Seekor kepik merah hitam terbang lalu hinggap didaun yang hampir tandas. Sebentar sayapnya terbuka sebentar tertutup, lukisan merah hitam di atasnya muncul tenggelam. Dia mencari kutu daun yang berlari menghindar ke balik daun.
Kumbang tutul tak menyera, sedetik ia melompat berpura menjauh menanti si kutu muncul lalu hinggap lagi. Daun tak merasa teganggu dengan irama kepakan sayap kepik. Dia hanya bergoyang-goyang sebentar berdansa dengan angin.
Kita berdua juga berdansa mengikuti irama kepik. Tanganmu erat meremas jemariku. Lalu kita rebah di rerumputan. Kepik itu terbang menjauhi dedaunan, ia terbang di atas kita. Merah hitam sayapnya menjadi lukisan pandangan.
Kamu berandai-andai kelak anak kita bagai kepik yang mungil, lincah, dan pandai menghibur kita. Lalu kita saling berpandangan. Dan petang menjelang, kunang-kunang datang menggentikan kepik yang hilang. Kita masih di sini. Di atas rerumputan yang lengang.

0 Tanggapan ke “kepik”