh ini, sekali ditekan buruh akan bergerak. Ingat kekuatan buruh dahsyat bahkan untuk meluncurkan sebuah revolusi…….


Wajah

Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

Today’s Quote

"Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

Corong

logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

 

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031