Arsip untuk Desember, 2008

Di sebuah pojok tembok kantor penerangan pemerintah Israel terpacakĀ  sebuah kertas kuning post-id. Di sana tertulis angka 10.048. Itu bukan angka nujum, melainkan jumlah roket yang telah dilontakan kelompok Hamas dari jalur Gaza ke Israel.

Negara Yahudi itu ternyata rajin menghitung jumlah rokter yang telah meluncur ke wilayahnya. Bagi Israel itu adalah sebuah ancaman, tapi bagi Hamas itu adalah pencapaian. Israel rupanya tak tahan melihat angka itu terus meningkat.

Sebuah serangan brutal akhirnya mereka kerahkan. Tiga ratusan lebih orang tewas termasuk anak-anak dan wanita. Israel seperti Jerman ketika memburu Yahudi. Ini adalah Holocaust yang terus didiamkan dunia. Pembantaian yang harusnya dihentikan tapi dunia sepeti tak bisa berbuat apa-apa…..

ketika

datanglah ketika kamu hilang
seperti waktu yang terhumbalang
berkali-kali waktu aku tengok
engkau ada dalam lorong yang teronggok

(suara desir itu menggebu)
adakah kita adalah waktu yang terbelah
di antara kehendak dan keinginan?
lalu mengapa kita biarkan perahu itu terus membuat kita bersama?

Tengoklah malam
tengadahkan wajah
hitung bintang-bintang
kalikan dengan kerinduan
lalu bagi dengan harapan-harapan

Sedetik

Perempuan bertopang logika itu menghilang. Sedetik tapi rasanya berjuta.
Perempuan yang tangannya mengalir air kehidupan itu sirna. Lama tak kunjung tiba…..

Kemanakah?
Dimanakah?

Gayatri

Angka-angka dalam kalender itu nyaris tak terlihat. Coretan merah menyilang sudah mencapai angka 26. Di atas angka-angka itu ada gambar hamparan sawah dengan seorang gadis yang sedang mencuci di kali. Warna gambar itu pudar. Sama dengan wajah gadis yang kini sedang menatapnya.

Tangannya gemetar. Gambaran tentang sawah adalah kehidupan masa kecilnya yang elok. Ketika dia bebas ke sana kemari bak burung prenjak yang lincah dan mengeluarkan suara nyaringnya. Burung kecil berparuh panjang itu sering hinggap di atas dahan-dahan pohon mangga di muka rumahnya.

Suara burung-burung itu masih dihapalnya. Seperti dia menghapal langkah-langkah kaki yang saban malam mengendap menuju kamarnya. Kalender itu dibekapnya erat. Dia sengaja meletakkannya di bawah bantal. Agar mudah mengambil dan mencoret hari-hari sial yang menghampirinya.

Malam itu malam Kamis Legi. Tepat hari kelahirannya. Di sebuah desa nun di ujung Lampung Timur 18 tahun silam. Orangtuanya memberi namanya Gayatri Maharani. Sebuah nama indah untuk ukuran keluarga transmigran seperti dirinya. Nama itu didapat orangtuanya saat menonton sebuah film India di televisi. Bintang filmnya saat itu bernama Gayatri Maharani Devi.

Nama biasanya menjadi sebuah doa orangtua agar kelak anaknya bisa seberuntung si bintang film nan cantik itu. Gayatri memang cantik. Rambutnya lurus tebal bak bintang iklan shampo. Hidungnya bangir dengan bibir tipis yang menawan. Siap menghadang lelaki manapun.

Sayang nasibnya tak seindah bintang film India tadi. Lewat seorang calo yang sangat agresif mendatangi kampung-kampung, Gayatri akhirnya terdampar di sebuah rumah nun jauh dari kampung kelahirannya. Bahkan jauh dari negerinya, Arab Saudi.

Kalender yang diberikan orangtuanya itu banyak bercerita tentang Gayatri. Sejak kedatangannya di sebuah negeri yang menjanjikan emas ini, hingga malam-malam laknat yang dihadapinya.
Lanjutkan membaca ‘Gayatri’


Wajah

Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

Today’s Quote

"Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

Corong

logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

 

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031