Lik Ngatman

“Lik Ngatman opo wis meninggal yo…” Ibu berceloteh sambil mengulek sambel pedas kesukaannya. Urat tangannya yang berwarna biru itu menonjol di sana-sini, dia tampak lelah tapi masih tetap mengingat lik Ngatman.

Lik Ngatman adalah seorang saudara kami di kampung. Saya juga tak tahu bagaimana silsilahnya hingga ia bisa menjadi saudara kami. Yang pasti, rumah yang selalu dijujuknya jika ke Jakarta ya rumah kami. Lik Ngatman bukan seorang yang istimewa, tapi kehadirannya kadang nganeni.

Pria paruh baya itu sesekali datang ke Jakarta dan selalu mampir di rumah kami. Di rumah kami, dia terlihat senang karena keberadaannya selalu dianggap. Maklum, Lik Ngatman mengidap penyakit syaraf. Ah, tapi tak ada satupun rekomendasi dokter dari rumah sakit jiwa di dekat kampung kami.

Kata bapak, sudah sejak dia kalah nyalon lurah otaknya jadi rada miring. Bayangkan dua sapi dan sepuluh kambing dihabiskan untuk pencalonannya, tapi semua hilang tak berbekas karena ia kalah. Lik Ngatman mengaku kader partai berlambang kepala banteng (dulu) sekarang tambah moncong putih.

Dia selalu berpakaian safari yang warnanya sudah tak jelas apakah coklat atau hijau. Kopiahnya juga sudah tak berwarna hitam lagi. Boleh dibilang  buluk. Dia selalu berjalan kaki kemana saja. Entah bagaimana kadang ia bisa sampai ke Jakarta apakah naik kereta atau berjalan kaki. Karena selama di Jakarta ia blas jalan kaki.

“Aku habis nerima wangsit dari Kang Moho Kuoso….” suara lantangnya sering membuat aku terkekeh. “Wangsit opo meneh to Lik…” kataku. Diapun membuka map warna hijau yang juga sudah sobek di sana-sini. Selembar kertas beraksara Jawa dia keluarkan. Matek aku. Itu tulisan aksara Jawa yang sudah lama sekali aku tak pelajari.

Tapi dia dengan lancar membacakan wangsit-wangsit yang biasanya ya tentang kepemimpinan negeri ini. Kala itu dia kerap menerima wangsit tentang Megawati Soekarnoputri. Katanya, Mbak Mega itu perempuan pinilih yang bakal mimpin bangsa ini ke kejayaan.

Dia selalu sesumbar sudah ketemu Mbak Mega meski aku tahu itu tak pernah dilakukannya. Tapi aku yo kok seneng aja mendengar ocehannya yang kadang nyeleweng dari otak kita yang waras-waras ini.

Boleh jadi ocehannya itulah yang membuat saya kadang kangen juga dengan kehadirannya. Tapi seperti ibu bilang tadi, kok Lik Ngatman dah gak datang lagi ke rumah. Ya mungkin sudah 12 purnama ini tak ada kabar beritanya.

Saya pun bertanya-tanya, apakah Lik Ngatman kecelakaan atau kenapa-napa di rimba Jakarta yang tak ramah ini. Keluarga kami memang pernah trauma dengan kehilangan seorang saudara yang meninggal karena ditabrak lari di Jakarta. Kami mengetahuinya justru ketika detik-detik akhir menjelang ia akan dimakamkan massal di ujung timur Jakarta.

Beruntung kami masih bisa menyelamatkan mayatnya dan membawanya kembali ke Jawa. Mas Wardoyo nama saudara kami itu, orang yang berani memetik kelapa yang tinggi-tinggi di kebun keluarga kami.

Ibu masih bertanya-tanya kenapa Lik Ngatman tak lagi mampir di rumah kami. “Nek wis mati kan mesti ono beritane….”

0 Tanggapan ke “Lik Ngatman”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan




Wajah

Tentang seorang yang ingin berbagi tentang apa saja

Today’s Quote

"Justice and freedom for Palestinians is the key that will open this door." Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dalam surat terbukanya pada Presiden AS Barack Hussein Obama menanggapi pernyataan Obama bahwa dia akan memperbaiki hubungan dunia Islam.

Corong

logobg2wday YUK RAMAI-RAMAI KE B2W DAY 29 AGUSTUS 2008

 

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031