Angka-angka dalam kalender itu nyaris tak terlihat. Coretan merah menyilang sudah mencapai angka 26. Di atas angka-angka itu ada gambar hamparan sawah dengan seorang gadis yang sedang mencuci di kali. Warna gambar itu pudar. Sama dengan wajah gadis yang kini sedang menatapnya.
Tangannya gemetar. Gambaran tentang sawah adalah kehidupan masa kecilnya yang elok. Ketika dia bebas ke sana kemari bak burung prenjak yang lincah dan mengeluarkan suara nyaringnya. Burung kecil berparuh panjang itu sering hinggap di atas dahan-dahan pohon mangga di muka rumahnya.
Suara burung-burung itu masih dihapalnya. Seperti dia menghapal langkah-langkah kaki yang saban malam mengendap menuju kamarnya. Kalender itu dibekapnya erat. Dia sengaja meletakkannya di bawah bantal. Agar mudah mengambil dan mencoret hari-hari sial yang menghampirinya.
Malam itu malam Kamis Legi. Tepat hari kelahirannya. Di sebuah desa nun di ujung Lampung Timur 18 tahun silam. Orangtuanya memberi namanya Gayatri Maharani. Sebuah nama indah untuk ukuran keluarga transmigran seperti dirinya. Nama itu didapat orangtuanya saat menonton sebuah film India di televisi. Bintang filmnya saat itu bernama Gayatri Maharani Devi.
Nama biasanya menjadi sebuah doa orangtua agar kelak anaknya bisa seberuntung si bintang film nan cantik itu. Gayatri memang cantik. Rambutnya lurus tebal bak bintang iklan shampo. Hidungnya bangir dengan bibir tipis yang menawan. Siap menghadang lelaki manapun.
Sayang nasibnya tak seindah bintang film India tadi. Lewat seorang calo yang sangat agresif mendatangi kampung-kampung, Gayatri akhirnya terdampar di sebuah rumah nun jauh dari kampung kelahirannya. Bahkan jauh dari negerinya, Arab Saudi.
Kalender yang diberikan orangtuanya itu banyak bercerita tentang Gayatri. Sejak kedatangannya di sebuah negeri yang menjanjikan emas ini, hingga malam-malam laknat yang dihadapinya.
Lanjutkan membaca ‘Gayatri’
Komentar Terakhir