Rinai itu kini sepi. Tak ada lagi cerita-cerita yang mengiringinya. Dia jatuh pada daun yang mati. Bulirnya terlihat coklat menerawang memancarkan cahaya yang redup di kejauhan. Tak seperti malam-malam sebelumnya yang mengurai rinai dengan mimpi-mimpi. Malam ini rinai sendiri.
Wajah yang terjatuh diantara rintiknya jelas membuat malam terasa seperti teriris. Malam sengaja menutup bintang agar rinai tetap datang walau dengan tangisan-tangisan. Tapi malam tak bisa menggapai rinai yang terkulai jatuh ke tanah. Dia memercik, mengeluarkan bunyi “tik” lalu hilang.
Bunyi “tik” itu menyengat malam. Dia seperti tergugah seperti tanah yang muncrat lalu jatuh lagi. Percikannya itu terasa hingga sekarang. Membuat malam dan rinai akhirnya sepi. Seperti sebuah kutukan yang datang terlampau telat.
Baru kali itu rinai merasa dihianati. Malam tak datang saat ia hendak turun. Padahal sepasukan rindu telah disiapkan untuk memeluk malam. “Apakah kau takut jika bintang-bintang menuduh kita telah bersiasat licik untuk memadamkannya?”
Malam terdiam. Rinai tak mau berhenti menghantam. Suara tik nya makin banyak. Bahkan ketika malam hendak menutup diri berganti pagi suara tik itu terus menghujam malam. Belum lagi sekawanan guntur dibawa rinai untuk menggedor-gedor malam. Tapi waktu tak bisa dibendung rinai.
Sedetik demi sedetik malam berganti. Rinai terus meratap. Dia menumpahkan dirinya sebanyak mungkin. Pagi itu rinai kehilangan malam. Dia menjadi siklus yang akan dihadapinya dalam 24 jam ke depan.
“Sejak awal aku sanksi malam akan setia menemani………”

Komentar Terakhir