Sudah hampir tiga jam Kin duduk membengong di depan laptopnya. Belum ada satu hurufpun terketik di sana. Layar itu masih polos, putih, belum ada titik dan huruf satupun. Tiga jam, sungguh pekerjaan yang sia-sia. Kin tak habis pikir mengapa otaknya hari itu buntu seperti bertumbuk batu. Mati angin.
Caffe latte yang dipesannya sejak tadi sudah tandas. Sudah tiga gelas yang dipesannya. Tapi kebekuan di otaknya belum juga mencair. Ide yang dia rancang begitu rupa untuk tulisan novel berikutnya tiba-tiba terbang seperti digeledah angin puting beliung. Dia kesulitan menangkap sekepingpun serpihannya.
Orang-orang di cafe itu sudah datang dan pergi. Hanya Kin yang duduk di pojok dekat kaca kafe itu berkutat dengan pikiran-pikirannya. Saat hendak menutup laptopnya karena kekesalannya sudah memuncak, justru Kin melihat seorang lelaki di seberang kafe yang menarik perhatiannya.
Lelaki berjaket coklat dengan tampang dingin itu terlihat berdiri termangu di sebuah toko yang hitam karena api. Matanya meratapi puing-puing yang roboh ke sana kemari. Buliran arang yang terbang ke arah pria itu tak ditepisnya. Tiba-tiba saja pria itu bersimpuh.

Komentar Terakhir