Siang tadi saya sempat sewot dengan kondektur Meto Mini yang tak mau menerima uang Rp 2000 yang saya berikan padanya. Katanya, “kurang Rp 500.” Saya pun menyahut, “bukannya udah turun.” Dia dengan nada tinggi dan tampang sedikit diseram-seramkan mengatakan, “Kata siapa?” “Kata Pemerintah,” jawab saya.
Eh si kenek enak saja mengatakan, “itu kan kata pemerintah.” Tak mau beradu argumentasi yang bisa berujung bentrok mending saya memilih mengambil uang saya dan turun mencari bus yang lain. Di bus yang lain, uang Rp 2000 yang saya sodorkan diterima tanpa protes.
Tentu saya tak mempermasalahkan uang Rp 500 yang diminta si kernet tadi. Saya mempermasalahkan tidak patuhnya para pengusaha bus terhadap apa yang telah diputuskan pemerintah. Saat BBM naik, mereka dengan cepat menaikkan tarif, meski saat itu pemerintah belum memutuskan.
Tapi ketika BBM diturunkan, ada saja alasan mereka. Yang harga spare part naiklah, pungli di jalan lah dan lain-lain. Sopir pun bingung setoran juga tak diturunkan pengusaha.
Mengurus angkutan di negeri ini kok sepertinya sulit sekali. Padahal, angkutan massal amat dibutuhkan untuk mengurangi polusi udara dan kerugian miliaran akibat jalan yang macet. Belum lagi kalau kita menghitung berapa ribu kiloliter yang dihabiskan per hari hanya untuk konsumsi bensin. Itu berarti kita mencuri jatah anak cucu kita yang seharusnya dengan penghematan kita saat ini bisa menikmati bahan bakar fosil.
Pengusaha angkutan kita seperti pongah dan pemerintah tak bisa berbuat apa-apa. Ancaman pencabutan trayek hanya gertakan di atas kertas saja. Kenyataannya di lapangan, praktek seenaknya menagih ongkos dengan tarif lama terjadi tanpa ada yang menghalangi. Penumpang adalah orang yang paling dirugikan.
Pemerintah rupanya telat berpikir bahwa angkutan umum yang nyaman, tentu selain Bus Transjakarta, bisa membuat orang meninggalkan kendaraannya di rumah. Mereka akan menggunakan kendaraan umum untuk beraktifitas. Tapi dengan tarif yang tinggi dan pelayanan yang amburadul membuat kita akhirnya memilih menggunakan motor. Murah, dan cepat.
Padahal, angka kecelakaan motor di ibukota sangat tinggi. Saya tak tahu statistiknya, tapi cobalah Anda seharian berada di jalanan, setidaknya pasti anda melihat satu kecelakaan motor terjadi. Apa kita akan terus membuang nyawa secara percuma, padahal banyak pengendara motor yang tewas rata-rata adalah anak muda yang masih punya perjalanan hidup yang harusnya masih lama.
Dulu, ketika tarif dinaikkan Organda (Organisasi yang menaungi pengusaha angkutan) selalu berjanji memberikan pelayanan yang lebih baik,tapi tetap saja pelayanan tak berubah. Kita harus terus beradu jantung jika naik kendaraan umum karena ulah supir yang ugal-ugalan. Toh, kata mereka, kalau ditangkap urusannya gampang tinggal bayar, semua beres.
Bobroknya angkutan umum di Jakarta khususnya, menjadi cerminan betapa kita tak bisa mengurus kota ini dengan baik. Hmm….saya pun menghayal seandainya dulu pada zaman kekuasaan otoriter berkuasa, angkutan massal menjadi prioritas tentu keadaannya tak seruwet sekarang.
Tapi kita tentu tak bisa kembali ke masa lalu. Kita harus memperbaikinya sekarang. Penumpang menjadi unsur utama dalam angkutan massal, karena itu penumpang juga tak boleh begitu saja dikelabui para kernet dan sopir yang menjadi operator angkutan umum di jalan-jalan. Mereka harus kritis agar para sopir dan kernet paham bahwa penumpang menjadi penting buat mereka.
Saya ingin sekali angkutan umum seperti metromini atau kopaja berganti dengan angkutan yang lebih nyaman, biar tentu saja, anak saya kelak tak alergi naik angkutan umum. Biar jalan-jalan di ibukota ini tak macet, biar tak ada lagi polusi, biar kita tak perlu mengimpor bahan bakar yang begitu banyak……..
Komentar Terakhir