Arsip untuk Januari, 2009

Jangan Bugil Kalau Naik Gunung

Sebuah pemerintahan lokal di Swiss berencana mengambil tindakan bagi para pendaki bugil. Pemerintah di kota Appenzell Innerrhoden berencana menerapkan denda bagi siapapun yang ditemukan berjalan di wilayah pegunungan itu tanpa mengenakan pakaian.

Keputusan ini diambil sebelum musim pendakian tahun ini tiba. Mereka tak ingin lagi kecolongan seperti yang terjadi pada tahun lalu. Para pelancong nudist itu biasanya datang dari Jerman.

Kelompok yang menamakan diri FKK alias free body culture adalah sebuah gerakan yang populer pada masa lalu di Jerman. Pemerintah setempat mengaku terpaksa menerapkan denda tersebut. “Kami terpaksa memperkenalkan ketentuan melawan praktek (tak berbusana) itu sebelum musim panas dimulai,” kata Melchior Looser, menteri hukum di wilayah itu.

“Masalahnya, banyak anak-anak yang berkunjung ke gunung kami pada musim panas,” katanya seperti dikutip Guardia. Seorang pendaki bugil ditangkap pada musim gugur lalu, namun tak bisa didenda karena belum ada payung hukumnya.

Nah, buat yang ingin ke Swiss musim ini siap-siap tak melihat para pendaki bugil itu lagi……

(Sumber: BBC)

Tarif

Siang tadi saya sempat sewot dengan kondektur Meto Mini yang tak mau menerima uang Rp 2000 yang saya berikan padanya. Katanya, “kurang Rp 500.” Saya pun menyahut, “bukannya udah turun.” Dia dengan nada tinggi dan tampang sedikit diseram-seramkan mengatakan, “Kata siapa?” “Kata Pemerintah,” jawab saya.

Eh si kenek enak saja mengatakan, “itu kan kata pemerintah.” Tak mau beradu argumentasi yang bisa berujung bentrok mending saya memilih mengambil uang saya dan turun mencari bus yang lain. Di bus yang lain, uang Rp 2000 yang saya sodorkan diterima tanpa protes.

Tentu saya tak mempermasalahkan uang Rp 500 yang diminta si kernet tadi. Saya mempermasalahkan tidak patuhnya para pengusaha bus terhadap apa yang telah diputuskan pemerintah. Saat BBM naik, mereka dengan cepat menaikkan tarif, meski saat itu pemerintah belum memutuskan.

Tapi ketika BBM diturunkan, ada saja alasan mereka. Yang harga spare part naiklah, pungli di jalan lah dan lain-lain. Sopir pun bingung setoran juga tak diturunkan pengusaha.

Mengurus angkutan di negeri ini kok sepertinya sulit sekali. Padahal, angkutan massal amat dibutuhkan untuk mengurangi polusi udara dan kerugian miliaran akibat jalan yang macet. Belum lagi kalau kita menghitung berapa ribu kiloliter yang dihabiskan per hari hanya untuk konsumsi bensin. Itu berarti kita mencuri jatah anak cucu kita yang seharusnya dengan penghematan kita saat ini bisa menikmati bahan bakar fosil.

Pengusaha angkutan kita seperti pongah dan pemerintah tak bisa berbuat apa-apa. Ancaman pencabutan trayek hanya gertakan di atas kertas saja. Kenyataannya di lapangan, praktek seenaknya menagih ongkos dengan tarif lama terjadi tanpa ada yang menghalangi. Penumpang adalah orang yang paling dirugikan.

Pemerintah rupanya telat berpikir bahwa angkutan umum yang nyaman, tentu selain Bus Transjakarta, bisa membuat orang meninggalkan kendaraannya di rumah. Mereka akan menggunakan kendaraan umum untuk beraktifitas. Tapi dengan tarif yang tinggi dan pelayanan yang amburadul membuat kita akhirnya memilih menggunakan motor. Murah, dan cepat.

Padahal, angka kecelakaan motor di ibukota sangat tinggi. Saya tak tahu statistiknya, tapi cobalah Anda seharian berada di jalanan, setidaknya pasti anda melihat satu kecelakaan motor terjadi. Apa kita akan terus membuang nyawa secara percuma, padahal banyak pengendara motor yang tewas rata-rata adalah anak muda yang masih punya perjalanan hidup yang harusnya masih lama.

Dulu, ketika tarif dinaikkan Organda (Organisasi yang menaungi pengusaha angkutan) selalu berjanji memberikan pelayanan yang lebih baik,tapi tetap saja pelayanan tak berubah. Kita harus terus beradu jantung jika naik kendaraan umum karena ulah supir yang ugal-ugalan. Toh, kata mereka, kalau ditangkap urusannya gampang tinggal bayar, semua beres.

Bobroknya angkutan umum di Jakarta khususnya, menjadi cerminan betapa kita tak bisa mengurus kota ini dengan baik. Hmm….saya pun menghayal seandainya dulu pada zaman kekuasaan otoriter berkuasa, angkutan massal menjadi prioritas tentu keadaannya tak seruwet sekarang.

Tapi kita tentu tak bisa kembali ke masa lalu. Kita harus memperbaikinya sekarang. Penumpang menjadi unsur utama dalam angkutan massal, karena itu penumpang juga tak boleh begitu saja dikelabui para kernet dan sopir yang menjadi operator angkutan umum di jalan-jalan. Mereka harus kritis agar para sopir dan kernet paham bahwa penumpang menjadi penting buat mereka.

Saya ingin sekali angkutan umum seperti metromini atau kopaja berganti dengan angkutan yang lebih nyaman, biar tentu saja, anak saya kelak tak alergi naik angkutan umum. Biar jalan-jalan di ibukota ini tak macet, biar tak ada lagi polusi, biar kita tak perlu mengimpor bahan bakar yang begitu banyak……..

sepi

Rinai itu kini sepi. Tak ada lagi cerita-cerita yang mengiringinya. Dia jatuh pada daun yang mati. Bulirnya terlihat coklat menerawang memancarkan cahaya yang redup di kejauhan. Tak seperti malam-malam sebelumnya yang mengurai rinai dengan mimpi-mimpi. Malam ini rinai sendiri.

Wajah yang terjatuh diantara rintiknya jelas membuat malam terasa seperti teriris. Malam sengaja menutup bintang agar rinai tetap datang walau dengan tangisan-tangisan. Tapi malam tak bisa menggapai rinai yang terkulai jatuh ke tanah. Dia memercik, mengeluarkan bunyi “tik” lalu hilang.

Bunyi “tik” itu menyengat malam. Dia seperti tergugah seperti tanah yang muncrat lalu jatuh lagi. Percikannya itu terasa hingga sekarang. Membuat malam dan rinai akhirnya sepi. Seperti sebuah kutukan yang datang terlampau telat.

Baru kali itu rinai merasa dihianati. Malam tak datang saat ia hendak turun. Padahal sepasukan rindu telah disiapkan untuk memeluk malam. “Apakah kau takut jika bintang-bintang menuduh kita telah bersiasat licik untuk memadamkannya?”

Malam terdiam. Rinai tak mau berhenti menghantam. Suara tik nya makin banyak. Bahkan ketika malam hendak menutup diri berganti pagi suara tik itu terus menghujam malam. Belum lagi sekawanan guntur dibawa rinai untuk menggedor-gedor malam. Tapi waktu tak bisa dibendung rinai.

Sedetik demi sedetik malam berganti. Rinai terus meratap. Dia menumpahkan dirinya sebanyak mungkin. Pagi itu rinai kehilangan malam. Dia menjadi siklus yang akan dihadapinya dalam 24 jam ke depan.

“Sejak awal aku sanksi malam akan setia menemani………”

Lik Ngatman

“Lik Ngatman opo wis meninggal yo…” Ibu berceloteh sambil mengulek sambel pedas kesukaannya. Urat tangannya yang berwarna biru itu menonjol di sana-sini, dia tampak lelah tapi masih tetap mengingat lik Ngatman.

Lik Ngatman adalah seorang saudara kami di kampung. Saya juga tak tahu bagaimana silsilahnya hingga ia bisa menjadi saudara kami. Yang pasti, rumah yang selalu dijujuknya jika ke Jakarta ya rumah kami. Lik Ngatman bukan seorang yang istimewa, tapi kehadirannya kadang nganeni.

Pria paruh baya itu sesekali datang ke Jakarta dan selalu mampir di rumah kami. Di rumah kami, dia terlihat senang karena keberadaannya selalu dianggap. Maklum, Lik Ngatman mengidap penyakit syaraf. Ah, tapi tak ada satupun rekomendasi dokter dari rumah sakit jiwa di dekat kampung kami.

Kata bapak, sudah sejak dia kalah nyalon lurah otaknya jadi rada miring. Bayangkan dua sapi dan sepuluh kambing dihabiskan untuk pencalonannya, tapi semua hilang tak berbekas karena ia kalah. Lik Ngatman mengaku kader partai berlambang kepala banteng (dulu) sekarang tambah moncong putih.

Dia selalu berpakaian safari yang warnanya sudah tak jelas apakah coklat atau hijau. Kopiahnya juga sudah tak berwarna hitam lagi. Boleh dibilang  buluk. Dia selalu berjalan kaki kemana saja. Entah bagaimana kadang ia bisa sampai ke Jakarta apakah naik kereta atau berjalan kaki. Karena selama di Jakarta ia blas jalan kaki.

“Aku habis nerima wangsit dari Kang Moho Kuoso….” suara lantangnya sering membuat aku terkekeh. “Wangsit opo meneh to Lik…” kataku. Diapun membuka map warna hijau yang juga sudah sobek di sana-sini. Selembar kertas beraksara Jawa dia keluarkan. Matek aku. Itu tulisan aksara Jawa yang sudah lama sekali aku tak pelajari.

Tapi dia dengan lancar membacakan wangsit-wangsit yang biasanya ya tentang kepemimpinan negeri ini. Kala itu dia kerap menerima wangsit tentang Megawati Soekarnoputri. Katanya, Mbak Mega itu perempuan pinilih yang bakal mimpin bangsa ini ke kejayaan.

Dia selalu sesumbar sudah ketemu Mbak Mega meski aku tahu itu tak pernah dilakukannya. Tapi aku yo kok seneng aja mendengar ocehannya yang kadang nyeleweng dari otak kita yang waras-waras ini.

Boleh jadi ocehannya itulah yang membuat saya kadang kangen juga dengan kehadirannya. Tapi seperti ibu bilang tadi, kok Lik Ngatman dah gak datang lagi ke rumah. Ya mungkin sudah 12 purnama ini tak ada kabar beritanya.

Saya pun bertanya-tanya, apakah Lik Ngatman kecelakaan atau kenapa-napa di rimba Jakarta yang tak ramah ini. Keluarga kami memang pernah trauma dengan kehilangan seorang saudara yang meninggal karena ditabrak lari di Jakarta. Kami mengetahuinya justru ketika detik-detik akhir menjelang ia akan dimakamkan massal di ujung timur Jakarta.

Beruntung kami masih bisa menyelamatkan mayatnya dan membawanya kembali ke Jawa. Mas Wardoyo nama saudara kami itu, orang yang berani memetik kelapa yang tinggi-tinggi di kebun keluarga kami.

Ibu masih bertanya-tanya kenapa Lik Ngatman tak lagi mampir di rumah kami. “Nek wis mati kan mesti ono beritane….”

kepik

 

Seekor kepik merah hitam terbang lalu hinggap didaun yang  hampir tandas. Sebentar sayapnya terbuka sebentar tertutup, lukisan merah hitam di atasnya muncul tenggelam. Dia mencari kutu daun yang berlari menghindar ke balik daun.

Kumbang tutul tak menyera,  sedetik ia melompat berpura menjauh menanti si kutu muncul lalu hinggap lagi. Daun tak merasa teganggu dengan irama kepakan sayap kepik. Dia hanya bergoyang-goyang sebentar berdansa dengan angin.

Kita berdua juga berdansa mengikuti irama kepik. Tanganmu erat meremas jemariku. Lalu kita rebah di rerumputan. Kepik itu terbang menjauhi dedaunan, ia terbang di atas kita. Merah hitam sayapnya menjadi lukisan pandangan.

Kamu berandai-andai kelak anak kita bagai kepik yang mungil, lincah, dan pandai menghibur kita. Lalu kita saling berpandangan. Dan petang menjelang, kunang-kunang datang menggentikan kepik yang hilang. Kita masih di sini. Di atas rerumputan yang lengang.

Halaman Berikutnya »


Wajah

Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

Today’s Quote

"Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

Corong

logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

 

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031